World of Warcraft: Forever Bawa Dukungan Gamepad, Tapi Konsol Tetap Jauh Panggang dari Api
Baca dalam 60 detik
- Blizzard resmi menghadirkan dukungan gamepad di World of Warcraft: Forever, namun menegaskan tidak ada rencana membawa MMO ini ke konsol.
- Uji coba beta menunjukkan kontrol gamepad yang mulus untuk pertempuran, tetapi antarmuka berbasis jendela tetap canggung dan jauh dari kata nyaman.
- Keputusan ini menyoroti trade-off antara memperluas aksesibilitas dan mempertahankan identitas PC yang sudah tertanam kuat selama dua dekade.

Blizzard Entertainment memastikan bahwa World of Warcraft: Forever—versi remaster dari WoW klasik—tidak akan melangkah ke konsol, meskipun pembaruan ini menghadirkan dukungan gamepad resmi untuk pertama kalinya. Kepastian itu disampaikan langsung oleh pengembang di ajang BlizzCon, menjawab spekulasi yang mencuat setelah fitur tersebut diumumkan. Alih-alih membuka pintu ke PlayStation atau Xbox, langkah ini justru menegaskan posisi WoW sebagai permainan PC yang sulit dipindahkan begitu saja.
Dukungan gamepad di Forever sejatinya bukan sekadar pelengkap. Berdasarkan pengujian beta, pemetaan skill ke tombol arah dan tombol muka, ditambah kombinasi trigger untuk mengakses set skill tambahan, mampu menampung hingga 32 kemampuan. Mekanisme penargetan musuh dan sekutu juga berjalan lancar, bahkan dianggap setara dengan mouse dan keyboard dalam situasi pertempuran intens seperti battleground atau raid. Namun, di balik kenyamanan itu, ada masalah struktural yang lebih dalam: antarmuka WoW yang dibangun di atas sistem jendela dan klik kanan kontekstual.
Blizzard memang telah berupaya keras mengakali keterbatasan ini. Menu opsi memunculkan roda pemilih untuk peta, log misi, lembar karakter, tas, buku sihir, dan lainnya. Perpindahan fokus antar jendela bisa dilakukan dengan trigger, sementara tab dipilih lewat bumper. Meski fungsional, interaksi ini terasa kaku dan tidak elegan—sebuah tambalan yang jelas, bukan desain yang lahir dari kebutuhan gamepad. Pengembang bahkan harus menyediakan sub-menu tambahan karena tombol yang tersedia tidak cukup untuk meniru fleksibilitas klik kanan.
Perbandingan dengan Final Fantasy 14 pun tak terhindarkan. MMO besutan Square Enix itu memang dirancang sejak awal untuk konsol, sehingga navigasi menu dan kontrol terasa menyatu. WoW, sebaliknya, tumbuh besar sebagai game PC dengan kompleksitas sistem yang mengakar pada mouse dan keyboard. Menurut pengamat industri, perbedaan filosofi desain inilah yang membuat porting ke konsol bukan sekadar urusan teknis, melainkan perombakan total yang berisiko mengubah pengalaman inti.
"Jika versi konsol WoW pernah benar-benar layak, kita sudah memainkannya bertahun-tahun lalu," ujar seorang pengembang yang enggan disebutkan namanya, menggambarkan betapa sulitnya menyesuaikan game ini dengan controller.
Bagi pemain di Indonesia, keputusan ini membawa implikasi tersendiri. Komunitas WoW Tanah Air mayoritas mengandalkan PC rakitan atau laptop, dengan sebagian besar mengakses game melalui langganan bulanan. Kehadiran dukungan gamepad justru membuka peluang bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas atau ingin bermain santai dari sofa. Namun, tanpa versi konsol, pasar gim konsol yang tumbuh pesat di Indonesia—didominasi PlayStation dan Xbox—tetap tidak tersentuh. Ini bisa menjadi celah bagi pesaing seperti Final Fantasy 14 yang sudah lebih dulu merambah platform tersebut.
Ke depan, Blizzard berjanji akan terus menyempurnakan dukungan gamepad, meski kecil kemungkinannya menjadi mode utama. Jika suatu saat WoW benar-benar hadir di konsol, itu akan menjadi lompatan besar yang mengubah lanskap MMO. Namun untuk sekarang, pemain PC tetap menjadi prioritas, dan gamepad hanyalah opsi tambahan—bukan pintu gerbang menuju audiens baru. Akankah Blizzard bertahan dengan pendekatan konservatif ini, atau justru terpaksa beradaptasi dengan tren lintas platform yang kian menguat?



