Rosie Huntington-Whiteley Ungkap Isi Kepala Model di Runway: Takut Jatuh hingga Cari Pintu Keluar
Baca dalam 60 detik
- Rosie Huntington-Whiteley menyebut pengalaman duduk di front row jauh berbeda dari berjalan di runway.
- Ia mengaku lebih menikmati mengamati koleksi secara utuh karena saat menjadi model fokus terpecah.
- Keterlibatannya dengan Burberry dan kecintaannya pada gaya Inggris menjadi sorotan di London Fashion Week.

Rosie Huntington-Whiteley mengungkapkan bahwa di balik gemerlap runway, para model sebenarnya diliputi kekhawatiran akan terjatuh dan berusaha mengingat jalur keluar. Pengakuan ini disampaikannya saat menghadiri peragaan Burberry musim semi 2027 di London Fashion Week, di mana ia duduk di barisan depan sebagai ambassador merek tersebut.
Perempuan 39 tahun itu mengaku telah lama meninggalkan rutinitas catwalk, namun pengalamannya sebagai model membuatnya sangat memahami tekanan yang dialami para model di belakang panggung. Menurutnya, transisi dari persiapan ke atas panggung berlangsung sangat cepat, dan sorotan kamera sering kali membuat model kehilangan orientasi. "Saya tahu betul apa yang terjadi di belakang panggung—kegugupan, fitting, menunggu, lalu tiba-tiba Anda didorong ke runway, dan semuanya selesai dalam sekitar tiga puluh detik," ujarnya kepada Vogue.
Sebagai penonton, Rosie kini menikmati peragaan dengan cara yang berbeda. Ia dapat menyaksikan keseluruhan koleksi secara utuh, sesuatu yang jarang bisa dilakukan seorang model karena perhatian mereka terbagi antara berjalan dengan baik dan mengingat arah keluar. "Saya menonton para model dengan empati yang besar. Saya memperhatikan cara mereka berjalan, pakaian yang dikenakan, dan bagaimana kain bergerak di tubuh," tambahnya.
Di luar dunia fesyen, Rosie juga berbicara tentang preferensi gaya musim gugur dan musim dingin. Ia mengaku lebih nyaman berpakaian untuk cuaca dingin karena darah Inggrisnya. "Saya suka momen ketika udara berubah dan Anda bisa mengenakan mantel yang layak lagi. Sepatu bot, rajutan, jaket kulit, perapian di rumah, makan siang panjang di hari Minggu," jelasnya. Baginya, musim gugur dan dingin menawarkan keleluasaan dalam berbusana dibandingkan musim panas yang menuntut penampilan minimalis.
Rosie juga menantikan waktu berkualitas bersama suaminya, aktor Jason Statham, dan putra mereka, Jack. Setelah tahun yang sibuk, ia ingin menikmati ritme yang lebih lambat di rumah. "Saya sangat menantikan lebih banyak waktu di rumah, bersama keluarga, dan menikmati ritme yang lebih tenang yang datang bersama bulan-bulan yang lebih dingin," tuturnya.
Hubungannya dengan Burberry telah terjalin selama beberapa tahun, dan ia merasa terhubung dengan warisan Inggris merek tersebut. Ia memuji gaya Inggris yang tampak tidak terlalu berusaha. "Orang Inggris sangat pandai tampil seolah tidak berusaha terlalu keras. Biasanya ada sesuatu yang sedikit tidak rapi atau tidak sopan dalam cara kita berpakaian, bahkan ketika kita berpakaian dengan indah," ujarnya.
"Saya menonton para model dengan empati yang besar. Saya memperhatikan cara mereka berjalan, pakaian yang dikenakan, dan bagaimana kain bergerak di tubuh."
— Rosie Huntington-Whiteley
Bagi industri fesyen Indonesia, pernyataan Rosie menyoroti realitas di balik panggung yang jarang terekspos. Model-model lokal juga menghadapi tekanan serupa, terutama dalam peragaan busana yang menuntut profesionalisme tinggi. Kesadaran akan kesehatan mental dan dukungan bagi para model menjadi isu yang semakin relevan, seiring dengan pertumbuhan pasar fesyen dalam negeri yang semakin kompetitif.
Ke depan, peran ambassador seperti Rosie tidak hanya soal promosi, tetapi juga membuka dialog tentang kondisi kerja di industri. Apakah industri fesyen global akan semakin memperhatikan kesejahteraan model, atau justru sebaliknya? Waktu yang akan menjawab, tetapi sorotan publik seperti ini setidaknya memicu kesadaran akan pentingnya empati di balik kilau runway.



