Eropa Cemas pada Trump, tapi Ancaman Sesungguhnya Datang dari Putin dan Beijing
Baca dalam 60 detik
- Hubungan transatlantik justru menjadi bagian paling stabil dari lingkungan eksternal Eropa saat ini, sementara Rusia dan China dinilai sebagai ancaman struktural yang lebih serius.
- Kremlin yang semakin lemah secara ekonomi berpotensi mempercepat eskalasi militer di Ukraina dan perang hibrida terhadap NATO.
- Pemilu presiden Prancis tahun depan berpotensi memunculkan Marine Le Pen, yang dapat mengguncang kohesi politik Uni Eropa tepat saat solidaritas paling dibutuhkan.

Eropa selama ini disibukkan oleh ketidakpastian hubungan dengan Amerika Serikat di bawah Donald Trump. Namun sejumlah analis menilai ancaman yang lebih mendesak dalam 12 bulan ke depan justru datang dari Moskow dan Beijing, bukan dari Washington. Penilaian itu disampaikan Mujtaba Rahman, Managing Director untuk Eropa di Eurasia Group, dalam kolomnya di The Guardian, yang menyoroti pergeseran lanskap risiko geopolitik kawasan.
Menurut Rahman, hubungan transatlantik memang penuh gejolak. Trump disebut telah melemahkan kepercayaan terhadap NATO, memicu ketegangan dagang baru, dan menciptakan ketidakpastian soal dukungan AS untuk Ukraina hingga ambisi teritorialnya terhadap Greenland. Meski demikian, ia menilai hubungan dengan Washington justru menjadi bagian yang relatif lebih stabil dibandingkan hubungan Eropa dengan Rusia dan China. Sengketa dengan AS dinilai masih terbatas dan dapat dinegosiasikan.
Rahman menggarisbawahi bahwa kemampuan drone Ukraina yang berkembang pesat, inovasi militer, dan pengalaman medan perang membuat Kyiv semakin bernilai bagi Washington. Perusahaan pertahanan AS pun diuntungkan oleh dukungan militer Eropa terhadap Ukraina dan program persenjataan ulang menghadapi Rusia. AS, Denmark, dan Greenland dikabarkan telah mencapai kesepakatan yang memungkinkan AS membangun kehadiran militer signifikan di Greenland. Meski rinciannya masih kabur, insentif untuk mencapai kesepahaman dinilai jauh lebih besar ketimbang membiarkan isu itu menjadi konfrontasi berkepanjangan.
Berbeda dari AS, risiko yang ditimbulkan Rusia dan China dinilai lebih struktural dan mengarah pada eskalasi. Rahman menyebut Rusia justru semakin berbahaya karena ekonominya melemah. Kremlin kehabisan cara murah dan aman secara politik untuk membiayai perang di Ukraina. Asumsi anggaran awal 2026 telah dilampaui oleh keadaan. Belanja militer terus naik, bukan hanya untuk peralatan, tetapi juga biaya rekrutmen tentara garis depan dan kompensasi korban.
Pembiayaan perang kini menjadi medan tempur di balik medan tempur. Kenaikan pajak lebih lanjut berisiko merusak ekonomi yang di luar sektor militer mendekati resesi. Biaya pinjaman meningkat, sementara belanja publik untuk sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur tertekan demi mempertahankan upaya perang. Menurut Rahman, alih-alih mendorong Putin berkompromi, kesulitan ekonomi justru berpotensi memicu eskalasi. Jika Kremlin memperkirakan posisi ekonominya memburuk tahun depan, ada insentif kuat untuk memperbaiki posisi militer sekarang. Hal ini menjelaskan kunjungan mendadak Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow.
"Rusia menjadi lebih berbahaya karena ia menjadi lebih lemah," tulis Rahman, menggambarkan dilema strategis yang dihadapi Eropa.
