Geo Debates: Aplikasi Debat Gaya TikTok yang Diklaim Mampu Pulihkan Kepercayaan Publik
Baca dalam 60 detik
- Geo Debates meluncurkan platform debat video pendek yang mempertemukan dua orang dengan pandangan berlawanan, disiarkan dalam format split-screen.
- Inisiatif ini muncul di tengah krisis kepercayaan global: hanya 22% orang percaya pada berita media sosial, dan 7 dari 10 orang mencurigai mereka yang berbeda nilai.
- Tantangan utama bukan teknologi, melainkan adopsi—platform butuh pengguna yang mau berdebat di depan kamera, sementara tren media sosial justru beralih ke konsumsi pasif.

Di saat dunia maya makin terpolarisasi, sebuah aplikasi baru bernama Geo Debates hadir dengan ambisi besar: mempertemukan dua orang yang berseberangan pendapat dalam debat video pendek, mirip format TikTok. Diluncurkan pada 22 September oleh Geo, jaringan pengetahuan yang didirikan salah satu pendiri The Graph, Yaniv Tal, platform ini berupaya menjawab krisis kepercayaan yang kian akut terhadap informasi daring.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Survei Edelman Trust Barometer 2026 terhadap hampir 34.000 responden di 28 negara menemukan bahwa 7 dari 10 orang di seluruh dunia enggan mempercayai individu yang nilai atau sumber informasinya berbeda. Ketidakpercayaan itu dianggap cukup dalam sehingga banyak yang berpikir orang lain akan bertindak melawan mereka. Data Reuters Institute memperkuat gambaran tersebut: media sosial dan video kini menjadi sumber berita online paling populer, namun hanya 22% orang yang menaruh kepercayaan pada berita yang mereka temukan di sana.
Geo Debates menawarkan mekanisme unik. Setiap debat berpusat pada satu klaim, dan pengguna wajib menyatakan posisi mereka sebelum sistem mencocokkan dengan lawan yang mengambil sikap berlawanan. Keduanya berdebat secara bergantian dengan durasi terbatas; mikrofon lawan mati saat satu berbicara, mencegah saling potong. Rekaman lalu digabung menjadi klip split-screen bersubtitle dan dipublikasikan ke feed vertikal. Penonton memberikan suara siapa yang argumennya lebih kuat, dan dapat membuka setiap klaim untuk melihat dukungannya. Klaim ditandai sebagai fakta atau opini, tetapi platform tidak memutuskan kebenarannya.
Pendiri Geo, Yaniv Tal, menegaskan bahwa format ini terinspirasi tradisi debat dalam demokrasi dan sains. "Untuk mendekati kebenaran, kita harus mampu menguji isu dari berbagai sisi. Demokrasi memiliki tradisi debat yang kaya, begitu pula komunitas ilmiah. Institusi apa pun yang mencari kebenaran atau kesepakatan memerlukan debat yang sehat, dan saya pikir kita perlu membawanya ke era internet," ujarnya.
Meski konsepnya menarik, efektivitas Geo Debates masih dipertanyakan. Riset menunjukkan bahwa debat lintas pandangan tidak selalu melunakkan sikap. Studi tahun 2024 yang melibatkan 582 pemilih Partai Buruh dan Konservatif Inggris menemukan bahwa simpati terhadap pihak lain meningkat terutama ketika pasangan setuju atau menemukan kesamaan; ketika mereka hanya berbeda, simpati tidak naik. Geo hanya mempertemukan orang yang tidak setuju—kondisi di mana efek positif paling lemah. Namun, studi itu juga mencatat bahwa kemauan berdialog lintas partai tetap meningkat hingga dua hingga tiga minggu, bahkan di antara pasangan yang berbeda pendapat.
Kritik lain menyoroti potensi bias dalam sistem voting. Penonton cenderung menilai siapa yang tampil lebih meyakinkan, bukan siapa yang memiliki bukti lebih kuat. Data Reuters Institute menunjukkan audiens sudah memisahkan daya tarik dari kepercayaan: mereka menilai kreator berita lebih menghibur dan relatable daripada media tradisional, tetapi kurang dapat dipercaya dan kurang imparsial. Dengan demikian, pemungutan suara bisa memberi keuntungan pada pembicara yang percaya diri meski argumennya lemah.
Selain itu, model Geo menuntut partisipasi aktif: setiap debat memerlukan dua orang yang bersedia berdebat di depan kamera, dan catatan klaim membutuhkan kurator untuk menambahkan sumber. Ini bertentangan dengan tren yang diidentifikasi Reuters Institute, di mana semakin sedikit orang yang memposting di platform sosial dan lebih banyak yang sekadar menggulir. Klip split-screen juga berisiko dipotong menjadi satu sisi saja ketika menyebar di luar Geo, sehingga konteks debat bisa hilang.
Bagi Indonesia, kehadiran Geo Debates menawarkan alternatif di tengah maraknya disinformasi dan polarisasi menjelang tahun politik. Namun, tantangan adopsi di Tanah Air tidak ringan. Budaya debat publik di Indonesia masih terbatas, dan platform digital besar seperti TikTok, Instagram, dan X sudah mendominasi perhatian. Jika Geo ingin masuk, ia harus beradaptasi dengan konteks lokal: bahasa, isu-isu yang relevan, serta kolaborasi dengan komunitas dan lembaga literasi digital. Tanpa itu, aplikasi ini berisiko menjadi eksperimen yang hanya dinikmati kalangan terbatas.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Geo Debates mampu memperbaiki kepercayaan, tetapi apakah cukup banyak orang mau berhenti menggulir dan mulai berdebat di depan kamera. Tal membangun aplikasi ini agar argumen bertahan lebih lama dari feed, tetapi pada akhirnya, adopsi masiflah yang akan menentukan apakah ia benar-benar mengubah cara kita berdiskusi di internet.



