BlackRock: Agen AI Bakal Beli Daya Komputasi Sendiri Pakai Stablecoin
Baca dalam 60 detik
- BlackRock menilai agen AI otonom akan menjadi pendorong utama adopsi aset digital karena mampu bertransaksi tanpa campur tangan manusia.
- Stablecoin diprediksi menjadi instrumen pertama yang diuntungkan, sementara kontrak komputasi terstandar berpotensi menjadi aset yang diperdagangkan di masa depan.
- Meski masih tahap awal, langkah ini bisa mengubah lanskap pembayaran digital dan menantang dominasi sistem keuangan tradisional, termasuk di kawasan Asia Pasifik.

BlackRock, manajer aset terbesar dunia, memproyeksikan bahwa agen kecerdasan buatan (AI) otonom akan segera membeli daya komputasi, data, dan berbagai layanan digital menggunakan stablecoin. Dalam makalah terbarunya, BlackRock menyebut AI sebagai penyedia "kecerdasan asli mesin", sedangkan aset digital berperan sebagai infrastruktur pembayaran dan penyelesaian transaksi yang memungkinkan agen bertindak atas keputusannya sendiri.
Menurut BlackRock, agen AI yang menjalankan tugas tertentu—misalnya meminta data, memesan layanan, atau membeli kapasitas komputasi—dapat langsung melakukan pembayaran tanpa menunggu konfirmasi manusia. Stablecoin dianggap sebagai kandidat utama karena nilainya yang relatif stabil, sehingga cocok untuk penetapan harga layanan, sementara jaringan blockchain mendukung transaksi 24 jam nonstop. BlackRock juga menyoroti protokol x402 dari Coinbase sebagai salah satu mekanisme yang memungkinkan agen membayar sumber daya online, termasuk panggilan API.
Dalam jangka panjang, BlackRock melihat peluang lebih besar pada komoditas komputasi. Seiring meningkatnya kebutuhan pemrosesan AI, klaim terstandar atas kapasitas komputasi berpotensi diperdagangkan, dibiayai, atau dijadikan jaminan melalui infrastruktur aset digital. Makalah tersebut mengutip estimasi analis bahwa pendapatan dari bisnis cloud utama Amazon, Microsoft, dan Google bisa menembus sekitar USD1,1 triliun pada 2030.
Meski begitu, BlackRock mengakui bahwa pembayaran oleh agen AI masih berada di tahap awal. Pasar likuid untuk kontrak komputasi terstandar belum terbentuk, dan adopsi masih terbatas pada eksperimen. Namun, BlackRock mencatat bahwa jaringan pembayaran konvensional pun mulai beradaptasi dengan perdagangan agen. Ini menandakan bahwa pergeseran menuju ekonomi mesin tidak bisa diabaikan oleh pemain keuangan tradisional.
"AI memberikan kecerdasan asli mesin, sedangkan aset digital menyediakan infrastruktur pembayaran dan penyelesaian yang dibutuhkan agen untuk bertindak," tulis BlackRock dalam makalah tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, stablecoin dapat mempercepat inklusi keuangan dan efisiensi transaksi lintas batas, terutama untuk sektor e-commerce dan layanan digital yang semakin terhubung dengan AI. Di sisi lain, regulator seperti Bank Indonesia dan OJK perlu mengantisipasi risiko pencucian uang, volatilitas, serta perlindungan konsumen jika agen AI bertransaksi secara mandiri. Kawasan Asia Pasifik sendiri disebut BlackRock sebagai laboratorium penting bagi stablecoin yang masuk ke keuangan teregulasi, dengan berbagai aturan dan kasus penggunaan yang mulai dipetakan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah agen AI akan bertransaksi sendiri, melainkan seberapa cepat ekosistem pembayaran dan regulasi di Indonesia siap menerima gelombang tersebut. Jika tidak diantisipasi, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar pengguna tanpa memiliki kendali atas infrastruktur pembayaran digital yang semakin didominasi mesin.



