YouTube Perluas Belanja Afiliasi ke 35 Negara dan Rilis Editor AI Gemini
Baca dalam 60 detik
- YouTube mengumumkan perluasan program afiliasi belanja ke 35 negara dan peluncuran alat editing berbasis AI Gemini untuk kreator.
- Langkah ini memperkuat posisi YouTube dalam ekosistem ekonomi kreator, bersaing dengan TikTok dan Instagram dalam adopsi AI.
- Kreator Indonesia berpotensi memanfaatkan fitur ini untuk meningkatkan pendapatan, namun perlu menyesuaikan dengan regulasi lokal.

YouTube resmi mengumumkan serangkaian pembaruan besar dalam acara tahunan Made on YouTube, Rabu (waktu setempat). Perusahaan yang dimiliki Alphabet itu memperluas jangkauan program afiliasi belanja ke 35 negara dan menghadirkan alat editing berbasis kecerdasan buatan (AI) Gemini bagi para kreator. Langkah ini menandai babak baru persaingan platform video dengan TikTok dan Instagram dalam memperebutkan hati kreator konten.
Ekspansi program afiliasi belanja menjadi sorotan utama. YouTube menargetkan 35 negara sebelum akhir tahun, naik signifikan dari cakupan saat ini. Platform ini telah memiliki lebih dari 1,3 juta kreator terdaftar dalam program tersebut. Menariknya, produk Amazon akan segera dapat ditandai oleh kreator di India dan Brasil, dengan tag yang menampilkan penawaran terlokalisasi sesuai lokasi penonton. Langkah ini membuka peluang pendapatan baru bagi kreator di pasar berkembang, sekaligus memperkuat posisi YouTube sebagai mesin belanja berbasis konten.
Di sisi editing, YouTube memperkenalkan alat editing konversasional untuk Shorts dan aplikasi YouTube Create, yang ditenagai Gemini. Alat ini memandu kreator melalui proses editing, termasuk memangkas jeda dan mengatur ulang klip untuk ritme yang lebih baik. YouTube Studio juga mendapat fitur baru: umpan balik pada draf awal, pembuatan thumbnail yang sesuai gaya channel, dan uji A/B hingga tiga versi video untuk mengukur retensi audiens. Mulai 2027, kemampuan uji A/B akan diperluas ke Shorts. Fitur Dynamic Thumbnails memungkinkan kreator mengirim beberapa gambar thumbnail dan membiarkan sistem YouTube memilih versi mana yang dilihat setiap penonton. Asisten AI Ask Studio juga hadir di aplikasi mobile.
Platform ini juga tengah menguji sistem moderasi komentar AI sukarela yang mempelajari kebiasaan masing-masing kreator. YouTube akan menggabungkan deteksi suara dan wajah dalam alat perlindungan citra untuk meningkatkan akurasi pencocokan, dengan deteksi citra hadir di perangkat mobile. Selain itu, YouTube berencana menguji live auto-dubbing pada awal 2027, fitur yang mengubah ucapan kreator ke bahasa lain secara langsung agar audiens dapat mengikuti dalam bahasa mereka sendiri. Fitur Live Showdowns memungkinkan kreator menggabungkan siaran untuk siaran kompetitif, dengan penonton dapat mengirim Super Chats untuk mendukung kreator favorit.
Bagi penonton, YouTube memperkenalkan Custom Feeds untuk pengguna AS di web, mobile, dan TV, yang memungkinkan pembuatan tab beranda personal menggunakan perintah konversasional. Fitur Ask YouTube menambahkan kueri belanja, termasuk tabel perbandingan produk dan pertanyaan lanjutan di dalam halaman tonton video. Shorts juga akan mendapatkan format seri yang memungkinkan kreator mengorganisasi klip ke dalam musim dan episode, fitur yang mulai diluncurkan pada Rabu.
"Kami ingin memastikan setiap kreator, di mana pun mereka berada, memiliki alat untuk berkembang dan menghasilkan," ujar seorang eksekutif YouTube dalam acara tersebut, seperti dikutip Reuters.
Perkembangan ini memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem kreator Indonesia. Dengan perluasan afiliasi belanja, kreator Tanah Air berpeluang mengakses pasar global dan meningkatkan pendapatan melalui tautan produk. Namun, mereka perlu menyesuaikan diri dengan regulasi perdagangan elektronik lokal dan kebijakan pajak yang berlaku. Selain itu, adopsi alat AI Gemini dapat mempercepat produksi konten, tetapi juga menuntut keterampilan baru dalam mengoperasikan teknologi tersebut. Persaingan dengan platform lain seperti TikTok Shop yang telah lebih dulu populer di Indonesia akan menjadi tantangan tersendiri.
Ke depan, langkah YouTube ini mempertegas arah industri menuju integrasi AI dan e-commerce dalam platform konten. Pertanyaannya, akankah kreator Indonesia mampu memanfaatkan peluang ini secara maksimal, atau justru tertinggal karena keterbatasan infrastruktur dan literasi digital? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi persiapan sejak dini menjadi kunci.



