Buku Baru Ungkap Evolusi 50 Tahun Green Party: Polanski dan Fenomena 'Semangka'
Baca dalam 60 detik
- Buku 'The Green Socialist' karya Russell Warfield menegaskan bahwa faksi 'semangka'—hijau di luar, merah di dalam—bukanlah pendatang baru, melainkan hasil evolusi setengah abad Partai Hijau Inggris.
- Kemenangan Zack Polanski dengan 85% suara mempercepat pergeseran partai ke kiri, memicu perdebatan internal dan penurunan elektabilitas dari 21% ke 11%.
- Pemilihan sela Holborn dan St Pancras pada 8 Oktober menjadi ujian apakah strategi eco-populisme mampu merebut kursi dari Partai Buruh.

Buku terbaru berjudul The Green Socialist: Zack Polanski and the Battle for Britain’s Future menyatakan bahwa faksi “semangka” di Partai Hijau Inggris dan Wales—sebutan untuk anggota yang berpaham ekologi di permukaan namun berideologi sosialis di dalam—bukanlah fenomena baru. Penulis Russell Warfield, mantan staf partai yang terlibat dalam kampanye pemilu, menegaskan bahwa identitas ganda ini telah mengakar sejak satu dekade terakhir dan bahkan bisa dilacak hingga awal 1970-an.
Warfield membantah narasi yang menyebut kebangkitan Zack Polanski sebagai “pengambilalihan bermusuhan” oleh kelompok kiri garis keras. Menurutnya, kemenangan Polanski dengan perolehan 85% suara menunjukkan dukungan luas dari seluruh sayap partai. “Dikotomi yang sering disajikan—antara inti murni ekologis dan kohort kiri baru—adalah penyederhanaan yang menyesatkan,” ujarnya. Buku ini memaparkan bagaimana posisi-posisi fundamental partai, termasuk seruan pajak kekayaan, telah lama menjadi kebijakan resmi jauh sebelum Polanski memimpin.
Sejak menjabat tahun lalu, Polanski gencar menyuarakan isu seperti Gaza dan pajak kekayaan, yang oleh sebagian pengamat dianggap menggeser fokus dari agenda lingkungan. Namun, data YouGov menunjukkan 34% pemilih menaruh kepercayaan tertinggi pada Partai Hijau dalam isu lingkungan—angka tertinggi untuk partai mana pun pada isu apa pun. Warfield berargumen bahwa fondasi kepercayaan ini justru memberi ruang bagi partai untuk memperluas pesan ke ranah ekonomi-politik, sejalan dengan evolusi menuju ekologi sosial yang menuding kapitalisme dan kelompok 1% sebagai akar kerusakan lingkungan.
Meski demikian, masa kepemimpinan Polanski tidak lepas dari kontroversi. Kritiknya terhadap respons polisi atas serangan Golders Green disebut “tidak akurat dan salah informasi” oleh Komisaris Met Mark Rowley. Ia juga pernah mengklaim secara keliru sebagai juru bicara British Red Cross dan membagikan foto seseorang mengenakan kaus bergambar guillotine dengan tulisan “we’re only making plans for Nigel”—sindiran terhadap Nigel Farage. Warfield menilai insiden Golders Green sebagai “kesalahan langkah”, tetapi menolak pembatasan ketat media sosial Polanski karena akan mematikan otentisitas yang menjadi kekuatan politiknya.
“Reformasi berusaha memancingnya agar meminta maaf atas tuduhan hasutan pembunuhan. Jika dia menuruti, kita justru melegitimasi klaim mereka. Ada kekuatan dalam menolak tekanan untuk bermain dalam permainan itu.” — Russell Warfield
Buku ini juga melacak akar sejarah partai, termasuk keterlibatan tokoh kanan seperti Teddy Goldsmith, yang gagasannya tentang ekologi mendalam dan kritik terhadap pertumbuhan ekonomi tak terbatas tetap relevan dengan retorika Polanski. Warfield menyimpulkan bahwa eco-populisme Polanski adalah kelanjutan dari tradisi panjang, bukan penyimpangan.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika Partai Hijau Inggris menawarkan cermin tentang bagaimana partai berbasis isu lingkungan dapat berevolusi menjadi kekuatan populis yang menyuarakan ketidakadilan ekonomi. Di tengah tekanan global untuk transisi energi, partai-partai hijau di berbagai negara—termasuk potensi gerakan serupa di Indonesia—dapat belajar dari keberhasilan maupun kontroversi Polanski. Pendekatan eco-populis yang menekankan akar kapitalistik kerusakan lingkungan mungkin resonan dengan narasi ketidakadilan sosial di negara berkembang, namun juga berisiko memecah basis dukungan jika tidak diimbangi dengan solusi konkret.
Pada 8 Oktober, Polanski akan bertarung dalam pemilihan sela Holborn dan St Pancras setelah Keir Starmer mengosongkan kursi tersebut. Warfield optimistis Polanski bisa menang, dan melihatnya sebagai cara menekan proyek Burnham dari kiri. Jika berhasil, ini akan menjadi ujian nyata apakah strategi eco-populisme mampu mengubah elektabilitas menjadi kursi parlemen—atau justru memperdalam fragmentasi di kiri Inggris. Akankah Partai Hijau di bawah Polanski membuktikan bahwa hijau dan merah bisa bersatu, ataukah kontroversi yang ada akan menggerus kepercayaan pemilih?



