Tekever Tembus Valuasi Rp99 Triliun, Startup Drone AI Eropa Panen Berkah Perang Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Tekever mengantongi pendanaan 580 juta dolar AS dengan valuasi 6,4 miliar dolar AS, dipimpin University of California Investments dan Baillie Gifford.
- Lebih dari 50.000 jam terbang operasional drone Tekever tercatat di Ukraina sejak 2022, menjadi bukti uji medan perang yang langka bagi startup pertahanan Eropa.
- Gelombang belanja militer negara-negara Eropa membuka peluang besar bagi industri pertahanan dalam negeri Indonesia untuk meniru model kemitraan startup-teknologi.

Perusahaan pengembang drone berbasis kecerdasan buatan Tekever resmi mengumumkan valuasi 6,4 miliar dolar AS (sekitar Rp99 triliun) setelah menutup putaran pendanaan senilai 580 juta dolar AS. Langkah ini menandai salah satu pendanaan terbesar di sektor pertahanan Eropa yang tengah menggenjot belanja militer akibat perang Ukraina.
Tekever, perusahaan patungan Portugal-Inggris, merancang sistem otonom berpenggerak AI, termasuk drone pengintai. Klaim utama mereka: armada drone-nya telah mencatat lebih dari 50.000 jam terbang operasional di Ukraina sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022. Angka itu menjadi pembeda di pasar yang biasanya didominasi kontraktor pertahanan raksasa.
Putaran pendanaan dipimpin University of California Investments dan Baillie Gifford, dengan partisipasi Merlyn Advisors, Crescent Cove, Ventura Capital, dan Iberis Capital. Sebelumnya, pada Juli, Kementerian Pertahanan Inggris memilih Tekever untuk menyediakan teknologi pengawasan dalam program bernilai hingga 400 juta poundsterling (sekitar 530 juta dolar AS) selama sepuluh tahun.
Founder sekaligus CEO Tekever, Ricardo Mendes, menyatakan bahwa kecerdasan buatan, otonomi, dan kapabilitas teknologi berdaulat akan menjadi fondasi keamanan masyarakat demokratis di dekade mendatang. Menurutnya, suntikan modal ini memungkinkan perusahaan bergerak lebih cepat, memperluas skala, dan membangun pemimpin teknologi global dari Eropa.
"Keamanan Eropa akan semakin bergantung pada kemampuan membangun perusahaan teknologi yang mampu berinovasi cepat, berskala industri, dan menghadirkan kapabilitas sesuai kebutuhan operasional nyata," ujar Ben Wallace, portfolio manager Merlyn Advisors dan mantan Menteri Pertahanan Inggris.
Tekever bukan satu-satunya pemain. Gelombang pendanaan besar juga mengalir ke Helsing dan Quantum Systems asal Jerman yang masing-masing mengumpulkan 1,8 miliar dolar AS dan 1 miliar euro pada Juli. Cambridge Aerospace dari Inggris meraih 300 juta dolar AS pada Agustus, sementara Stark, startup sistem tak berawak berbasis AI asal Jerman, mengantongi 500 juta euro pada Juni. Pola ini menandakan pergeseran lanskap industri pertahanan: startup teknologi kini diperhitungkan setara kontraktor tradisional.
Bagi Indonesia, fenomena ini menyimpan pelajaran strategis. Anggaran pertahanan nasional terus meningkat, dan kebutuhan akan sistem pengawasan maritim serta udara semakin mendesak. Namun, ekosistem startup pertahanan dalam negeri masih tertinggal jauh. Kemitraan antara universitas, dana investasi global, dan kementerian pertahanan seperti yang dilakukan Tekever bisa menjadi cetak biru untuk membangun kemandirian teknologi militer tanpa sepenuhnya bergantung pada impor.
Pertanyaannya, akankah Indonesia mengambil pelajaran dari lonjakan investasi pertahanan Eropa ini, atau tetap menjadi pasar bagi produk asing sementara talenta lokal kesulitan mendapatkan modal dan akses kontrak pemerintah?



