Studi Terbesar Ungkap Kelelawar Berasal dari Eropa, Buka Jalan Riset Kanker dan Virus
Baca dalam 60 detik
- Analisis genom dan fosil dari 130 peneliti menyimpulkan kelelawar pertama kali muncul di Eropa sekitar 65 juta tahun lalu, bukan di Afrika atau Asia.
- Kemampuan ekolokasi ternyata berevolusi bersamaan dengan kemampuan terbang, mengubah pemahaman tentang evolusi mamalia.
- Temuan ini membuka peluang riset terapi kanker dan penyakit zoonosis, sekaligus menyoroti kerentanan populasi kelelawar global.

Sebuah studi monumental yang diterbitkan di jurnal Nature membalikkan asumsi lama tentang asal-usul kelelawar. Lebih dari 130 ilmuwan dari berbagai negara menyimpulkan bahwa mamalia terbang ini pertama kali muncul di Eropa sekitar 65 juta tahun silam, bukan di Afrika, Asia, atau Amerika Utara seperti yang diyakini sebelumnya. Temuan ini tidak hanya menulis ulang silsilah keluarga mamalia, tetapi juga membuka jalan baru bagi riset medis, termasuk pengobatan kanker dan penyakit menular.
Penelitian yang merupakan bagian dari proyek global Bat1K ini menganalisis 103 genom kelelawar dari 21 famili, ditambah 44 fosil kelelawar yang sebagian besar berupa gigi, yang digali dari berbagai belahan dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa nenek moyang kelelawar modern menyebar dari Eropa ke Afrika, lalu ke Asia, Amerika, dan Australia. Yang tak kalah penting, kemampuan ekolokasi—sonar alami untuk navigasi—ternyata berkembang hampir bersamaan dengan kemampuan terbang, bukan muncul belakangan seperti dugaan semula.
Sarah Olson, salah satu penulis studi dan direktur riset kesehatan di Wildlife Conservation Society, menyebut kelelawar sebagai makhluk yang "super menakjubkan". Menurutnya, temuan ini memberikan semacam "buku kode kehidupan" yang memungkinkan ilmuwan memahami mengapa kelelawar mampu hidup berdampingan dengan virus mematikan seperti Ebola, Nipah, dan Marburg tanpa jatuh sakit. "Bagaimana mereka bisa hidup dengan virus yang, ketika masuk ke tubuh kita, menyebabkan kerusakan hebat?" ujarnya. Pertanyaan itu kini memiliki pijakan genetik yang lebih kokoh.
Studi terpisah pada 2025 yang juga berbasis data Bat1K mengungkap bahwa nenek moyang kelelawar awal memiliki adaptasi gen imun yang berlebihan. Ariadna Morales, ahli biologi evolusi yang terlibat dalam kedua riset tersebut, menegaskan bahwa adaptasi toleransi virus dan resistensi penyakit kemungkinan besar berevolusi bersamaan dengan kemunculan semua kelelawar. "Kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa adaptasi ini muncul bersamaan dengan evolusi kelelawar," katanya.
"Dengan informasi genetik yang kami temukan pada kelelawar, ini bisa digunakan untuk mengembangkan terapi penyakit zoonosis. Mereka juga bisa menjadi model untuk mengembangkan pengobatan kanker." — Ariadna Morales, ahli biologi evolusi
Kelelawar memang unik di antara mamalia: meskipun bertubuh kecil, mereka berumur sangat panjang dan jarang menunjukkan tanda penuaan atau kanker. Ilmuwan kini dapat menelusuri gen-gen yang mengendalikan sifat-sifat tersebut. Menurut Morales, pemahaman ini berpotensi menjadi terobosan dalam riset penuaan, imunitas, dan resistensi penyakit pada manusia. Olson menambahkan bahwa riset ini juga membantu menjawab "apa yang membuat kelelawar sehat dan apa yang membuat mereka rentan."
Namun, di balik potensi besar itu, populasi kelelawar sedang menghadapi tekanan berat. Sekitar setengah spesies yang diketahui memiliki populasi tak diketahui atau menurun, dan 18% di antaranya masuk kategori terancam menurut International Union for the Conservation of Nature (IUCN). Liliana Dávalos, ahli biologi konservasi dari Stony Brook University, memperingatkan bahwa krisis iklim, kehilangan habitat, serta perburuan dan penganiayaan menjadi ancaman utama. "Berbeda dengan mamalia kecil lain, hampir semua kelelawar hanya melahirkan satu atau dua anak, sehingga ketika individu mati akibat suhu ekstrem atau dibunuh, populasi tidak bisa pulih dengan cepat," jelasnya.
Di Amerika Serikat dan Kanada, jutaan kelelawar telah mati akibat sindrom hidung putih, penyakit jamur yang menyerang kulit kelelawar yang sedang hibernasi. Olson berharap riset ini dapat membantu mengungkap mengapa spesies Myotis lebih rentan terhadap penyakit jamur tersebut. Sementara itu, di Indonesia, kelelawar memainkan peran ekologis krusial sebagai penyerbuk tanaman dan pengendali populasi serangga, termasuk nyamuk. Hilangnya populasi kelelawar dapat berdampak langsung pada pertanian dan kesehatan masyarakat. Dengan kekayaan biodiversitasnya, Indonesia berpotensi menjadi lokasi penting untuk penelitian lanjutan, terutama dalam memahami interaksi kelelawar dengan virus di kawasan tropis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana temuan ini akan diterjemahkan menjadi terapi nyata bagi manusia. Apakah gen-gen ketahanan penyakit pada kelelawar dapat direplikasi atau dimanfaatkan untuk memperkuat sistem imun manusia? Dan di tengah tekanan lingkungan yang semakin besar, mampukah kita melindungi kelelawar—sumber wawasan ilmiah tak ternilai—sebelum terlambat?



