Aftershock PC Luncurkan Cherry Bloom: PC Gaming Rp200 Juta dengan Bunga Titanium yang Mekar Saat Panas
Baca dalam 60 detik
- Aftershock PC merilis Cherry Bloom, PC gaming edisi terbatas dengan 70 bunga titanium yang membuka secara pasif saat suhu naik, dijual AU$19.995 (sekitar Rp200 juta).
- Harga tersebut didominasi oleh seni dan pendinginan custom, bukan komponen elektronik, karena GPU yang digunakan RTX 5080, bukan RTX 5090.
- Ketersediaan internasional belum dipastikan, sehingga pasar Indonesia kemungkinan hanya bisa mengaksesnya melalui importir khusus atau jalur kolektor.

Aftershock PC, produsen komputer asal Australia, memperkenalkan Cherry Bloom, sebuah PC gaming yang menggabungkan seni mekanis dengan perangkat keras kelas atas. Yang membedakannya dari rakitan konvensional adalah 70 bunga titanium yang dipahat tangan dan dipasang di dalam casing kaca, yang akan mekar secara otomatis ketika suhu sistem meningkat. Harga yang dipasang mencapai AU$19.995 atau setara US$14.200 (sekitar Rp200 juta) sebelum biaya pengiriman, menjadikannya salah satu PC gaming paling mahal yang pernah dipasarkan secara komersial.
Mekanisme bunga tersebut sepenuhnya pasif: tidak ada motor, aktuator, atau perangkat lunak yang mengendalikannya. Gerakan membuka dan menutup sepenuhnya dipicu oleh perubahan suhu internal PC. Saat bermain game berat, panas dari CPU dan GPU membuat kelopak titanium mengembang; ketika sistem mendingin, kelopak kembali menutup. Meski demikian, belum ada penjelasan rinci dari pihak Aftershock mengenai rekayasa di balik mekanisme ini, dan belum ada pengujian independen soal daya tahan jangka panjangnya.
Dari sisi spesifikasi, Cherry Bloom tidak sepenuhnya menggunakan komponen puncak. GPU yang dipasang adalah Zotac GeForce RTX 5080 SOLID OC White Edition dengan 16GB VRAM, bukan RTX 5090 yang lebih tinggi. Prosesor yang digunakan adalah Ryzen 7 9800X3D, yang memang termasuk kelas atas untuk gaming. Sistem pendinginnya berupa open-loop liquid cooling custom, dipadukan dengan PSU modular 1300W bersertifikat Platinum. Casing APNX V2 dengan kaca melengkung tiga sisi menampilkan patung titanium dan perangkat pendingin sebagai elemen visual utama.
Dengan harga tersebut, nilai jual Cherry Bloom lebih terletak pada aspek seni dan eksklusivitas. Biaya produksi mencakup 70 bunga titanium buatan tangan, konfigurasi pendingin custom, casing presentasi, dan tenaga kerja perakitan yang rumit. Komponen elektronik di dalamnya, jika dirakit secara standar, akan jauh lebih murah. Sebagai perbandingan, PC gaming dengan Ryzen 7 9800X3D dan RTX 5080 dapat dibangun dengan biaya kurang dari setengah harga Cherry Bloom.
Bagi konsumen di Indonesia, Cherry Bloom kemungkinan besar tidak akan tersedia secara resmi dalam waktu dekat. Aftershock PC hanya memasarkannya melalui toko daring di Australia, dan belum ada informasi mengenai distribusi internasional. Jika ada permintaan, importir khusus atau kolektor mungkin akan mendatangkannya dengan biaya tambahan yang signifikan. Pajak impor dan bea masuk untuk barang mewah di Indonesia juga akan menambah harga akhir, sehingga totalnya bisa jauh lebih tinggi dari harga di Australia.
"Ini bukan sekadar PC, tapi karya seni yang bisa berfungsi. Namun, untuk pasar Indonesia, harga dan ketersediaannya akan menjadi hambatan utama," ujar seorang pengamat teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Selain itu, tidak ada data benchmark independen untuk konfigurasi Cherry Bloom ini. Performa yang diharapkan hanya didasarkan pada spesifikasi komponen, bukan hasil pengujian langsung. Hal ini menjadi catatan penting bagi calon pembeli yang mengutamakan performa murni. Bagi kolektor dan penggemar berat yang menginginkan PC sebagai dekorasi ruangan, Cherry Bloom menawarkan daya tarik unik. Namun, bagi gamer yang mencari nilai terbaik, ada banyak alternatif dengan harga lebih rasional.
Ke depannya, langkah Aftershock ini bisa memicu tren PC custom dengan elemen mekanis atau artistik lainnya. Apakah produsen lain akan mengikuti jejak serupa, atau ini hanya eksperimen terbatas? Yang jelas, batas antara perangkat keras dan karya seni semakin kabur, dan konsumen kelas atas mungkin akan semakin sering disuguhi produk semacam ini.



