Surat Terbuka ke PBB: Dunia Desak Energi Bersih Merata Sebelum 2030
Baca dalam 60 detik
- Koalisi tokoh global menyerahkan surat ke PBB yang menuntut akses energi bersih universal pada 2030, dengan tenaga surya sebagai tulang punggung.
- Kapasitas pabrik panel surya di Tiongkok dan India baru terpakai separuh, sementara banyak negara masih menjadikan energi bersih sekadar tambahan, bukan pengganti bahan bakar fosil.
- Bagi Indonesia, target ini menjadi ujian komitmen transisi energi di tengah dorongan hilirisasi mineral dan kebutuhan listrik yang terus tumbuh.

Sejumlah tokoh iklim dan aktivis internasional menyerahkan surat terbuka kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan percepatan transisi energi, dengan target tunggal: akses energi bersih untuk semua orang di seluruh dunia pada 2030. Surat itu dibacakan di sela-sela Pekan Iklim New York, sebuah pertemuan tahunan para pakar yang tahun ini berlangsung di tengah minimnya momentum politik global.
Langkah tersebut muncul ketika suhu global diperkirakan mencetak rekor baru pada 2026, dan berpotensi kembali dilampaui pada 2027 seiring menguatnya El Nino. Serangkaian bencana iklim—dari gelombang panas Eropa yang menewaskan puluhan ribu orang hingga banjir Nepal yang menghapus permukiman—telah memperkuat peringatan ilmuwan bahwa ambang batas kritis Bumi semakin dekat. Namun, respons politik justru dinilai jalan di tempat.
Negara adidaya tuan rumah pertemuan, Amerika Serikat, disebut tengah gencar mencari "dominasi energi" berbasis minyak. Bahkan Kanada, yang dipandang sebagai harapan pembaruan demokrasi di Amerika, sibuk membangun jalur pipa minyak dan gas baru demi menopang ekonominya. Inggris, yang tahun lalu berhasil menyingkirkan batu bara dari sistem kelistrikannya, kini dikabarkan bersiap memulai pengeboran baru di Laut Utara. Prioritas politik tampak bergeser: ketakutan akan agen kecerdasan buatan yang menembus firewall lebih mampu memicu tindakan ketimbang ancaman kebakaran hutan di Eropa.
Di tengah suramnya situasi, satu titik terang tetap bersinar: pertumbuhan tenaga surya, angin, dan baterai. Trilogi energi bersih itu telah melampaui basisnya di Tiongkok dan menyebar cepat ke berbagai penjuru dunia—dari Karachi hingga California, dari Kuba hingga pelosok Afrika. Panel surya dipasang lebih cepat daripada pertumbuhan sumber energi mana pun dalam sejarah. Dampaknya mulai terlihat: Tiongkok tampaknya telah memulai kurva penurunan emisi beberapa tahun lebih awal dari perkiraan banyak pihak, sementara California berhasil memangkas separuh penggunaan gas untuk pembangkit listrik di ekonomi terbesar keempat dunia itu.
Meski demikian, laju transisi dinilai belum cukup mengejar fisika pemanasan global. Kelompok masyarakat sipil pun berupaya mendorong akselerasi energi bersih, karena transisi yang berjalan cepat masih perlu dipacu lebih cepat lagi. Peluangnya terbuka: Tiongkok dan India belum mengoptimalkan separuh kapasitas pabrik panel surya mereka, dan terlalu banyak negara masih menggunakan energi bersih sebagai sumber tambahan, bukan sebagai pengganti bahan bakar fosil.
"Jalan ke depan memang sulit, tetapi arahnya sudah jelas. Kami menginginkan tenaga surya untuk semua orang, di mana pun, sebelum dekade ini berakhir. Jika ada satu hal yang menyatukan kita, itu adalah fakta bahwa kita hidup di bawah matahari yang sama. Persatuan itu adalah kekuatan kita, dan kita harus menggunakannya untuk bertindak sekarang."
Surat tersebut ditandatangani oleh sederet nama berpengaruh: Senator Bernie Sanders dari Amerika Serikat, Yeb Saño dari Filipina yang dikenal vokal pascataifun dahsyat, diplomat Laurence Tubiana yang berperan dalam kelahiran Perjanjian Paris, aktris Jane Fonda, Sekretaris Global Solar Council Danny Kennedy, Presiden Fossil Fuel Treaty Initiative Kumi Naidoo dari Afrika Selatan, pengusaha energi terbarukan Muhammad Mustafa Amjad dari Pakistan, hingga pemanjat tebing legendaris Alex Honnold yang menjalankan organisasi nirlaba tenaga surya.
Bersamaan dengan penyerahan surat, sebuah mural raksasa di dekat High Line, New York City, akan diresmikan. Pesannya singkat namun tegas: "clean energy now"—tiga kata yang diyakini merangkum solusi bagi berbagai krisis yang saling terkait.
Konteks Indonesia
Seruan global ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Sebagai negara dengan potensi surya melimpah—terutama di Nusa Tenggara dan Sumatra—Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan energi terbarukan. Target bauran energi terbarukan 23% pada 2025 dan net zero emission 2060 menuntut lompatan besar, sementara ketergantungan pada batu bara masih dominan. Dorongan hilirisasi mineral untuk baterai kendaraan listrik bisa menjadi jembatan, tetapi tanpa percepatan pembangkit surya dan angin, transisi hanya akan berjalan setengah hati. Desakan masyarakat sipil global juga dapat menekan pemerintah untuk mempercepat regulasi dan insentif fiskal bagi energi bersih, sekaligus membuka peluang investasi asing di sektor panel surya dan penyimpanan energi.
Menjelang Pekan Iklim New York tahun depan, lanskap fisik dan politik bisa berubah drastis. El Nino diprediksi mengubah peta dunia secara harfiah, sementara gelombang gerakan masyarakat yang menuntut aksi nyata berpotensi memaksa para pemimpin mengambil langkah berani. Dengan teknologi yang semakin matang dan harga yang terus turun, planet yang berjalan terutama dengan matahari dan angin bukan lagi utopia. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menjadi bagian dari percepatan itu, atau tetap tertinggal dalam transisi yang tak terhindarkan?



