Ilustrator Kartu Jirachi Terharu: Avery The Poke Kid dan Tarikan Terakhir Penuh Makna
Baca dalam 60 detik
- Avery The Poke Kid, kolektor muda yang berjuang melawan kanker pankreas, meninggal dunia pada 18 September 2026 setelah menarik kartu Jirachi edisi 30th Anniversary.
- Ilustrator kartu tersebut, Akira Egawa, menyatakan keterharuannya dan menegaskan bahwa seni yang ia ciptakan bertujuan membawa kebahagiaan.
- Kisah ini menyoroti sisi humanis komunitas TCG Pokémon di tengah pasar kartu yang semakin komersial dan mahal.

Komunitas Pokémon Trading Card Game (TCG) kehilangan salah satu figur mudanya yang paling menginspirasi. Avery The Poke Kid, kreator konten berusia 12 tahun yang menghabiskan tujuh tahun terakhir hidupnya berjuang melawan kanker pankreas, meninggal dunia pada 18 September 2026. Kabar duka itu menyebar cepat setelah orang tuanya mengunggah video emosional yang memperlihatkan Avery membuka paket kartu Pokémon 30th Anniversary dan mendapatkan kartu Jirachi langka—beberapa saat sebelum ia menghembuskan napas terakhir.
Kisah Avery bukan sekadar cerita tentang hobi mengoleksi kartu. Di tengah industri TCG yang kian didominasi oleh perburuan kartu bernilai tinggi, Avery justru menegaskan hal sebaliknya. Dalam sebuah video pada awal 2026, ia mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah memiliki kartu terbaik atau termahal, melainkan kartu yang benar-benar dicintai dan akan dikenang seumur hidup. Sikap inilah yang membuatnya mencuri perhatian setelah tampil dalam kanal @BeardDadCardz, di mana ia dibanjiri kartu oleh sang kolektor.
Menurut orang tuanya, mengoleksi kartu Pokémon memberi Avery harapan setelah menjalani berbagai perawatan rumah sakit yang berat. Kartu favoritnya adalah Pikachu gold star, yang pose menyilangkan tangan mengingatkannya pada Pikachu milik Ash Ketchum. "Pikachu Ash itu berani, menghadapi tantangan, bertarung melawan dewa... ia punya keberanian... seperti itulah saya melihat diri saya," ujar Avery dalam salah satu unggahan.
Video pembukaan paket terakhir Avery memperlihatkan reaksinya yang spontan: "No way!" saat kartu Jirachi muncul. Sebelumnya, ia juga mendapatkan kartu seni Articuno dari paket kedua terakhirnya. Meski tingkat kemunculan kartu langka di edisi 30th Anniversary lebih tinggi dari biasanya, mendapatkan dua kartu seni secara berurutan tetap tergolong langka. Bagi banyak penggemar, kombinasi antara momen tersebut dan latar belakang Avery membuatnya terasa seperti takdir—terutama karena Jirachi dalam cerita Pokémon dikenal sebagai makhluk legendaris yang hanya terbangun oleh suara dari hati yang murni.
"Saya sangat tersentuh. Saya senang saya terus menggambar. Sejujurnya saya menangis sejak melihat ini," tulis Akira Egawa di X, merespons kisah Avery.
Egawa, ilustrator di balik kartu Jirachi tersebut, menyampaikan rasa harunya melalui media sosial. Ia mengaku bahwa salah satu alasan ia menekuni ilustrasi kartu adalah keinginan untuk membawa kebahagiaan bagi orang lain. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa di balik industri TCG yang sering kali dilihat dari sisi bisnis dan investasi, terdapat dimensi emosional yang kuat antara seniman, kolektor, dan cerita di balik setiap kartu.
Reaksi juga datang dari BeardDadCardz, sosok yang sempat membantu Avery mendapatkan banyak kartu. Dalam unggahan di Instagram, ia menyatakan komitmennya untuk menjaga warisan Avery. "Saya berjanji akan melakukan segala yang saya bisa untuk menjaga warisan itu tetap hidup. Saya akan terus menceritakan kisahmu. Dan setiap kali melihat Pikachu, saya akan mengingatmu dan senyummu," tulisnya.
Bagi Indonesia, kisah Avery relevan tidak hanya sebagai berita duka, tetapi juga cerminan bagaimana komunitas penggemar—termasuk di Tanah Air—semakin matang dalam memaknai hobi. Pasar kartu Pokémon di Indonesia sendiri terus tumbuh, dengan komunitas lokal yang aktif menggelar turnamen dan jual-beli kartu. Namun, di balik angka penjualan dan harga kartu yang melambung, cerita seperti Avery mengingatkan bahwa nilai sebuah koleksi tidak selalu diukur dengan rupiah. Ini bisa menjadi refleksi bagi pelaku industri kreatif dan komunitas di Indonesia untuk tidak melupakan aspek sosial dan emosional dari hobi yang mereka geluti.
Ke depan, warisan Avery mungkin akan terus hidup melalui cerita yang dibagikan komunitas dan karya para ilustrator seperti Egawa. Pertanyaannya, akankah industri TCG global—dan komunitas di Indonesia—mampu menjaga semangat itu di tengah tekanan komersialisasi yang semakin besar?



