Loblaw dan EAIGLE Otomatisasi Gerbang Distribusi, Waktu Bongkar Turun Jadi 3 Detik
Baca dalam 60 detik
- Loblaw, peritel makanan terbesar Kanada, menerapkan gerbang otomatis di fasilitas unggulan mereka, memangkas waktu proses masuk dari 30 detik-5 menit menjadi sekitar 3 detik.
- Sistem ini terintegrasi dengan 7-8 API dari berbagai platform enterprise, menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada kamera melainkan pada kualitas data dan manajemen perubahan.
- Dengan target mengotomatisasi hampir setengah dari 26 pusat distribusi dalam dua tahun, langkah ini dapat menjadi preseden bagi efisiensi logistik ritel global, termasuk Indonesia.

Loblaw Companies, jaringan ritel bahan pangan terbesar di Kanada dengan pendapatan tahunan sekitar CA$61 miliar, resmi memperluas penggunaan gerbang otomatis di jaringan distribusinya. Fasilitas unggulan yang menjadi proyek percontohan ini mampu memproses truk masuk hanya dalam tiga detik dan keluar empat detik, jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional yang memakan waktu 30 detik hingga lima menit per truk.
Langkah ini bukan sekadar uji coba. Pada 16 September, Loblaw dan EAIGLE—perusahaan teknologi asal Markham, Ontario—mengumumkan kemitraan strategis untuk menerapkan platform AVAC di berbagai yard dan pusat distribusi. Wael Yehia, VP Transportasi Nasional Loblaw, menekankan bahwa fokusnya adalah perbaikan praktis dalam pergerakan produk. Sementara CEO EAIGLE, Amir Hoss, menegaskan bahwa ini adalah skalabilitas dari solusi yang sudah terbukti, bukan pilot project.
Kecepatan transaksi tersebut dihasilkan dari integrasi real-time dengan tujuh hingga delapan panggilan API ke sistem terpisah, termasuk Manhattan Active, SAP, Blue Yonder, TruckMate, C3 Solutions, dan Setaris. Setiap truk yang tiba harus melewati validasi isi trailer, verifikasi yard management, dan pencatatan posisi secara otomatis. Menurut Steve Freas, Direktur Sistem Transportasi Loblaw, alur masuk dimulai dari validasi di supply chain hub, lalu berpindah ke yard management yang memverifikasi trailer dan isinya, dan staf di dalam gedung mendapatkan gambaran langsung tentang apa yang ada di lokasi.
Meski demikian, implementasi tidak lepas dari tantangan. Sekitar 60-65% pengemudi berasal dari pihak ketiga yang menggunakan aplikasi web, sementara 30-40% adalah armada internal dengan aplikasi QR code. Perbedaan ini memengaruhi desain sistem, terutama dalam penanganan pengecualian. Heather Fallo, Senior Manager Transportasi, menjelaskan bahwa timnya memantau gerbang dari dalam gedung melalui panel monitor, dan jika pengemudi gagal, operator dapat memasukkan data secara manual untuk menjaga akurasi.
"Kurva pembelajaran pengemudi adalah bagian tersulit dari proyek ini. Pesan yang paling penting adalah bahwa otomatisasi ini tidak akan hilang," ujar Fallo.
Pelajaran berharga datang dari aspek manajemen perubahan. Awalnya, tim menempatkan personel di luar gerbang selama dua bulan, namun pengemudi tetap memilih berinteraksi langsung daripada menggunakan kiosk. Setelah personel dipindahkan ke dalam untuk menangani pemantauan dan pengecualian, kiosk menjadi satu-satunya jalur, dan adopsi pun meningkat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa menghilangkan opsi cadangan dapat mempercepat transisi ke sistem baru.
Dari sisi infrastruktur, Loblaw dan EAIGLE berhasil menekan biaya hingga 90-95% dengan mengganti gerbang intermodal arc yang mahal dengan tiang rendah dan empat kamera biasa. Hoss mengungkapkan bahwa setup lama dirancang untuk gerbang bergaya bandara yang tidak diperlukan untuk operasi darat. Kamera yang digunakan adalah kamera keamanan standar, dan analisis AI berjalan sebagai aliran paralel, sehingga instalasi kamera yang ada sering kali dapat dimanfaatkan ulang.
Saat ini, sepuluh lokasi sedang dalam penilaian, dan fasilitas berikutnya akan beroperasi pada pertengahan November sebagai fase pertama. Ambisi Loblaw adalah menerapkan gerbang otomatis di hampir setengah dari 26 pusat distribusi mereka dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini sejalan dengan tren industri logistik global yang semakin mengandalkan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan pertumbuhan e-commerce dan logistik yang pesat, perusahaan ritel dan distributor nasional dapat mempertimbangkan adopsi teknologi serupa untuk mempercepat alur barang, terutama di pusat distribusi utama seperti Jabodetabek dan Surabaya. Namun, tantangan utama bukan pada teknologi kamera, melainkan pada integrasi data antar sistem yang sering kali terfragmentasi. Kesiapan infrastruktur digital dan manajemen perubahan menjadi kunci agar investasi otomatisasi tidak sekadar menjadi biaya besar tanpa hasil optimal.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat perusahaan logistik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mampu mengejar ketertinggalan dalam adopsi gerbang otomatis? Apakah mereka akan mengikuti jejak Loblaw dengan merombak total infrastruktur, atau mengadopsi pendekatan bertahap yang lebih sesuai dengan kondisi lokal?



