Mark Wahlberg dan 'Contraband' Kembali Berjaya di Netflix, Bukti Film Lama Masih Punya Pasar
Baca dalam 60 detik
- Film aksi 'Contraband' (2012) yang dibintangi Mark Wahlberg menempati posisi kelima daftar film paling banyak ditonton di Netflix AS.
- Kesuksesan ini menunjukkan film kriminal dengan alur sederhana dan bintang mapan tetap diminati penonton streaming, meski ulasan kritikus biasa saja.
- Fenomena ini membuka peluang bagi platform streaming untuk terus menghadirkan konten katalog lama sebagai strategi menarik pelanggan baru.

Lebih dari satu dekade setelah tayang perdana di bioskop, film aksi kriminal Contraband (2012) yang dibintangi Mark Wahlberg kembali mencuri perhatian. Menurut data Netflix Tudum, film ini kini menduduki peringkat kelima sebagai film paling banyak ditonton di Amerika Serikat pada pekan ini. Kebangkitan film lama di platform streaming menjadi fenomena yang semakin sering terjadi, dan Contraband adalah contoh terbarunya.
Disutradarai Baltasar Kormákur, Contraband mengisahkan Chris Farraday (Wahlberg), mantan penyelundup yang telah meninggalkan dunia kriminal dan berusaha hidup tenang bersama keluarga. Namun, ketika adik iparnya terjerat utang dengan bandar narkoba, Chris terpaksa kembali ke dunia yang pernah ia tinggalkan untuk melindungi orang-orang tercintanya. Ia pun berlayar ke Panama bersama kru untuk mengambil uang palsu senilai besar, sebuah misi yang berubah menjadi jauh lebih berbahaya dari perkiraan.
Meski tidak pernah menjadi favorit kritikus—skor Rotten Tomatoes-nya hanya 50% dari kritikus dan 57% dari penonton—Contraband menawarkan daya tarik klasik: bintang yang dikenal luas, aksi penyelundupan yang menegangkan, dan alur cerita yang mudah diikuti. Kombinasi inilah yang tampaknya membuat film ini kembali menemukan penonton baru di Netflix, terutama bagi mereka yang mencari tontonan menghibur tanpa perlu berpikir terlalu rumit.
Fenomena Contraband bukanlah hal baru di era streaming. Platform seperti Netflix, Amazon Prime, dan Disney+ secara rutin melihat lonjakan penonton untuk film-film lama yang mungkin tidak sukses besar saat rilis awal. Algoritma rekomendasi dan kurasi daftar tontonan memainkan peran besar dalam menghidupkan kembali judul-judul yang terlupakan. Bagi Netflix, ini adalah strategi hemat biaya: mereka tidak perlu memproduksi konten baru, cukup memanfaatkan katalog yang sudah ada.
"Film seperti ini adalah bukti bahwa nilai hiburan tidak selalu ditentukan oleh ulasan kritikus. Penonton streaming mencari kenyamanan dan familiaritas, dan Contraband memenuhi itu," ujar seorang analis industri hiburan yang enggan disebutkan namanya.
Di Indonesia, fenomena serupa juga terlihat. Layanan streaming lokal dan global semakin agresif menawarkan film-film lama sebagai bagian dari paket berlangganan. Penonton Indonesia dikenal memiliki selera yang beragam, dan film aksi Hollywood dengan bintang ternama seperti Wahlberg masih menjadi magnet. Kehadiran Contraband di daftar teratas Netflix AS bisa menjadi sinyal bagi platform di Indonesia untuk turut mempromosikan film ini, atau setidaknya menunjukkan bahwa konten katalog tetap relevan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah kesuksesan Contraband akan mendorong Netflix dan pesaingnya untuk lebih serius mengkurasi film-film lama, atau justru mempercepat produksi konten orisinal yang lebih segar. Yang jelas, penonton masih memberikan ruang bagi film aksi sederhana dengan daya tarik bintang besar—sebuah pelajaran bagi industri bahwa tidak semua tontonan harus rumit untuk bisa dinikmati.



