Lili Reinhart Ungkap Keira Knightley sebagai Pemicu Karier Akting, Kini Beralih ke Romcom
Baca dalam 60 detik
- Lili Reinhart mengaku terinspirasi Keira Knightley sejak usia 11 tahun, yang mendorongnya menekuni dunia akting.
- Aktris 30 tahun itu kini membintangi adaptasi novel Ali Hazelwood, The Love Hypothesis, dan berencana memperbanyak film romcom.
- Keputusan ini menandai pergeseran dari peran remaja menuju karakter dewasa yang lebih beragam.

Aktris Lili Reinhart mengungkapkan bahwa Keira Knightley memainkan peran besar dalam keputusannya menjadi aktris. Dalam wawancara dengan Interview magazine, Reinhart mengenang masa kecilnya saat terpesona oleh penampilan Knightley di berbagai film seperti Pride and Prejudice dan Atonement. "Segala hal yang dia lakukan, saya tonton saat berusia 11, 12 tahun, dan jatuh cinta pada gagasan menjadi aktor," ujarnya.
Reinhart, yang kini berusia 30 tahun, mengaku bahwa obsesinya terhadap Knightley—yang kini berusia 41 tahun—menjadi pemicu awal ambisinya di dunia seni peran. Ia berharap suatu saat bisa terlibat dalam proyek sebesar film-film yang dibintangi idolanya itu. "Itu akan terjadi pada akhirnya. Semoga," tambahnya.
Saat ini, Reinhart kembali ke genre komedi romantis melalui film The Love Hypothesis, adaptasi dari novel tahun 2021 karya Ali Hazelwood. Ia menjelaskan alasan menerima peran tersebut, terutama karena Hazelwood dikenal menulis banyak buku tentang perempuan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika). "Itu keren karena rom-com yang dulu dikirim ke saya selalu menampilkan perempuan dengan pekerjaan yang sama. Saya muak. Perempuan bisa melakukan lebih dari tiga hal itu," tegasnya.
Reinhart mengaku pertama kali membaca The Love Hypothesis saat berada di Festival Film Venesia. Ia mengaku terkesan dengan ceritanya meskipun biasanya tidak membaca buku bergenre romansa. "Saya suka buku Ali. Saya sedang di Venesia untuk festival film, jadi saya memiliki latar belakang romantis yang indah saat membacanya. Saya tidak membaca buku romance, tapi saya sangat menikmatinya dan mengejutkan diri saya sendiri," tuturnya kepada The Hollywood Reporter.
Sebelumnya, Reinhart sempat enggan kembali membintangi film romcom. Namun, pengalaman syuting Look Both Ways pada 2021 membuatnya berubah pikiran. "Saya belum melakukan rom-com selama beberapa tahun, tapi saya mengalami waktu terbaik saat syuting Look Both Ways, dan rasanya saya siap untuk melakukannya lagi. Karena saya menyukai bukunya, dinamika karakternya, dan alur yang lambat, saya yakin untuk mengambil proyek ini," jelasnya.
Reinhart juga menyatakan ketertarikannya untuk lebih banyak membintangi film romcom di tahun-tahun mendatang. Ia menyukai tipe pria seperti Mr. Darcy yang penuh kerinduan dan hubungan yang berkembang perlahan. "Saya menikmati sosok Mr. Darcy yang merindukan dan slow burn di antara keduanya. Saya suka kepuasan dari pembangunan yang lambat dan ketegangan romantis, itulah sebabnya saya sekarang sangat tertarik untuk melakukan lebih banyak romance setelah syuting film ini," ujarnya.
Bagi industri hiburan Indonesia, pernyataan Reinhart ini bisa menjadi cermin bahwa aktris muda juga mendambakan peran yang lebih variatif, tidak terjebak pada stereotip gender. Di tanah air, fenomena serupa terlihat ketika beberapa aktris mulai memilih proyek yang mengangkat isu perempuan dan sains, meski masih terbatas. Hal ini membuka peluang bagi rumah produksi untuk mengeksplorasi cerita yang lebih beragam, sejalan dengan permintaan pasar yang kian matang.
Ke depan, apakah Reinhart akan benar-benar konsisten menekuni genre romcom, atau justru kembali ke peran drama yang lebih berat? Publik menantikan langkah selanjutnya, terutama setelah The Love Hypothesis dirilis. Yang jelas, dedikasinya pada cerita yang memberi ruang bagi perempuan untuk tampil utuh patut diapresiasi.



