Brad Pitt: Sinema Independen Justru Bangkit di Tengah Dominasi Streaming
Baca dalam 60 detik
- Brad Pitt menegaskan bahwa film independen kini berada di fase keemasan yang setara dengan era 1990-an.
- Ia menilai platform streaming membuka jalan bagi karya berani yang tak dilirik studio besar.
- Sutradara David Ayer menyoroti munculnya pembuat film baru dari YouTube dan internet sebagai tanda kebangkitan ekosistem indie.

Aktor senior Hollywood Brad Pitt menyatakan bahwa sinema independen saat ini berada dalam kondisi yang sama kuatnya dengan era 1990-an, bertentangan dengan prediksi banyak pihak yang menganggap streaming akan mematikan film layar lebar. Pernyataan itu disampaikannya di Festival Film San Sebastian, Spanyol, tempat ia hadir untuk mempromosikan proyek terbarunya.
Pitt, yang mendirikan rumah produksi Plan B Entertainment pada 2001, menilai lanskap industri saat ini justru memberi ruang lebih luas bagi film independen untuk ditemukan penonton. "Saya rasa tatanan yang ada sekarang sangat kondusif untuk film independen, karena lebih banyak mata yang melihat proyek-proyek ini. Rasanya sekuat era 90-an," ujarnya, seperti dikutip dari sumber internasional.
Pandangan tersebut diperkuat oleh sutradara David Ayer, yang menyutradarai Heart of the Beast. Ayer menyebut ada jalur penemuan baru bagi para auteur muda, banyak di antaranya datang dari platform seperti YouTube dan internet. "Kami melihat orang-orang masuk dari YouTube atau internet, dan sekarang kami menyaksikan pendakiannya. Mereka punya selera yang sangat berbeda dan tumbuh dengan cara mengonsumsi media yang berbeda," kata Ayer. Ia menambahkan bahwa generasi baru ini membawa cerita dan peluang yang membuatnya antusias.
Dalam wawancara terpisah dengan majalah Far Out, Pitt mengaku bersyukur atas kehadiran layanan streaming. Menurutnya, platform seperti Netflix memungkinkan materi yang berani dan tidak berani dipertaruhkan studio besar untuk tetap diproduksi. "Saya melihat materi yang berani, yang tidak mampu dipertaruhkan studio. Lewat streaming, seniman yang bisa bertaruh. Sinema makin direduksi menjadi tontonan spektakel, tapi saya melihat karya yang menggugah pemikiran seperti The Two Popes," ujarnya.
Pitt juga menekankan pentingnya beradaptasi dengan teknologi baru alih-alih meratapi masa lalu. Ia mengaku tidak menyesali berkurangnya penggunaan film seluloid dan justru mengagumi kemajuan teknologi digital. "Saya senang segala sesuatu terus berkembang. Mengeluh tidak akan berguna. Bekerjalah dengan apa yang ada," tuturnya. Baginya, pembuatan film adalah olahraga tim yang melibatkan banyak orang, dan kontribusi setiap individu bisa lebih baik atau lebih lemah dari yang diberikan di lokasi syuting.
Pernyataan Pitt ini muncul di tengah perdebatan global tentang masa depan bioskop. Di Indonesia, industri film independen juga menghadapi tantangan serupa: keterbatasan layar, dominasi film besar, dan perubahan perilaku penonton yang beralih ke platform digital. Namun, kehadiran layanan streaming lokal dan regional membuka peluang bagi sineas Indonesia untuk menjangkau audiens lebih luas tanpa harus bergantung pada distribusi teater konvensional. Festival film dan komunitas indie di kota-kota besar menjadi ruang alternatif untuk menemukan karya baru.
Jika tren yang diamati Pitt dan Ayer berlanjut, masa depan sinema mungkin tidak terletak pada layar raksasa semata, melainkan pada ekosistem yang lebih terdesentralisasi. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia siap menjadi bagian dari gelombang ini, atau justru tertinggal karena minimnya infrastruktur dan pendanaan? Waktu yang akan menjawab, tetapi adaptasi menjadi kata kunci.



