Gladbach Tunjuk Alexander Blessin: Solusi Cepat Atasi Krisis di Awal Musim
Baca dalam 60 detik
- Borussia Mönchengladbach resmi menunjuk Alexander Blessin sebagai pelatih kepala baru dengan kontrak hingga 2028, menggantikan Eugen Polanski yang dipecat setelah kekalahan 0-5 dari Freiburg.
- Blessin memiliki rekam jejak melatih di berbagai liga Eropa, termasuk membawa Union Saint-Gilloise juara Piala Belgia dan menyelamatkan St. Pauli dari degradasi sebelum akhirnya terdegradasi pada musim berikutnya.
- Keputusan ini mencerminkan strategi manajemen Gladbach untuk segera bangkit dari keterpurukan, namun tantangan berat menanti mengingat posisi tim yang terpuruk di klasemen sementara Bundesliga.

Borussia Mönchengladbach bergerak cepat menunjuk Alexander Blessin sebagai pelatih kepala anyar, menggantikan Eugen Polanski yang didepak setelah kekalahan telak 0-5 dari Freiburg pada matchday ketiga Bundesliga. Blessin terikat kontrak hingga 2028, menandai era baru bagi klub berjuluk Die Fohlen tersebut.
Keputusan ini diambil setelah manajemen menilai performa tim di bawah Polanski tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Polanski, yang sebelumnya dipercaya menangani tim, harus menerima kenyataan pahit ketika Gladbach dihancurkan Freiburg. Sebagai langkah sementara, Jan-Moritz Lichte ditunjuk untuk mendampingi tim, namun ia juga gagal meraup poin penuh saat Gladbach kalah 3-4 dari Mainz di kandang sendiri pada akhir pekan lalu.
Rekam jejak Blessin di dunia kepelatihan cukup beragam. Ia memulai karier sebagai pelatih di akademi RB Leipzig, membesut tim U17 dan U19 sebelum akhirnya melatih klub Belgia Oostende pada 2020. Setelah itu, ia sempat menangani Genoa di Serie A pada Januari 2022, meski hanya bertahan kurang dari setahun. Pada Juli 2023, Blessin dipercaya menakhodai Union Saint-Gilloise dan berhasil mempersembahkan gelar Piala Belgia serta membawa klub tersebut finis sebagai runner-up di liga domestik.
Prestasi itu mengantarkannya ke FC St. Pauli untuk musim 2024/25. Bersama klub promosi tersebut, Blessin sukses menjaga St. Pauli tetap bertahan di Bundesliga pada musim pertamanya. Namun, pada musim 2025/26, ia tidak mampu menghindarkan St. Pauli dari degradasi, yang berujung pada pemutusan kerja sama. Kini, Blessin mendapat kesempatan baru di Gladbach dengan misi mengangkat performa tim yang tengah terpuruk.
Bagi Gladbach, penunjukan Blessin adalah taruhan strategis. Klub ini tengah mencari stabilitas setelah beberapa musim terakhir tampil inkonsisten. Kehadiran pelatih berusia 51 tahun itu diharapkan mampu membawa disiplin taktik dan semangat baru, terutama dengan pengalamannya menangani tim-tim yang berjuang di papan bawah. Namun, tekanan langsung akan dirasakan Blessin mengingat Gladbach memiliki basis suporter fanatik yang menuntut hasil instan.
Dalam konteks persepakbolaan Indonesia, keputusan Gladbach ini bisa menjadi cerminan bagaimana klub-klub Eropa merespons krisis dengan cepat. Liga Indonesia sering kali menghadapi situasi serupa, di mana pelatih dipecat setelah beberapa laga buruk. Manajemen klub di Tanah Air dapat belajar dari pendekatan Gladbach yang tidak ragu mengambil langkah tegas demi menyelamatkan musim. Selain itu, keberanian memberikan kontrak jangka panjang kepada pelatih asing seperti Blessin juga menjadi bahan diskusi tentang pentingnya stabilitas jangka panjang di sepak bola nasional.
Ke depan, tantangan terberat Blessin adalah membangun kembali kepercayaan diri para pemain dan meramu strategi yang cocok dengan materi yang ada. Gladbach akan segera menghadapi jadwal padat, termasuk laga melawan tim-tim kuat Bundesliga. Jika Blessin mampu membawa perubahan signifikan, bukan tidak mungkin ia mengembalikan Gladbach ke papan atas. Sebaliknya, kegagalan bisa mempercepat tekanan dari manajemen. Akankah Blessin menjadi sosok yang tepat untuk membangkitkan Die Fohlen, atau justru menjadi korban berikutnya dari kerasnya kompetisi Bundesliga?



