Canon EOS R8 II vs Nikon Z5II: Duel Kamera Full-Frame di Bawah $2.000, Siapa Layak Dibawa Pulang?
Baca dalam 60 detik
- Canon EOS R8 II kini dibekali joystick autofokus dan stabilisasi sensor, menempatkannya bersaing langsung dengan Nikon Z5II di segmen full-frame kelas bawah.
- Nikon Z5II unggul dalam daya tahan baterai, viewfinder, dan slot ganda, sementara Canon menawarkan video 4K/60 full-width serta bobot lebih ringan.
- Perbedaan ekosistem lensa dan harga jual di Indonesia akan menjadi penentu utama pilihan konsumen di antara kedua kamera ini.

Canon resmi memperkuat lini kamera full-frame entry-level mereka dengan meluncurkan EOS R8 II, yang membawa dua peningkatan signifikan: joystick autofokus dan stabilisasi gambar dalam bodi. Langkah ini langsung menempatkannya berhadapan dengan Nikon Z5II, yang sebelumnya menjadi pilihan utama di kelas di bawah US$2.000. Pertanyaannya kini, mana yang lebih layak dibeli oleh fotografer yang ingin naik ke sistem full-frame?
Secara spesifikasi inti, kedua kamera memang tampak kembar. Keduanya mengusung sensor berukuran sama dengan resolusi yang tak jauh berbeda, sudah dilengkapi stabilisasi gambar, dan memiliki joystick AF. Namun, begitu masuk ke detail, perbedaan mulai terlihat. Canon menawarkan keunggulan pada bobot yang lebih ringan, kecepatan burst maksimum, serta kemampuan merekam format Raw pada mode burst tercepat dan pre-capture. Sementara Nikon Z5II justru unggul di lebih banyak aspek lain.
Perbedaan paling mencolok terletak pada daya tahan baterai. Nikon Z5II menggunakan unit 16Wh yang sama dengan seri Z6, memberikan rating 350 jepretan per pengisian saat memakai layar belakang, atau 330 jepretan lewat viewfinder. Canon EOS R8 II hanya dibekali baterai 7,5Wh dengan rating 270 jepretan (layar) dan 150 jepretan (viewfinder). Artinya, dalam pemakaian nyata, Nikon bisa bertahan hampir dua kali lebih lama. Bagi fotografer perjalanan atau liputan lapangan, selisih ini sangat terasa.
Dari sisi tampilan, Nikon juga lebih unggul. Layar belakangnya berukuran 3,2 inci dengan resolusi 1024x680 piksel, sedikit lebih besar dari layar 3,0 inci (900x600 piksel) milik Canon. Viewfindernya pun lebih lega dan tajam: 3,69 juta titik versus 2,36 juta titik pada Canon. Peningkatan resolusi linear sekitar 25% ini membuat gambar di viewfinder Nikon terasa lebih halus dan tidak mudah terpixelasi, bahkan saat pembesaran tinggi. Nikon juga memiliki shutter mekanis penuh yang mampu mencapai kecepatan 1/8000 detik, sedangkan Canon terbatas satu stop lebih rendah. Mode electronic shutter Canon memang bisa lebih cepat, tetapi readout speed-nya sekitar 1/70 detik sehingga rawan distorsi rolling shutter dan tidak bisa dipakai dengan flash.
Soal penyimpanan, Nikon Z5II menyediakan dua slot kartu SD, sementara Canon hanya satu. Untuk pemotretan kasual, perbedaan ini mungkin tidak terlalu krusial. Namun, bagi fotografer profesional yang mengandalkan keandalan data, slot ganda menjadi nilai tambah yang signifikan. Di sisi lain, Canon menawarkan keunggulan pada perekaman video: kemampuan 4K/60 full-width yang berasal dari sensor 6K, sedangkan Nikon harus melakukan crop ke area APS-C untuk mencapai 4K/60. Crop ini mempersempit sudut pandang dan menurunkan kualitas gambar. Keduanya mendukung 10-bit log, dengan C-Log3 Canon yang banyak disukai editor.
"Keduanya menawarkan kualitas gambar dan performa yang belum pernah ada di harga ini, meski inflasi membuatnya tidak lagi menjadi barang murah yang jelas."
Faktor berat juga menjadi pertimbangan. Nikon Z5II memiliki bobot 700 gram, sekitar 154 gram lebih berat dari Canon EOS R8 II. Bagi yang sering membawa kamera seharian, bobot ini bisa menjadi pertimbangan. Namun, bagi yang mengutamakan daya tahan baterai dan viewfinder, tambahan bobot itu sepadan.
Pilihan lensa menjadi penentu terakhir. Canon dan Nikon sama-sama memiliki jajaran lensa yang lengkap, tetapi keduanya membatasi akses mount ke lensa pihak ketiga. Perbedaannya, Nikon Z-mount kini semakin banyak menerima lensa dari produsen pihak ketiga tanpa lisensi, sementara Canon lebih ketat mengontrol ekosistem RF. Bagi konsumen di Indonesia, ketersediaan lensa pihak ketiga yang lebih murah bisa menjadi daya tarik tersendiri, terutama untuk pengguna yang ingin menekan biaya kepemilikan jangka panjang.
Di pasar Indonesia, kedua kamera ini akan bersaing ketat di segmen full-frame entry-level. Harga resmi dan ketersediaan stok akan sangat memengaruhi pilihan. Canon EOS R8 II dengan bobot ringan dan video 4K/60 full-width cocok untuk content creator yang banyak merekam video. Sementara Nikon Z5II lebih pas untuk fotografer yang mengutamakan daya tahan baterai, viewfinder besar, dan keandalan slot ganda. Ke depan, persaingan di kelas ini diprediksi semakin panas seiring munculnya pemain baru dari Sony dan Panasonic. Pertanyaannya, akankah Canon dan Nikon kembali menekan harga untuk merebut hati konsumen Indonesia?



