Wagub DKI Tanggapi Usul CFD Dua Hari: Menarik, tapi Sabtu Masih Jadi Kendala
Baca dalam 60 detik
- Wagub DKI Rano Karno menilai usulan CFD dua hari pada akhir pekan layak dipertimbangkan, namun operasional kantor pada Sabtu menjadi penghambat utama.
- Fraksi PKS DPRD DKI mengusulkan uji coba 2โ3 bulan sebelum keputusan permanen, sementara Menteri Lingkungan Hidup dan Gubernur Pramono Anung sudah membahas wacana ini secara internal.
- Jika terealisasi, kebijakan ini berpotensi menurunkan emisi Jakarta sekaligus mengubah pola mobilitas akhir pekan, tetapi memerlukan kajian dampak ekonomi dan transportasi.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyatakan usulan pelaksanaan Car Free Day (CFD) selama dua hari pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, sebagai gagasan yang menarik. Namun, ia menekankan perlunya pertimbangan matang lantaran masih banyak aktivitas perkantoran yang berjalan pada Sabtu. Pernyataan itu disampaikan Rano usai menghadiri acara di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (23/9).
Menurut Rano, pengalaman kebijakan pemadaman lampu selama satu jam yang mampu menekan emisi menjadi contoh bahwa langkah serupa bisa efektif. "Itu ide menarik, seperti saat kita mematikan lampu selama satu jam. Itu salah satu cara menurunkan emisi. Tapi harus dipertimbangkan karena banyak faktor," ujarnya. Ia lantas membandingkan hari Minggu yang dinilai lebih mudah karena minim kegiatan kantor, sedangkan Sabtu masih menyisakan operasional kerja.
Meski demikian, Rano tidak melihat penerapan CFD pada Sabtu sebagai hal yang sulit. Ia mencontohkan durasi CFD yang relatif singkat, yakni sekitar pukul 06.00 hingga 09.00, sehingga tidak mengganggu secara signifikan. "Sebenarnya tidak sulit. Hanya sebentar, sama seperti CFD pagi yang selesai jam sembilan. Tapi itu cukup efektif," katanya. Politikus PDIP itu juga mengaku pernah mengusulkan konsep Car Free Night untuk menekan emisi karbon dan gas rumah kaca di Jakarta.
Usulan CFD dua hari pertama kali mencuat dari Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, M. Taufik Zoelkifli, pada Minggu (20/9). Ia menyarankan uji coba selama dua hingga tiga bulan sebelum kebijakan permanen ditetapkan. "Saran saya, kita uji coba dulu dalam 3 bulan atau 2 bulan, CFD dua hari Sabtu-Minggu," kata Taufik. Gagasan ini kemudian mendapat respons dari Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, yang mendorong percepatan perbaikan kualitas udara Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan usulan tersebut cukup rasional dan telah dibahas di lingkungan Balai Kota. "Usulan itu cukup rasional, maka di internal Balai Kota kami sudah melakukan pembahasan. Nanti pada saatnya tentu kita putuskan," ujar Pramono, Jumat (11/9). Pernyataan itu menandakan bahwa wacana ini tengah memasuki tahap kajian serius, meski belum ada tenggat waktu pasti kapan keputusan akan diambil.
"Kalau Minggu itu pasti gampang. Kalau Sabtu kan, maaf, mungkin masih ada operasional, ke kantor. Tapi sebetulnya enggak susah, ini kan cuma dan enggak lama." โ Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta
Dari kacamata kebijakan publik, perluasan CFD ke dua hari berpotensi memberikan dampak ganda. Di satu sisi, penambahan hari bebas kendaraan dapat memperbaiki kualitas udara Jakarta yang kerap masuk kategori tidak sehat. Di sisi lain, kebijakan ini berisiko mengganggu mobilitas pekerja dan pelaku usaha di kawasan yang terdampak, terutama pada Sabtu yang masih merupakan hari kerja bagi sebagian sektor. Kajian dampak ekonomi, transportasi, dan lingkungan perlu disiapkan sebelum uji coba dimulai.
Sejumlah pengamat tata kota menilai bahwa keberhasilan CFD dua hari sangat bergantung pada kesiapan alternatif rute dan moda transportasi publik. Tanpa itu, kebijakan hanya akan memindahkan kemacetan ke ruas jalan lain. Selain itu, partisipasi warga dan pelaku usaha di sekitar area CFD menjadi kunci agar kebijakan tidak menuai penolakan. Pemerintah Provinsi DKI disebut perlu melibatkan berbagai pihak dalam proses uji coba, termasuk evaluasi berkala setiap bulan.
Jika terealisasi, Jakarta akan menjadi salah satu kota di Asia Tenggara yang menerapkan hari bebas kendaraan selama dua hari berturut-turut. Langkah ini sejalan dengan tren global kota-kota besar yang memperluas ruang publik bebas emisi untuk mendorong gaya hidup sehat dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Namun, tantangan terbesar tetap pada penegakan aturan dan konsistensi pelaksanaan di lapangan.
Ke depan, publik menanti apakah Pemprov DKI akan segera mengumumkan jadwal uji coba atau masih akan menimbang berbagai masukan. Keputusan ini akan menjadi ujian bagi pemerintah daerah dalam menyeimbangkan ambisi lingkungan dengan realitas ekonomi warga. Akankah CFD dua hari menjadi terobosan baru, atau justru menuai polemik di tengah kesibukan ibu kota?



