AstroForge Siap Luncurkan Misi Otonom Pertama ke Orbit Bumi 2027
Baca dalam 60 detik
- AstroForge menjadwalkan misi Autonomy-1 pada awal 2027 menggunakan roket Nova Pathfinder milik Stoke Space, menandai penerbangan perdana kendaraan tersebut.
- Model kecerdasan Solo akan mengendalikan seluruh operasi pesawat tanpa instruksi dari darat, sebuah terobosan yang disebut sebagai pencapaian puncak rekayasa antariksa.
- Misi ini menjadi ujian bagi ambisi penambangan asteroid dan teknologi roket reusable, dengan implikasi bagi industri antariksa global termasuk Indonesia.

Perusahaan penambangan asteroid asal California, AstroForge, mengumumkan rencana peluncuran misi Autonomy-1 pada awal 2027 menggunakan roket Nova Pathfinder milik Stoke Space. Misi ini diklaim sebagai yang pertama sepenuhnya otonom, tanpa satu pun perintah dari stasiun bumi setelah pemisahan dari wahana peluncur. Langkah ini menandai babak baru dalam eksplorasi antariksa komersial, di mana kecerdasan buatan mengambil alih kendali penuh atas operasi pesawat.
Autonomy-1 akan menjadi penerbangan perdana Nova Pathfinder, roket yang dikembangkan Stoke Space dengan teknologi dapat digunakan ulang sepenuhnya. Keberhasilan misi ini tidak hanya krusial bagi AstroForge, tetapi juga bagi Stoke Space yang tengah bersaing dengan SpaceX dalam menghadirkan roket reusable. Menurut CEO AstroForge, Matt Gialich, dalam unggahan blog perusahaan, misi ini bertujuan menghilangkan operator manusia dari lingkaran kendali. "Kami tidak berniat mengirim satu perintah pun ke pesawat setelah pemisahan," tulisnya. Data telemetri dan sains akan mengalir satu arah dari pesawat ke bumi, tanpa ada instruksi balik.
Model kecerdasan buatan bernama Solo dikembangkan untuk mengoordinasikan fungsi onboard secara mandiri. Solo bekerja di atas perangkat lunak penerbangan deterministik berbasis fisika yang sudah ada, memungkinkan pengambilan keputusan real-time selama penerbangan. Gialich menyebut otonomi penuh sebagai "cawan suci rekayasa antariksa" yang akan dicapai secara bertahap. Sebelum Autonomy-1, Solo akan diuji dalam misi DeepSpace-2 yang akan diluncurkan dengan roket Falcon 9 SpaceX bersama pendarat bulan Intuitive Machines. Dalam misi itu, Solo hanya beroperasi dalam "mode bayangan"โmemproses data dan membuat keputusan tanpa mengeksekusinya.
Pada Autonomy-1, Solo akan sepenuhnya mengendalikan pesawat, termasuk mendukung instrumen ilmiah COMPASS (Compact Multi-Spectral Photometer for Space Science) milik NASA. Misi ini juga menjadi ajang pembuktian bagi AstroForge yang sebelumnya mengalami kegagalan. Brokkr-1, prototipe cubesat yang diluncurkan April 2023, gagal mengaktifkan teknologi pemurnian. Lalu, Odin yang diluncurkan Februari 2025 bersama misi IM-2 kehilangan komunikasi dan dinyatakan hilang. Kegagalan tersebut menjadi latar mengapa AstroForge mengembangkan Soloโuntuk mengurangi ketergantungan pada kendali manusia yang mahal dan berisiko.
"Autonomy-1 akan menjadi misi antariksa pertama yang menyelesaikan seluruh misinya setelah pemisahan tanpa satu perintah dari darat. Dengan Solo, kami menghilangkan operator manusia dari loop," ujar Matt Gialich, CEO AstroForge.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Negara ini tengah mengembangkan industri antariksa melalui LAPAN dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta memiliki ambisi menjadi pemain dalam ekonomi antariksa global. Teknologi otonom seperti Solo dapat menjadi acuan untuk misi satelit nasional yang lebih efisien, terutama untuk pemantauan wilayah maritim dan mitigasi bencana. Selain itu, keberhasilan roket reusable seperti Nova Pathfinder dapat menekan biaya peluncuran, membuka peluang bagi negara berkembang untuk mengakses orbit dengan lebih murah.
Misi Autonomy-1 juga akan menjadi sorotan industri karena menjadi peluncuran orbital pertama Stoke Space. Perusahaan ini mengembangkan roket yang seluruhnya dapat digunakan ulang, teknologi yang diyakini para ahli akan merevolusi penerbangan antariksa. SpaceX, yang tengah mengembangkan Starship, termasuk salah satu yang percaya pada potensi tersebut. Jika berhasil, Autonomy-1 tidak hanya membuktikan konsep otonomi penuh, tetapi juga mempercepat persaingan menuju era antariksa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dengan jadwal peluncuran awal 2027, akankah AstroForge mampu mengatasi bayang-bayang kegagalan sebelumnya dan membuka jalan bagi penambangan asteroid komersial? Sementara itu, bagaimana posisi Indonesia dalam peta persaingan teknologi antariksa yang semakin didominasi oleh swasta?



