Arema FC vs Persik: Taktik Jenius, Zanadin Fariz Bersinar, dan Rekor Baru di BRI Super League
Baca dalam 60 detik
- Duel Arema FC vs Persik Kediri berakhir imbang 1-1, mematahkan dominasi Singo Edan.
- Keputusan Persik menurunkan Andhika Ramadhani sebagai kiper utama terbukti jitu.
- Zanadin Fariz dinobatkan sebagai pemain terbaik usai mencetak gol spektakuler.

Pertemuan Arema FC dan Persik Kediri pada pekan ketiga BRI Super League 2026/2027 menyuguhkan drama tak terduga. Di Stadion Kanjuruhan, Jumat (18/9/2026), kedua tim harus puas berbagi angka setelah skor akhir 1-1. Hasil ini menjadi pukulan bagi Singo Edan yang gagal memanfaatkan status tuan rumah, sekaligus membuktikan Macan Putih bukan lawan yang bisa dianggap remeh.
Bagi Arema, ini adalah kali kedua mereka bermain imbang dengan skor identik. Sebelumnya, pasukan Marcos Santos juga ditahan PSM Makassar 3-3. Pola permainan spartan dan mobilitas simultan yang menjadi ciri khas Arema ternyata mampu dipecahkan oleh Persik. Tim tamu tampil tanpa rasa takut, menandingi intensitas tinggi tuan rumah dengan kepercayaan diri yang mengesankan. Laga pun berjalan menarik, menjadi tontonan yang layak dinikmati.
Keputusan Persik menurunkan Andhika Ramadhani sebagai penjaga gawang utama menjadi sorotan. Sebelumnya, Husna Al Malik tampil apik di dua laga awal, sehingga banyak yang menduga ia akan kembali dipercaya. Namun, pelatih memilih Andhika, eks kiper Persebaya Surabaya berusia 27 tahun. Pilihan ini terbukti cerdik. Pengalaman Andhika menghadapi tekanan derbi Jatim, terutama karena latar belakangnya sebagai mantan pemain Persebaya, membuatnya kebal mental saat menghadapi Arema. Faktor sejarah rivalitas Persebaya vs Arema pun dimanfaatkan dengan baik oleh tim pelatih.
Di kubu Arema, lini tengah menjadi sorotan. Zanadin Fariz, gelandang muda berusia 22 tahun, tampil mengejutkan dengan gol cepatnya di menit awal. Tendangan geledeknya merobek gawang Adi Satryo, membungkam publik Kanjuruhan. Sepanjang pertandingan, Zanadin tidak hanya berperan sebagai jangkar, tetapi juga rajin menyisir sisi kiri dan membantu pertahanan. Kerja kerasnya berbuah gelar pemain terbaik versi ILeague, setelah pekan sebelumnya ia juga dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik. Penampilan Zanadin menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di level tertinggi.
"Kami tahu Arema akan menekan sejak awal. Tapi kami siap secara mental dan taktik. Andhika tampil luar biasa, dan Zanadin menunjukkan kualitasnya," ujar seorang sumber di internal Persik.
Hasil imbang ini menambah panjang rekor pertemuan kedua tim. Sejak Persik promosi ke kasta elite pada 2020, mereka telah bertemu 11 kali. Persik unggul dengan tujuh kemenangan, sementara Arema hanya empat kali menang. Menariknya, tidak pernah ada hasil imbang dalam 11 pertemuan sebelumnya. Laga kali ini menjadi yang pertama berakhir seri, menandai babak baru dalam rivalitas yang selalu panas.
Bagi Arema, hasil ini menjadi bahan evaluasi. Gaya main spartan dan mobilitas simultan masih efektif, tetapi lawan-lawan mulai menemukan cara untuk meredamnya. Persik dan PSM telah membuktikan bahwa dengan disiplin dan keberanian, Arema bisa diimbangi. Ke depan, tim-tim lain akan belajar dari strategi ini. Sementara itu, Persik semakin percaya diri menatap putaran kedua, di mana mereka akan menjamu Arema. Akankah Macan Putih kembali menang, atau akankah Singo Edan bangkit dan membalas?



