China Uji Coba Komputasi AI di Orbit, Tantang Dominasi Data Center Bumi
Baca dalam 60 detik
- China meluncurkan satelit Supercomputing-1 yang mampu memproses data pengamatan Bumi langsung di antariksa, memangkas waktu pemrosesan dari jam ke menit.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar China membangun jaringan komputasi terintegrasi yang melibatkan industri roket, satelit, semikonduktor, dan AI.
- Inisiatif ini berpotensi mengubah lanskap infrastruktur digital global dan membuka peluang kolaborasi teknologi bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

China mencatatkan tonggak baru dalam perlombaan komputasi antariksa dengan meluncurkan satelit Supercomputing-1 yang dirancang untuk memproses data pengamatan Bumi langsung di orbit, bukan mengirimkannya ke pusat data di darat. Satelit ini merupakan bagian dari sembilan muatan yang diluncurkan menggunakan roket Kinetica 1 Y18 milik penyedia jasa peluncuran komersial CAS Space pada 20 September lalu.
Satelit yang dikembangkan oleh perusahaan infrastruktur komputasi AI China, S-AIDC, ini membawa muatan optik resolusi tinggi dan komputer AI pemroses citra. Dengan kemampuan tersebut, satelit dapat mengidentifikasi objek seperti kebakaran hutan, badai, banjir, atau kapal secara mandiri, lalu hanya mengirimkan hasil analisis yang relevan ke stasiun bumi. Pendekatan ini dinilai lebih efisien ketimbang mengirim data mentah dalam jumlah besar.
Langkah China ini bukan sekadar eksperimen teknologi. Pada awal Juni, pemerintah China menyetujui pembentukan Space Computing Industry Innovation Center, sebuah inisiatif yang menyatukan produsen roket dan satelit, pabrik semikonduktor, serta perusahaan teknologi AI untuk membangun jaringan komputasi antariksa. Tujuannya jelas: mengurangi ketergantungan pada pusat data darat yang semakin terbebani oleh ledakan kebutuhan AI.
Tekanan terhadap infrastruktur darat menjadi pemicu utama. Pusat data AI yang menampung ratusan ribu akselerator mengonsumsi listrik dalam jumlah belum pernah terjadi sebelumnya, membebani jaringan listrik, serta memicu penolakan warga karena masalah lahan, air pendingin, dan kebisingan. Menurut laporan, pada kuartal kedua 2026, proyek pusat data senilai US$68 miliar tertunda akibat resistensi masyarakat.
Antariksa menawarkan alternatif yang menarik: lahan tak terbatas, akses energi surya, suhu dingin konstan, dan ruang hampa yang senyap. SpaceX melalui satelit AI1 berencana menyediakan daya komputasi puncak 150 kW dan membangun fasilitas Gigasat seluas 11 juta kaki persegi untuk memproduksi 6.000 satelit guna mencapai target 1 GW per tahun pada 2027. Meski demikian, pendekatan China dengan satu satelit edge AI dianggap lebih praktis dan aplikatif untuk kebutuhan saat ini.
"Peluncuran satu satelit dengan kemampuan AI di tepi jaringan memang jauh dari pusat data orbit penuh, tetapi pendekatan China bisa menjadi aplikasi yang lebih praktis dan langsung untuk komputasi canggih di antariksa," demikian analisis Digitimes.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara kepulauan yang rawan bencana, kemampuan memproses data pengamatan Bumi secara real-time di orbit dapat mempercepat respons darurat, pemantauan cuaca, dan pengelolaan sumber daya alam. Namun, Indonesia masih bergantung pada teknologi asing dan belum memiliki infrastruktur komputasi antariksa sendiri. Kerja sama dengan China atau SpaceX bisa menjadi jalan pintas, tetapi juga menimbulkan ketergantungan strategis.
Pertanyaannya, akankah Indonesia hanya menjadi pasar bagi teknologi komputasi orbit, atau mulai membangun kapasitas sendiri? Dengan posisi geografis yang strategis dan kebutuhan data yang terus meningkat, adopsi komputasi tepi di satelit bisa menjadi lompatan besarโasalkan ada kemauan politik dan investasi riset yang serius.



