Kalshi Bantah Sedang Diselidiki CFTC: Pola Perdagangan Aneh Itu Wajar
Baca dalam 60 detik
- Kalshi menegaskan belum menerima kontak resmi dari CFTC dan menampik kabar penyelidikan formal atas aktivitas perdagangan di pasar prediksinya.
- Pola transaksi berukuran identik yang mencuat di pasar perpetual kripto disebut berasal dari program insentif likuiditas, bukan praktik curang.
- Pengawasan terhadap pasar prediksi diprediksi menguat seiring pertumbuhan volume, memunculkan pertanyaan tentang standar transparansi global termasuk di Indonesia.

Platform pasar prediksi Kalshi membantah laporan yang menyebutnya tengah diselidiki Commodity Futures Trading Commission (CFTC) terkait pola perdagangan tidak wajar di pasar perpetual kripto. Juru bicara Kalshi, Elisabeth Diana, menegaskan perusahaan belum dihubungi regulator dan tidak meyakini adanya pemeriksaan formal. "Kami belum dihubungi CFTC dan tidak percaya ada pemeriksaan formal," ujarnya dalam pernyataan resmi, seraya menambahkan bahwa pola data yang dipermasalahkan merupakan hal lumrah dalam program insentif likuiditas di pasar keuangan.
Pernyataan itu merespons laporan CoinDesk dan The Wall Street Journal yang mengungkap mayoritas volume perdagangan di pasar perpetual bitcoin dan ether Kalshi terdiri dari transaksi berukuran identik. Sebagian besar transaksi ether terkonsentrasi di angka sekitar US$5.500, sementara bitcoin didominasi nilai US$2.500 hingga US$5.000. WSJ bahkan menyebut CFTC sedang menelaah data tersebut sebelum memutuskan apakah akan membuka penyelidikan penegakan hukum.
Data itu pertama kali menarik perhatian Beni, salah satu pendiri firma riset Stealth Neolab. Ia menemukan volume 24 jam pasar perpetual ether Kalshi mencapai sekitar US$539 juta, tetapi open interest hanya US$3,1 juta. Lebih jauh, transaksi tepat US$5.500 menyumbang 48% hingga 58% dari volume notional pada empat hari di bulan September. Beni mengklaim angka tersebut berasal dari API publik Kalshi.
Diana menjelaskan pola tersebut dapat dijelaskan oleh program insentif likuiditas Kalshi, yang memberi imbalan kepada peserta yang menyediakan likuiditas. "Kami mengirim data ke mereka [CFTC] setiap hari, dan bukan hal aneh jika mereka meninjau data kami secara rutin," katanya dalam wawancara. Ia juga menepis spekulasi di media sosial. "Jangan percaya semua yang Anda baca di X. Banyak diskursus adalah rumor yang disebar pesaing," tegasnya. CFTC belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar hingga berita ini diturunkan.
Isu ini muncul ketika pasar prediksi tumbuh pesat, menarik perhatian pada cara platform melaporkan volume dan mengawasi aktivitas antarpartisipan. Program insentif likuiditas umumnya memberi imbalan kepada peserta yang memasang order, membantu menciptakan pasar tempat pelanggan lain dapat bertransaksi. Namun, praktik seperti wash trading—transaksi yang menciptakan ilusi aktivitas pasar tanpa perubahan eksposur ekonomi riil—menjadi perhatian regulator. Diana memastikan Kalshi memiliki "banyak alat" dan "tim pengawasan penuh" untuk mencegahnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa pengawasan pasar prediksi dan aset kripto akan semakin ketat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti tengah menyusun kerangka regulasi aset digital, termasuk potensi masuknya instrumen derivatif berbasis kripto. Jika pola perdagangan serupa muncul di platform domestik, regulator dituntut memiliki kemampuan audit data real-time dan standar pelaporan volume yang transparan. Pelaku pasar dalam negeri pun perlu mewaspadai risiko reputasi dan kepatuhan jika berencana mengadopsi model insentif likuiditas agresif.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah CFTC akan membuka penyelidikan formal, tetapi bagaimana pasar prediksi global membuktikan bahwa volume yang mereka laporkan mencerminkan aktivitas ekonomi riil, bukan sekadar ilusi likuiditas. Tanpa standar transparansi yang disepakati, kepercayaan investor—termasuk di Asia Tenggara—bisa menjadi taruhan.



