Chanathip Songkrasin Incar Gelar FIFA ASEAN Cup 2026, Indonesia Jadi Ujian Terberat Thailand
Baca dalam 60 detik
- Kapten Thailand Chanathip Songkrasin menyatakan kesiapan penuh untuk merebut trofi FIFA ASEAN Cup 2026 yang berlangsung 25 Septemberโ5 Oktober di Bandung.
- Thailand tergabung di Grup B bersama Vietnam, Filipina, dan Pakistan, sementara Indonesia di Grup A disebut sebagai pesaing paling tangguh.
- Ambisi Chanathip membuka peluang duel sengit di final, sekaligus menguji kedalaman skuad Indonesia di hadapan pendukung sendiri.

Kapten Timnas Thailand, Chanathip Songkrasin, menegaskan ambisinya membawa Gajah Perang merebut gelar FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan digelar 25 September hingga 5 Oktober 2026 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Pernyataan itu disampaikan gelandang berusia 32 tahun tersebut menjelang bergulirnya turnamen yang mempertemukan sepuluh negara Asia Tenggara.
Thailand menempati Grup B Divisi 1 bersama Vietnam, Filipina, dan Pakistan. Sementara itu, Indonesia yang berada di Grup A disebut Chanathip sebagai lawan paling berat jika kedua tim bertemu di partai puncak. Format kompetisi ini mempertemukan juara Grup A dan B di final, sedangkan dua runner-up akan memperebutkan peringkat ketiga.
Menurut Chanathip, turnamen ini menghadirkan tantangan baru karena setiap negara diprediksi menurunkan skuad terbaiknya. "Saya dan seluruh staf pelatih sudah siap seratus persen. Turnamen ini sesuatu yang baru dan akan menjadi tantangan karena harus menghadapi tim nasional lainnya, sementara setiap negara juga memilih skuad terbaik," ujarnya kepada media Thailand, Thairath.
Vietnam menjadi rival terdekat Thailand. Kedua tim baru saja bertemu di final Piala AFF 2026, di mana Thailand harus mengakui keunggulan Vietnam. Chanathip berharap bisa membalas kekalahan tersebut. "Kami ingin menjadi juara dan akan melakukan segala cara, memberikan seluruh kemampuan serta membawa pulang kemenangan. Saya percaya semua orang memiliki target yang sama karena para suporter juga memiliki ekspektasi terhadap kami," tegasnya.
Ia menambahkan, "Vietnam sudah menjadi tim yang kuat. Saya berharap kami bisa mengalahkan mereka untuk memberikan kepercayaan diri kepada Thailand dan para suporter Thailand sehingga kami memiliki sesuatu untuk menghadapi mereka."
Di sisi lain, Chanathip mengakui bahwa Indonesia memiliki keunggulan tersendiri, terutama karena basis suporter yang besar. "Saya percaya turnamen ini mungkin akan memiliki sejumlah kesulitan, terutama terkait makanan, konsumsi, dan lapangan, tetapi saya yakin kami memiliki pengalaman bermain di luar negeri, sementara tim-tim lain juga sama-sama baru, hanya Indonesia yang memiliki basis suporter, meskipun mungkin tidak banyak suporter yang datang langsung untuk mendukung," imbuhnya.
Pernyataan Chanathip menjadi sinyal bahwa Thailand tidak ingin mengulang kegagalan di final Piala AFF 2026. Dengan pengalaman bermain di luar negeri, ia optimistis Gajah Perang dapat beradaptasi cepat dengan kondisi lapangan dan atmosfer pertandingan di Bandung. "Saya percaya kami akan memberikan yang terbaik untuk meraih kemenangan demi negara kami. Kami harus fokus pada setiap tim sekaligus fokus kepada diri sendiri agar bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin. Setiap tim memiliki gaya bermain yang berbeda sehingga kami harus menganalisis mereka dan diri kami sendiri untuk mengetahui di mana letak kelemahan dan kekuatan masing-masing," tuturnya.
Bagi Indonesia, ambisi Thailand ini menjadi peringatan bahwa persaingan di FIFA ASEAN Cup 2026 tidak akan mudah. Meski berstatus tuan rumah dan diunggulkan di Grup A, Timnas Indonesia tetap harus mewaspadai kekuatan Thailand yang diperkuat pemain-pemain berpengalaman. Duel potensial antara kedua tim di final akan menjadi ujian bagi kedalaman skuad dan strategi pelatih.
Pertanyaan besarnya, mampukah Indonesia memanfaatkan dukungan suporter di Stadion Si Jalak Harupat untuk menghentikan ambisi Thailand? Atau justru Chanathip Songkrasin yang akan mewujudkan janjinya membawa pulang trofi ke Bangkok? Jawabannya akan terungkap dalam hitungan pekan.



