Timnas Indonesia Juara Naturalisasi di ASEAN Cup 2026: 17 dari 23 Pemain, Hanya 6 Lokal
Baca dalam 60 detik
- Dari 23 pemain yang dipanggil pelatih John Herdman, 17 di antaranya berstatus naturalisasi, menyisakan enam pemain lokal.
- Malaysia menjadi pesaing terdekat dengan lima naturalisasi dan tiga keturunan, sementara Vietnam mengandalkan empat pemain naturalisasi.
- Filipina justru memiliki pemain kelahiran luar negeri terbanyak, tetapi kebijakan paspor ganda membuat komposisi mereka berbeda secara administratif.

Komposisi skuad Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi sorotan setelah pelatih John Herdman memanggil 23 pemain dengan 17 di antaranya berstatus naturalisasi. Artinya, hanya enam pemain lokal yang masuk daftar akhir, sebuah proporsi yang belum pernah terjadi dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di turnamen regional.
Angka itu menempatkan Indonesia sebagai pengguna amunisi naturalisasi terbanyak di antara seluruh kontestan. Malaysia, yang selama ini dikenal agresif dalam program serupa, hanya membawa lima pemain naturalisasi dan tiga pemain keturunan. Vietnam melengkapi podium dengan empat naturalisasi, sedangkan Filipina memiliki cerita berbeda karena kebijakan kewarganegaraan ganda mereka.
Minimnya pemain lokal di skuad Merah Putih tidak lepas dari absennya dua nama yang sebelumnya diandalkan, Dony Tri Pamungkas dan Yakob Sayuri. Posisi keduanya diisi oleh Shayne Pattynama dan Rizky Eka Pratama, yang notabene memperkuat komposisi naturalisasi. Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana ketergantungan tim nasional pada pemain hasil diaspora.
Herdman juga membawa dua debutan keturunan, Luke Vickery yang resmi menjadi WNI pada Juli 2026 dan Dion Markx yang sudah berkarier di Indonesia sejak musim lalu. Selebihnya, wajah-wajah lama seperti Ivar Jenner, Jordi Amat, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Justin Hubner, Calvin Verdonk, Nathan Tjoe-A-On, dan Kevin Diks masih menjadi tulang punggung.
Di kubu Malaysia, pelatih Tan Cheng Hoe memanggil lima naturalisasi: Romel Morales, Sergio Aguero, Manuel Hidalgo, Bradley Tapp, dan Bergson da Silva. Tiga nama terakhir baru pertama kali memperkuat Harimau Malaya. Mereka juga diperkuat tiga pemain keturunan Dion Cools, Daniel Ting, dan Fergus Tierney yang lahir di luar negeri namun memiliki darah Malaysia.
Vietnam tidak ketinggalan. Empat pemain naturalisasi asal Brasil dan Prancis memperkuat The Golden Star, yakni Nguyen Xuan Son, Do Hoang Hen, Nguyen Tai Loc, dan Cao Pendant Quang Vinh. Sementara itu, Filipina memiliki jumlah pemain kelahiran luar negeri terbanyak, tetapi kebijakan paspor ganda membuat mereka tidak perlu melepas kewarganegaraan asal. The Azkals bisa memainkan pemain keturunan tanpa proses naturalisasi formal.
"Perbedaan regulasi kewarganegaraan antarnegara ASEAN membuat perbandingan jumlah naturalisasi tidak bisa dibaca secara hitam-putih," catat seorang pengamat sepak bola regional.
Bagi Indonesia, ledakan naturalisasi ini bukan sekadar soal strategi jangka pendek. Proses hukum yang terus berjalan hingga 2026 menunjukkan bahwa federasi dan pemerintah melihat jalur ini sebagai solusi cepat untuk meningkatkan daya saing di level Asia. Namun, ketergantungan pada pemain diaspora memunculkan risiko jangka panjang: pembinaan usia muda bisa terabaikan jika hasil instan terus menjadi prioritas.
Di sisi lain, ASEAN Cup 2026 menjadi panggung pembuktian apakah pendekatan ini mampu membawa Indonesia melampaui prestasi sebelumnya. Dengan hanya enam pemain lokal, beban untuk membuktikan bahwa tim ini tetap memiliki identitas nasional yang kuat berada di pundak Herdman dan para pemain naturalisasi.
Ke depan, publik patut menantikan apakah komposisi serupa akan menjadi norma di turnamen-turnamen berikutnya, atau justru menjadi pemicu evaluasi besar-besaran terhadap arah pembinaan sepak bola nasional. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin sepak bola ASEAN akan terbagi menjadi dua kubu: negara yang mengandalkan diaspora dan negara yang setia pada produk lokal.



