A Working Man: Film Aksi Jason Statham yang Gagal di Kritikus, Kini Kuasai Streaming Eropa
Baca dalam 60 detik
- A Working Man, satu-satunya film Jason Statham yang rilis 2025, berhasil menduduki posisi teratas di layanan streaming Eropa Chili selama periode 18–21 September.
- Meski ulasan kritikus beragam, film ini meraup hampir $90 juta global, dua kali lipat biaya produksinya, menunjukkan kekuatan pasar Statham di luar penilaian kritik.
- Kesuksesan di platform niche ini membuka peluang distribusi film aksi di pasar streaming regional, termasuk potensi dampaknya bagi industri hiburan Indonesia.

Film aksi A Working Man yang dibintangi Jason Statham menemukan penonton baru di layanan streaming Eropa, Chili, setelah sempat menuai beragam respons kritikus. Film yang dirilis pada 2025 ini menjadi yang paling banyak ditonton di platform tersebut sepanjang 18–21 September dan masih bertahan di lima besar hingga kini.
Meski tidak mendapat pujian universal, A Working Man mencatatkan pendapatan global mendekati $90 juta—dua kali lipat dari anggaran produksinya. Angka ini menegaskan bahwa daya tarik Statham sebagai bintang aksi tetap kuat, terutama di segmen penonton yang mengutamakan hiburan ketimbang ulasan kritis. Kesuksesan di Chili, layanan yang berbasis di Eropa, menunjukkan bahwa film aksi mainstream masih memiliki pasar signifikan di platform streaming regional yang mungkin kurang dikenal di Indonesia.
Disutradarai David Ayer, yang sebelumnya bekerja sama dengan Statham dalam The Beekeeper (2024), film ini juga melibatkan Sylvester Stallone sebagai salah satu penulis naskah. Kombinasi ini menciptakan formula yang akrab bagi penggemar aksi: latar belakang karakter yang sederhana namun adegan pertarungan yang menghibur. Statham berperan sebagai Levon Cade, seorang pekerja konstruksi di Chicago yang terlibat dalam misi membongkar operasi mafia Rusia untuk menyelamatkan putri atasannya.
"Statham tahu apa yang dia kuasai dan tetap setia pada genre itu," tulis Polygon dalam ulasannya, menyoroti konsistensi aktor tersebut di jalur film aksi.
Bagi industri hiburan Indonesia, fenomena ini mencerminkan pergeseran lanskap distribusi film. Platform streaming regional seperti Chili—yang mungkin belum beroperasi di Asia Tenggara—menjadi alternatif bagi film yang kurang mendapat perhatian di bioskop utama. Di Indonesia, layanan seperti Vidio, Catchplay, atau Netflix juga kerap menjadi tempat film aksi Hollywood menemukan penonton baru, terutama jika tersedia dengan subtitle Indonesia. Kesuksesan A Working Man di Chili bisa menjadi sinyal bagi distributor lokal untuk melirik film-film serupa yang gagal di box office namun berpotensi sukses di streaming.
Selain itu, dengan jadwal Statham yang padat—dua film pada 2026 dan dua lagi tahun depan, termasuk Beekeeper 2—pasar film aksi diperkirakan tetap ramai. Penggemar di Indonesia dapat menantikan perilisan film-film tersebut, baik di bioskop maupun platform digital. Pertanyaannya, akankah model distribusi regional seperti Chili diadopsi lebih luas di Asia Tenggara, ataukah platform global tetap mendominasi? Waktu yang akan menjawab, tetapi untuk sekarang, A Working Man membuktikan bahwa film yang dianggap biasa oleh kritikus bisa menjadi juara di layar streaming.



