Xiaomi 18 Pro dan Pro Max Resmi: Chip 2nm, Layar Privasi, Baterai Jumbo
Baca dalam 60 detik
- Xiaomi memperkenalkan duo flagship 18 Pro dan 18 Pro Max di China, masing-masing mengusung Snapdragon 8 Elite Gen 6 dan Extreme Gen 6 berbasis fabrikasi 2nm.
- Keduanya memiliki layar belakang fungsional, sistem kamera Leica identik, dan baterai berkapasitas besar, namun varian Pro Max dibanderol lebih mahal.
- Peluncuran global dan harga resmi di luar China masih menunggu konfirmasi, sementara efektivitas fitur privasi dan daya tahan baterai perlu diuji independen.

Xiaomi secara resmi meluncurkan Xiaomi 18 Pro dan Xiaomi 18 Pro Max di China pada 23 September 2026. Ponsel ini menjadi perangkat pertama yang mengusung chip Snapdragon 8 Elite Gen 6 untuk varian Pro, sedangkan Pro Max mendapatkan Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6. Keduanya diklaim sebagai platform flagship berbasis proses manufaktur 2nm, meski hasil benchmark independen belum tersedia.
Langkah Xiaomi ini menandai babak baru persaingan di segmen premium. Jika sebelumnya diferensiasi antarvarian sering kali terletak pada konfigurasi kamera, kali ini Xiaomi justru menyamakan perangkat keras kamera di kedua model. Perbedaan utama terletak pada ukuran layar, kapasitas baterai, dan jenis chipset. Strategi ini dinilai menggarisbawahi upaya Xiaomi memperluas opsi bagi konsumen tanpa mengorbankan kualitas fotografi.
Dari sisi tampilan, Xiaomi 18 Pro mengusung panel LTPO AMOLED 6,4 inci dengan resolusi kelas 2K, sedangkan Pro Max melompat ke 6,9 inci. Keduanya mendukung refresh rate variabel 1–120Hz dan kecerahan puncak hingga 4.000 nits menurut klaim pabrikan—angka ini merujuk pada output maksimum, bukan kecerahan berkelanjutan di bawah sinar matahari langsung. Layar dilindungi kaca Dragon Crystal Glass 3.
Yang lebih menarik, Xiaomi menghadirkan layar sekunder di punggung ponsel. Xiaomi 18 Pro memiliki layar OLED 2,66 inci, sementara Pro Max mendapat panel 2,86 inci 120Hz. Layar ini tidak sekadar hiasan: pengguna dapat memanfaatkannya untuk membidik selfie dengan kamera utama, menjalankan wallpaper dan widget berbasis AI, serta berinteraksi dengan asisten Xiao AI. Beberapa mini app yang dilaporkan hadir antara lain pengingat minum air, timer merebus telur, dan alat resep—sinyal bahwa Xiaomi ingin menjadikan layar belakang sebagai platform fungsional.
Fitur privasi menjadi salah satu keunggulan yang diusung Xiaomi. Berbeda dari mode privasi berbasis perangkat lunak yang umum, implementasi Xiaomi dikabarkan bekerja pada level panel dengan mempersempit sudut pandang. Efeknya mirip dengan pelindung privasi pada laptop, namun tertanam langsung di layar. Xiaomi mengklaim fitur ini lebih dapat dikonfigurasi dibandingkan implementasi privasi Samsung Galaxy S26 Ultra, dengan pemicu berbasis lokasi dan kemampuan membatasi notifikasi, jendela mengambang, serta mode layar terbagi. Tombol AI khusus di sisi kiri disediakan untuk akses cepat. Namun, klaim ini masih perlu dibuktikan melalui pengujian independen, termasuk dampaknya terhadap kecerahan dan konsumsi daya.
Soal daya tahan, Xiaomi 18 Pro membawa baterai 7.000mAh—naik 11% dari generasi sebelumnya—sedangkan Pro Max memiliki 8.500mAh, meningkat 13%. Keduanya mendukung pengisian kabel 100W. Untuk pengisian nirkabel, laporan menyebut angka 50W di beberapa sumber dan 27W di sumber lain; konsumen disarankan menunggu spesifikasi resmi Xiaomi. Perlu dicatat, perangkat keras kamera kedua model identik, sehingga premium Pro Max sejatinya membeli layar lebih besar, baterai lebih besar, dan chipset varian tertinggi, bukan sistem kamera berbeda. Keduanya menjalankan HyperOS 4 dan memiliki rating IP69 (tahan debu dan semburan air bertekanan tinggi).
"Kami ingin layar belakang menjadi lebih dari sekadar aksesori visual. Ini adalah langkah awal menuju interaksi yang lebih kaya," ujar seorang juru bicara Xiaomi dalam sesi peluncuran, seperti dikutip dari liputan media.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Xiaomi 18 Pro dan Pro Max berpotensi mengguncang segmen flagship tanah air. Xiaomi dikenal agresif dalam menghadirkan perangkat dengan spesifikasi tinggi dan harga kompetitif. Jika masuk secara resmi, duo ini akan bersaing ketat dengan Samsung Galaxy S系列 dan iPhone generasi terbaru. Namun, harga internasional belum diumumkan, dan fitur layar privasi mungkin memerlukan penyesuaian regulasi. Selain itu, konsumen Indonesia perlu mencermati apakah layar belakang akan mendapat dukungan aplikasi lokal yang memadai.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya soal spesifikasi, melainkan apakah inovasi layar belakang dan privasi ini benar-benar berguna dalam pemakaian sehari-hari. Xiaomi perlu membuktikan bahwa daya tahan baterai sesuai klaim, fitur privasi tidak mengorbankan kecerahan, dan mini app di layar sekunder mampu bertahan lebih dari sekadar demo. Tanpa itu, premium Pro Max mungkin sulit dibenarkan di mata konsumen global.



