Mantan Kekasih Presley Gerber Murka: "Kamu Layak Hidup Lebih Lama"
Baca dalam 60 detik
- Charlotte D'Alessio meluapkan kemarahan atas kematian mantan kekasihnya, Presley Gerber, yang dinilai terlalu cepat.
- Kematian putra supermodel Cindy Crawford itu tengah diselidiki sebagai dugaan overdosis oleh kepolisian Santa Monica.
- Keluarga meminta privasi, sementara publik menanti hasil resmi penyebab kematian dari otoritas medis Los Angeles.

Charlotte D'Alessio, mantan kekasih Presley Gerber, akhirnya angkat bicara setelah kepergian putra supermodel Cindy Crawford itu. Dalam unggahan di media sosial, ia mengaku sangat marah karena merasa Presley masih pantas mendapatkan waktu hidup yang lebih panjang. "Kamu layak mendapatkan lebih banyak waktu. Kamu layak hidup lebih lama. Aku sangat marah soal ini," tulisnya, seperti dikutip dari unggahan Instagramnya.
Presley, yang meninggal pada Minggu (20/9/2026) di sebuah fasilitas rehabilitasi pada usia 27 tahun, dikenal sebagai figur yang tumbuh di bawah sorotan industri hiburan. Charlotte, model berusia 28 tahun, membagikan sejumlah foto kebersamaan mereka, termasuk momen berpelukan di atas dermaga. Ia menegaskan bahwa cinta yang mereka bagi adalah cinta yang murni dan ia berharap Presley masih bisa merasakan kasih sayang tersebut. "Aku akan selalu mengingatmu seperti ini," tulisnya pada sebuah video yang memperlihatkan Presley bermain dengan seekor anjing kecil putih.
Kabar kematian Presley pertama kali dikonfirmasi oleh perwakilan keluarga. Dalam pernyataan kepada PEOPLE, mereka meminta privasi selama masa sulit ini. Namun, duka keluarga segera bergeser menjadi sorotan publik ketika Los Angeles County Medical Examiner mengungkapkan bahwa kematian Presley sedang diselidiki sebagai dugaan overdosis. Kepolisian Santa Monica menerima laporan pada pukul 09.35 pagi waktu setempat dari sebuah alamat di Berkeley Street. Setibanya di lokasi, petugas menemukan seorang pria dewasa dalam keadaan meninggal.
Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian. Juru bicara kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih berjalan dan tidak ada bukti keterlibatan pihak lain. "Saat ini tidak ada indikasi tindak pidana," ujarnya. Pernyataan itu sekaligus menepis spekulasi liar yang beredar di media sosial. Namun, status "dugaan overdosis" telah memicu perdebatan lebih luas tentang tekanan yang dihadapi anak-anak selebritas, terutama mereka yang tumbuh besar di bawah lensa kamera.
"Kamu layak mendapatkan lebih banyak waktu. Kamu layak hidup lebih lama. Aku sangat marah soal ini." — Charlotte D'Alessio, mantan kekasih Presley Gerber.
Bagi publik Indonesia, kasus ini bukan sekadar berita duka selebritas internasional. Fenomena anak selebritas yang bergulat dengan ekspektasi publik dan masalah kesehatan mental semakin akrab di tanah air. Beberapa tahun terakhir, sejumlah figur muda dari keluarga terkenal di Indonesia juga menghadapi tekanan serupa, mulai dari stigmatisasi hingga kurangnya ruang aman untuk bercerita. Kematian Presley menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, kerentanan psikologis bisa dialami siapa saja, termasuk mereka yang secara materi berkecukupan.
Industri hiburan global, termasuk di Indonesia, kerap abai terhadap pentingnya pendampingan kesehatan mental berkelanjutan. Padahal, tekanan untuk tampil sempurna di media sosial dan ekspektasi warisan nama besar bisa menjadi beban berat. Kasus Presley menambah daftar panjang anak selebritas yang meninggal akibat dugaan penyalahgunaan zat, memperkuat seruan agar keluarga dan manajemen tidak hanya fokus pada karier, tetapi juga kesejahteraan psikologis.
Ke depan, hasil investigasi resmi akan menjadi penentu bagaimana publik memahami kepergian Presley. Jika benar overdosis, pertanyaan besar akan mengarah pada akses dan pengawasan di fasilitas rehabilitasi. Sementara itu, keluarga Gerber berhak atas ruang berkabung tanpa tekanan. Akankah tragedi ini mendorong industri hiburan—baik di Amerika Serikat maupun Indonesia—untuk lebih serius menangani kesehatan mental para talentanya?



