The Fifth Element Akan Hengkang dari Netflix: Mahakarya Sci-Fi yang Nyaris Musnah
Baca dalam 60 detik
- Film klasik Luc Besson, The Fifth Element, dijadwalkan meninggalkan Netflix pada akhir September 2026, memberi penonton Indonesia kesempatan terakhir menyaksikannya secara legal di platform streaming.
- Kisah di balik produksinya mengungkap insiden nyaris fatal ketika negatif film rusak parah akibat kecelakaan di bandara, namun berhasil diselamatkan.
- Keunikan visual dan narasi yang berani menjadikannya cerminan era ketika blockbuster masih memberi ruang bagi eksperimen kreatif, berbeda dengan lanskap sinema arus utama saat ini.

Film fiksi ilmiah ikonik The Fifth Element akan segera menghilang dari katalog Netflix pada akhir September 2026. Kabar ini menjadi pukulan bagi para penggemar berat karya Luc Besson tersebut, sekaligus momentum untuk menyoroti kembali betapa rapuhnya warisan sinema di era digital. Bagi penonton di Indonesia, ini adalah kesempatan terakhir menikmati petualangan Korben Dallas dan Leeloo secara legal di platform tersebut sebelum hak siar berpindah atau film ditarik sepenuhnya.
Keputusan Netflix tidak memperpanjang lisensi film yang dirilis pada 1997 itu bukan hal baru dalam industri streaming. Namun, momen ini memicu diskusi lebih luas tentang bagaimana karya-karya visioner dari masa lalu perlahan tergerus oleh algoritma dan strategi konten yang berorientasi pada produksi orisinal. Di Indonesia sendiri, akses terhadap film-film klasik semacam ini semakin bergantung pada platform global, sementara arsip fisik dan pemutaran di bioskop independen masih sangat terbatas.
Yang membuat The Fifth Element istimewa bukan sekadar statusnya sebagai blockbuster. Film ini nyaris tidak pernah sampai ke layar lebar. Setelah proses syuting rampung, gulungan negatif dikirim dari London ke Los Angeles untuk pascaproduksi. Menurut produser asosiasi John Amicarella, sebagian kiriman terjatuh di landasan Bandara Internasional Los Angeles dan terlindas forklift. Amicarella kemudian dihadapkan pada beberapa tong sampah berisi potongan film yang hancur. Salah satu adegan yang rusak adalah pertunjukan opera alien berkulit biru yang kemudian ditembak mati—adegan yang kini dikenang sebagai salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sci-fi. Beruntung, footage tersebut berhasil diselamatkan, dan filmnya pun selamat.
Alur cerita The Fifth Element terbilang nekat bahkan untuk ukuran hari ini. Berlatar abad ke-23, film mengikuti Korben Dallas, mantan tentara pasukan khusus yang beralih menjadi sopir taksi terbang di New York. Hidupnya berubah ketika Leeloo, sosok misterius yang merupakan inkarnasi dewa, jatuh ke atap taksinya. Leeloo adalah Elemen Kelima yang mampu mengaktifkan empat batu elemen kuno—tanah, udara, api, dan air—untuk melawan kejahatan kosmik yang kembali setiap 5.000 tahun. Jika terdengar rumit, memang demikian. Namun, Besson merangkai semua itu menjadi dongeng sci-fi yang aneh sekaligus memikat.
Antagonis utamanya, Zorg, diperankan Gary Oldman dengan aksen setengah Texas dan gaya rambut setengah botak yang ditutupi plastik. Di pertengahan film, muncul Ruby Rhod yang diperankan Chris Tucker dengan kostum leotard macan tutul—peran yang awalnya ditawarkan kepada Prince. Alih-alih ambruk oleh keanehan, film ini justru menjelma menjadi salah satu blockbuster sci-fi paling khas yang pernah dibuat.
Palet warna cerah menjadi pembeda utama. Jika Dune atau Blade Runner menawarkan nuansa gelap dan neon, The Fifth Element justru menampilkan masa depan yang penuh warna, kostum praktis yang eksentrik, dan detail-detail kecil yang aneh. Amicarella pernah menggambarkannya sebagai tabrakan antara komik, lukisan Salvador Dalí, dan sampul album heavy metal. Pendekatan ini juga tercermin dalam penampilan para pemain: Willis menjadi pusat yang membumi, sementara yang lain tampil dengan intensitas maksimal.
Film ini juga berani menampilkan seksualitas yang jarang ditemui dalam sci-fi modern. Leeloo menghabiskan sebagian besar film dengan kostum perban yang minim, dan semua kostum dirancang oleh Jean-Paul Gaultier. Di McDonald's masa depan, para pelayan perempuan mengenakan gaun merah tanpa tali dengan lengkungan emas menutupi dada. Pramugari pun tampil dengan seragam biru muda yang memperlihatkan perut. Dunia Besson dipenuhi orang-orang eksentrik, menarik, dan berantakan—sebuah alam semesta yang terasa benar-benar hidup.
"Film ini terasa seperti tabrakan antara buku komik, lukisan Salvador Dalí, dan sampul album heavy metal." — John Amicarella, produser asosiasi
Di balik segala keanehan dan kemegahannya, The Fifth Element bertahan karena memiliki hati yang tulus. Pesan utamanya bukanlah senjata yang lebih besar, melainkan cinta yang layak diperjuangkan. Gagasan itu mungkin terkesan klise, tetapi justru itulah alasan mengapa penonton terus menemukan kembali film ini hampir tiga dekade setelah perilisan.
Bagi Indonesia, kepergian film ini dari Netflix bisa menjadi pengingat bahwa konsumsi budaya pop global kita sangat bergantung pada kebijakan lisensi perusahaan asing. Ketika film sekaliber ini menghilang, penonton lokal kehilangan akses mudah ke karya yang membentuk imajinasi sinematik dunia. Apakah platform streaming lokal atau layanan video-on-demand nasional akan mengambil alih? Atau akankah kita semakin jarang melihat film-film berani seperti ini hadir di ruang digital kita?
Jika Anda belum pernah menonton The Fifth Element, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengejarnya. Jika sudah, menonton ulang akan mengingatkan pada masa ketika blockbuster terasa lebih aneh, lebih berani, dan jauh lebih menyenangkan.