Di Ukraina, Rusia diperkirakan mempercepat mobilisasi dan melancarkan serangan lebih berat ke kota dan infrastruktur, terutama untuk melemahkan ekonomi dan moral warga sipil pada musim dingin. Perang hibrida terhadap negara-negara NATO juga diprediksi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
China menghadirkan tantangan berbeda namun sama seriusnya. Perdebatan lama tentang apakah China bersaing secara adil dinilai telah usai. Konsensus luas kini terbentuk bahwa subsidi, kelebihan kapasitas industri, nilai tukar yang undervalued, dan model ekonomi berbasis ekspor China memerlukan respons politik. Pertanyaannya bukan lagi apakah Eropa harus membela diri, melainkan seberapa jauh Eropa siap melangkah. Beijing, di sisi lain, melihat langkah pertahanan dagang, kebijakan industri, dan agenda keamanan ekonomi Eropa sebagai upaya membatasi pertumbuhan China.
Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Eropa, Maroš Šefčovič, dan mitranya dari China, Wang Wentao, bertemu pada akhir Juni dan berkomitmen menyelesaikan sejumlah isu pada Oktober. Pertemuan itu mungkin menunda konfrontasi, tetapi tidak menghindarinya. China tidak akan meninggalkan subsidi industri, kebijakan nilai tukar, atau model ekspornya. Sebaliknya, Uni Eropa juga tidak akan mundur dari agenda keamanan ekonominya. Setiap langkah Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada China cenderung memicu respons balik, dan setiap pembalasan China akan memperkuat argumen politik di Brussels untuk melangkah lebih jauh.
Hasil yang paling mungkin adalah konfrontasi terkelola, bukan perang dagang penuh. Uni Eropa akan memperluas pembatasan bertarget di sektor tambahan, sementara China merespons dengan tarif selektif, hambatan pengadaan, tekanan regulasi pada perusahaan Eropa, dan kontrol lebih ketat atas mineral kritis. Kedua pihak berusaha meningkatkan tekanan tanpa kehilangan kendali. Eropa pun memiliki daya tawar karena China masih sangat bergantung pada akses ke pasar tunggal UE, salah satu tujuan ekspor besar dan kaya terakhir di dunia.
Namun faktor penentu sesungguhnya ada di dalam Eropa sendiri. Pemilu presiden Prancis tahun depan dinilai bisa lebih berdampak bagi Eropa daripada keputusan apa pun di Washington, Moskow, atau Beijing. Marine Le Pen memiliki jalur kredibel menuju kemenangan. Ia saat ini mengumpulkan 35–38% suara pada putaran pertama dan dianggap lebih tangguh dibandingkan letnannya, Jordan Bardella, yang banyak diperkirakan menjadi kandidat Rassemblement National. Peluangnya sangat bergantung pada apakah pusat politik Prancis yang terfragmentasi dapat bersatu di belakang satu kandidat. Jika tidak, Le Pen bisa menghadapi Jean-Luc Mélenchon dari kiri keras pada putaran kedua dan kemungkinan besar menang.
Presidensi Le Pen diprediksi sangat mengganggu Eropa. Ia kemungkinan menentang dukungan lebih lanjut untuk Ukraina, menghambat sanksi terhadap Rusia, melemahkan pendekatan blok terhadap China, dan memicu pertarungan dengan Brussels soal Schengen, aturan fiskal, harga listrik, serta pasar tunggal. Ancaman menahan kontribusi Prancis ke anggaran UE bisa menjerumuskan union ke krisis finansial dan konstitusional yang belum pernah terjadi.
Tantangan eksternal Eropa memang besar, tetapi masih bisa dikelola. Variabel penentunya adalah Eropa sendiri: apakah mampu menjaga kohesi politik yang dibutuhkan untuk menghadapi AS, Rusia, dan China. Kemenangan Le Pen akan mempertanyakan kohesi itu tepat ketika Eropa paling membutuhkannya. Bagi Indonesia, dinamika ini penting karena Eropa adalah mitra dagang utama dan pasar ekspor strategis. Ketegangan UE-China dapat mengalihkan arus barang dan investasi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sementara ketidakstabilan politik Eropa berpotensi memengaruhi harga komoditas dan rantai pasok global. Pertanyaannya, akankah Indonesia memanfaatkan celah ini atau justru menjadi korban dari pergeseran geopolitik yang lebih besar?



