F-22 Raptor Bukan Jet Tempur Tercepat: Lima Pesawat Lawas Ini Justru Lebih Cepat
Baca dalam 60 detik
- F-22 Raptor, jet tempur generasi keenam, memiliki kecepatan maksimum Mach 1,95, namun beberapa pesawat tempur generasi lawas dari Soviet dan Israel mampu melampauinya.
- MiG-25 Foxbat menjadi yang tercepat dengan Mach 2,8, diikuti Su-27 Flanker (Mach 2,025), MiG-23 Flogger (Mach 2,02), Kfir (Mach 2), dan MiG-29 Fulcrum (Mach 1,98).
- Meski kalah dalam hal kecepatan puncak, F-22 tetap unggul berkat teknologi siluman, avionik canggih, dan kemampuan supercruise yang tidak dimiliki para pesaingnya.

Dominasi Lockheed Martin F-22 Raptor sebagai jet tempur tercanggih di dunia tidak serta-merta menjadikannya yang tercepat. Sejumlah pesawat tempur generasi tua dari Uni Soviet dan Israel ternyata memiliki kecepatan maksimum di atas Mach 1,95 yang dimiliki Raptor, mengungkap sisi lain persaingan teknologi kedirgantaraan global.
F-22, yang menjadi tolok ukur generasi keenam, mengandalkan dua mesin Pratt & Whitney F119-PW-100 dengan total daya dorong 70.000 pon. Kemampuan supercruise—terbang melampaui kecepatan suara tanpa afterburner—membuatnya efisien dalam menjelajah pada Mach 1,5. Namun, keterbatasan anggaran membuat Angkatan Udara AS hanya mengoperasikan kurang dari 200 unit, sehingga setiap unit menjadi aset strategis yang mahal.
Di sisi lain, Uni Soviet pada era Perang Dingin menempuh pendekatan berbeda: mengutamakan kecepatan puncak dan akselerasi. MiG-25 Foxbat, yang mulai bertugas pada 1970, adalah contoh ekstrem. Ditenagai dua mesin Tumansky R-15B-300, jet ini mampu mencapai Mach 2,8 (1.850 mph) dan bahkan pernah dilaporkan menyentuh Mach 3,2 dalam kondisi darurat, meski mesinnya berisiko overheat. Hingga kini, MiG-25 masih dioperasikan sejumlah negara seperti Libya dan Suriah.
Selain MiG-25, ada MiG-29 Fulcrum yang diperkenalkan 1983 sebagai penantang F-15 dan F-16. Dengan dua mesin Isotov RD-33, jet ini mencapai Mach 1,98 (1.520 mph) dan masih digunakan puluhan negara—788 unit aktif menurut World Air Forces 2025. MiG-23 Flogger, yang lebih tua (1970), justru lebih cepat dengan Mach 2,02 (1.550 mph) berkat mesin Tumansky berdaya dorong hingga 25.350 pon dengan afterburner. Meski tidak lagi dioperasikan angkatan udara besar, beberapa negara Afrika dan Asia masih menerbangkannya.
Dari Israel, IAI Kfir—yang berarti "anak singa"—lahir akibat embargo Prancis. Berbasis Mirage 5, Kfir mengadopsi avionik dan mesin General Electric J79 versi lisensi, menghasilkan daya dorong 15.000 pon dan kecepatan Mach 2 (1.516 mph). Diperkenalkan 1975, sekitar 220 unit diproduksi dan masih bertugas di Kolombia. Sementara itu, Sukhoi Su-27 Flanker (1986) dirancang untuk menandingi F-14 dan F-15. Dengan dua mesin Lyulka AL-31F, jet ini mencapai Mach 2,025 (1.553 mph) dan terkenal akan manuver Cobra. Meski hanya sekitar 400 unit diproduksi, Su-27 masih aktif di Rusia dan Ukraina.
"Kecepatan tinggi memang memberikan keunggulan taktis, tetapi dalam pertempuran modern, siluman dan perang elektronik jauh lebih menentukan," ujar seorang analis pertahanan yang tidak ingin disebutkan namanya.
Perbandingan ini menyoroti filosofi desain yang berbeda: Soviet mengorbankan stealth dan avionik demi kecepatan dan manuver, sementara AS memilih keseimbangan dengan teknologi siluman. Namun, dalam skenario dogfight, F-22 tetap unggul karena radar lawan generasi tua kesulitan mendeteksinya. Meski demikian, kecepatan ekstrem MiG-25 menunjukkan bahwa pesawat lawas pun bisa menjadi ancaman jika digunakan dengan taktik yang tepat.
Bagi Indonesia, pelajaran ini relevan dalam modernisasi alutsista TNI AU. Program pengadaan jet tempur seperti Rafale dan KF-21 Boramae menunjukkan bahwa kecepatan bukan satu-satunya parameter. Kemampuan jaringan, sensor, dan integrasi dengan sistem pertahanan nasional menjadi pertimbangan utama. Ke depan, Indonesia perlu memastikan bahwa setiap platform yang dibeli tidak hanya cepat, tetapi juga mampu beroperasi dalam ekosistem perang multidomain.
Pertanyaannya, akankah negara-negara berkembang seperti Indonesia lebih memilih jet tempur bekas yang cepat namun rentan, atau berinvestasi pada teknologi generasi baru yang lebih mahal tetapi relevan untuk dekade mendatang?



