Lib Dem Tawarkan Pemotongan Pajak, Sandaran pada Pertumbuhan Ekonomi Uni Eropa
Baca dalam 60 detik
- Partai Liberal Demokrat Inggris mengusulkan pemotongan pajak miliaran pound yang menyasar pemilih konservatif, dengan pembiayaan dari potensi pertumbuhan ekonomi jika bergabung kembali ke Pasar Tunggal Uni Eropa.
- Janji tersebut menuai keraguan karena lembaga think tank Institute for Fiscal Studies menilai biayanya jauh melampaui anggaran £17 miliar yang disiapkan, dan pemotongan baru berlaku pada tahun kelima setelah pemilu berikutnya.
- Strategi ini menegaskan posisi Lib Dem yang menolak koalisi dengan Partai Konservatif dan Reform UK, namun membuka peluang kerja sama dengan Partai Buruh, sekaligus membidik 27 kursi yang mereka kalah tipis pada 2024.

Partai Liberal Demokrat (Lib Dem) Inggris menutup konferensi tahunan mereka di Brighton dengan pengumuman kebijakan fiskal yang mencuri perhatian: pemotongan pajak senilai miliaran pound yang tidak hanya menyasar kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga mereka yang berada di bracket tarif 40%. Pemimpin Lib Dem, Sir Ed Davey, menyampaikan janji ini sebagai upaya menarik pemilih yang selama ini cenderung mendukung Partai Konservatif, sembari menegaskan bahwa pembiayaannya akan berasal dari pertumbuhan ekonomi yang diyakini muncul jika Inggris kembali ke Pasar Tunggal dan serikat pabean Uni Eropa.
Langkah tersebut menandai pergeseran nada konferensi Lib Dem tahun ini. Aksi-aksi teatrikal yang biasanya mewarnai acara—dari terjatuh dari papan paddle hingga menaiki roller coaster—dikurangi. Davey berulang kali menyebut bahwa ini adalah "pertarungan hidup kami", dengan fokus utama pada Partai Reform UK. Namun, ia menyimpan satu pengumuman besar untuk pidato penutupnya: pemotongan pajak yang, menurut perhitungan partai, akan menelan biaya £17 miliar.
Yang membedakan Lib Dem dari Reform UK—yang juga mengusulkan kenaikan ambang batas penghasilan bebas pajak—terletak pada sumber pendanaannya. Reform UK, di bawah Nigel Farage, berencana memangkas belanja kesejahteraan untuk menutup biaya pemotongan pajak. Sementara Davey menolak pendekatan itu dan memilih mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari integrasi kembali dengan Uni Eropa. Dengan demikian, Lib Dem menempatkan Brussels di jantung kebijakan fiskalnya, sebuah kontras tajam dengan Partai Konservatif yang juga berkomitmen memangkas kesejahteraan dan mendukung Brexit.
Namun, rencana ini mengandung risiko besar. Lib Dem bersikeras bahwa kesepakatan dengan Uni Eropa dapat dinegosiasikan dalam waktu satu tahun jika mereka berkuasa setelah pemilu berikutnya. Sejumlah ekonom, termasuk Kantor Anggaran Independen (OBR), meyakini bahwa keanggotaan di Pasar Tunggal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Inggris. Akan tetapi, sejarah politik menunjukkan bahwa negosiasi dengan Uni Eropa sering kali lebih rumit dari yang dibayangkan para pemimpin partai. Selain itu, mendasarkan pemotongan pajak pada proyeksi pertumbuhan ekonomi masa depan adalah langkah spekulatif.
Ketidakpastian semakin diperkuat oleh penilaian Institute for Fiscal Studies (IFS), sebuah lembaga think tank independen. IFS menyatakan bahwa kebijakan yang tertuang dalam siaran pers Lib Dem akan memakan biaya "jauh lebih besar" dari £17 miliar yang dianggarkan. Partai juga mengakui bahwa pemotongan pajak baru akan berlaku pada tahun kelima setelah pemilu berikutnya. Artinya, bahkan jika Lib Dem memenangkan pemilu dan berhasil menegosiasikan kesepakatan dengan Uni Eropa, pemotongan pajak tersebut baru bisa dinikmati sekitar delapan tahun dari sekarang.
Terlepas dari keraguan tersebut, pesan politik yang disampaikan Davey tampaknya berhasil meredam kritik internal. Sebelum konferensi, sejumlah anggota parlemen dari partainya secara terbuka mempertanyakan arah dan ambisi kepemimpinannya. Namun, setelah pidato, seorang MP yang sebelumnya skeptis mengaku bahwa pidato itu adalah yang selama ini mereka tunggu. Meski demikian, sebagian kecil tetap tidak nyaman karena kebijakan utama partai justru berupa pemotongan pajak yang lebih menguntungkan kelompok mampu. Salah satu MP bahkan berharap fokus dialihkan pada pemilih muda dengan mengurangi beban pinjaman mahasiswa.
Strategi Lib Dem kini tertuju pada 27 kursi di mana mereka finis kedua pada pemilu 2024, yang mayoritas dikuasai Partai Konservatif. Pemotongan pajak Davey dirancang untuk merayu pemilih di daerah-daerah tersebut. Namun, Partai Konservatif sudah melancarkan serangan dengan menyebut Lib Dem sebagai "anjing peliharaan Partai Buruh". Serangan ini muncul karena Davey secara eksplisit menolak berkoalisi dengan Partai Konservatif dan Reform UK setelah pemilu berikutnya, tetapi tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan Partai Buruh.
Dengan modal 72 kursi yang diraih pada pemilu lalu—rekor bagi Lib Dem—partai ini meninggalkan Brighton dengan kepercayaan diri tinggi. Davey menegaskan tidak ada batas atas ambisinya. Ia pernah menjabat dalam pemerintahan koalisi bersama Konservatif di bawah David Cameron, dan kini matanya tertuju pada periode kedua di kursi kekuasaan. Pertanyaannya, apakah janji pemotongan pajak yang bergantung pada pertumbuhan ekonomi Uni Eropa ini akan cukup meyakinkan pemilih, atau justru menjadi bumerang karena dianggap tidak realistis?



