Survei: 78% Konsumen Menolak Robot Humanoid, Tapi Berubah Setelah Interaksi Langsung
Baca dalam 60 detik
- Survei terhadap 1.000 responden di AS dan Inggris menunjukkan 78% menolak robot humanoid, dengan Net Promoter Score -68.
- Pengalaman langsung mengubah sikap secara drastis: 88% dari mereka yang pernah berinteraksi menyatakan positif, dengan minat beli hampir tiga kali lipat.
- Meski dianggap tak terhindarkan dalam satu dekade, adopsi massal tetap bergantung pada paparan publik dan kepercayaan, bukan sekadar pemasaran.

Hanya 11% responden yang menyatakan sikap sangat positif terhadap robot humanoid, menurut survei terbaru terhadap 1.000 orang dewasa di Amerika Serikat dan Inggris. Angka itu menempatkan industri robot humanoid di posisi sulit: mereka telah mengumpulkan puluhan miliar dolar, tetapi calon pengguna justru mayoritas menolak.
Survei yang dilakukan melalui platform HumanoidMegaHub—melacak 380 produsen dan 861 model robot—mengungkap Net Promoter Score (NPS) untuk robot humanoid berada di level -68. Sebanyak 78% responden masuk kategori detraktor, sementara hanya 10% yang bersedia merekomendasikan. Secara keseluruhan, 40% responden merasa negatif, 33% positif, dan 27% netral. Minat beli rata-rata hanya 36 dari 100, dan bagi yang belum pernah menggunakan robot, angkanya turun menjadi 28.
Menariknya, sikap itu berbalik drastis begitu seseorang memiliki pengalaman langsung. Dari 7% responden yang rutin berinteraksi dengan robot humanoid, 88% menyatakan pengalaman positif, dan niat beli mereka hampir tiga kali lipat dibandingkan mereka yang belum pernah bersentuhan. Temuan ini menegaskan bahwa hambatan utama bukanlah harga, melainkan kepercayaan.
"Yang menonjol bagi saya adalah biaya bukan yang menahan orang ... kepercayaan yang menahan," ujar Tony Robinson, CEO Next Events & Conferences, mitra dalam proyek survei ini. "Itu masalah yang bisa dipecahkan, tetapi solusinya muncul di ruang publik, di lantai ritel, di perhotelan, dan demonstrasi langsung."
Survei juga menemukan kesenjangan gender dan usia yang lebar. Pria jauh lebih hangat terhadap robot humanoid: 43% positif berbanding 24% wanita, dengan niat beli 45 berbanding 29. Wanita hampir dua kali lebih mungkin bersikap negatif (47% vs 31%). Sementara itu, generasi muda 18–34 tahun mencatat 43% positif dan niat beli 42, sedangkan kelompok 55 tahun ke atas hanya 19% positif dan niat beli 24. Responden Inggris sedikit lebih ramah (39% positif) dibandingkan Amerika (28%).
Meski ragu, publik yakin robot humanoid akan segera hadir. Median responden memperkirakan robot humanoid menjadi pemandangan umum dalam 10 tahun, dan 42% memperkirakan dalam 5 tahun. Hanya 4% yang menduga butuh 50 tahun atau lebih. Namun pada setiap metrik persepsi, responden condong ke sisi skeptis: pada skala 1–5, robot dinilai 2,8 antara mengancam dan bermanfaat, 2,7 antara tidak aman dan aman, serta 2,6 antara tidak perlu dan esensial.
Preferensi penggunaan relatif jelas: pekerjaan berbahaya menempati urutan teratas, diikuti hiburan dan bantuan pribadi. Perawatan lansia juga masuk daftar, relevan bagi keluarga dengan anggota lanjut usia atau mereka yang ingin menua di rumah. Sementara itu, Dar Sleeper, kepala produk dan desain di 1X—salah satu dari sedikit orang yang pernah tinggal bersama robot humanoid canggih—mengatakan proses normalisasi hanya butuh beberapa menit. "Orang-orang tidak cukup menghargai kemampuan adaptasi manusia. Kita sangat adaptif," ujarnya.
Bagi Indonesia, gelombang robot humanoid ini menawarkan peluang sekaligus tantangan. Di sektor manufaktur dan logistik yang padat karya, adopsi robot dapat meningkatkan produktivitas tetapi juga memicu kekhawatiran displasi tenaga kerja. Pemerintah dan pelaku industri perlu menyiapkan regulasi ketenagakerjaan, standar keselamatan, serta program pelatihan ulang. Di sisi lain, sektor pariwisata dan perhotelan bisa menjadi etalase awal—tempat wisatawan dan masyarakat melihat robot bekerja, sejalan dengan resep survei bahwa paparan publik membangun kepercayaan.
Ke depan, produsen robot humanoid menghadapi ujian: apakah mereka mampu memindahkan robot dari pabrik ke ruang publik sebelum gelombang skeptisisme mengeras? Jika data paparan ini konsisten, pemenangnya bukan yang paling gencar beriklan, melainkan yang paling berani menempatkan robotnya di depan mata konsumen—di mal, rumah sakit, hotel, dan jalanan. Pertanyaannya, seberapa cepat kepercayaan itu terbangun di pasar seperti Indonesia yang memiliki karakter demografi dan budaya berbeda?



