Gelang US$20 dari Universitas Chicago Bikin Speaker Pintar 'Bisu' dengan Ultrasonik
Baca dalam 60 detik
- Riset Universitas Chicago menciptakan gelang yang memancarkan sinyal ultrasonik 25 kHz untuk mengacak rekaman suara di sekitar pengguna.
- Perangkat ini memanfaatkan kelemahan fisik mikrofon murah, bukan meretas perangkat, sehingga tidak memerlukan akses ke sistem apa pun.
- Meski efektif dalam radius tiga kaki, para ahli memperingatkan bahwa solusi ini hanya tambal sulam dan tidak menggantikan regulasi perlindungan data yang mengikat.

Sebuah tim peneliti dari Universitas Chicago mengembangkan prototipe gelang yang mampu melumpuhkan mikrofon speaker pintar di sekitarnya tanpa perlu menyentuh perangkat tersebut. Alat bernama Bracelet of Silence ini memancarkan gelombang ultrasonik sekitar 25 kHz—di atas ambang pendengaran manusia—yang membuat mikrofon komersial menangkap suara sebagai statis tak terbaca.
Gagasan ini muncul dari kekhawatiran yang semakin nyata: perangkat rumah tangga yang selalu mendengarkan, seperti Amazon Echo atau Google Home, kerap salah mengaktifkan diri. Peneliti dari Northeastern University, David Choffnes dan Daniel Dubois, bahkan pernah memutar 120 jam audio televisi ke speaker pintar dan mencatat puluhan aktivasi palsu. Temuan itu menegaskan bahwa kekhawatiran akan penyadapan bukanlah paranoia belaka.
Berbeda dengan solusi yang bergantung pada tombol mute yang harus dipercaya, gelang ini memberi kendali penuh kepada pengguna. Mekanismenya memanfaatkan sifat nonlinier mikrofon: saat menerima sinyal ultrasonik kuat, mikrofon mengubah noise tersebut menjadi suara yang dapat didengar, sehingga percakapan yang terekam berubah menjadi derau putih. Efeknya setara dengan menyuntikkan gangguan langsung ke sirkuit mikrofon, tanpa kontak fisik.
Prototipe ini menggunakan 24 transduser yang disusun dalam dua cincin berisi 12 unit, memberikan cakupan omnidireksional dengan titik buta minimal. Menariknya, gerakan alami pergelangan tangan saat berbicara justru meningkatkan kinerja jamming dibandingkan susunan statis. Dalam demonstrasi, mengaktifkan gelang saat panggilan telepon langsung mengubah audio di ujung lawan bicara menjadi statis murni.
Namun, efektivitasnya terbatas pada radius sekitar tiga kaki—cukup untuk percakapan jarak dekat, tetapi tidak seluruh ruangan. Gelang ini juga tidak dapat menghapus audio yang sudah terekam sebelum aktivasi. Selain itu, emisi ultrasonik mungkin terdengar sebagai nada tinggi bagi anak-anak dan hewan.
"Ini menciptakan perlombaan senjata, dan konsumen akan kalah dalam perlombaan itu. Segala hal seperti ini adalah setengah tindakan atau solusi sementara. Akan selalu ada cara untuk mengatasinya," ujar Woodrow Hartzog, profesor hukum dan ilmu komputer dari Northeastern University.
Kritik Hartzog menyoroti kelemahan mendasar: sistem pengawasan dapat beradaptasi dengan menyaring noise ultrasonik atau beralih ke sensor alternatif. Hal ini pada gilirannya akan mengikis efektivitas gelang dan mendorong siklus peningkatan versi yang tiada henti.
Gelang ini merupakan bagian dari ekosistem produk "baju zirah privasi" yang masing-masing menangani modalitas pengawasan berbeda. Project Alias, misalnya, duduk di atas speaker pintar dan memberi noise hingga kata kunci lokal diucapkan. Alexagate menempel pada perangkat Echo dan mengacak mikrofon dengan ultrasound, tetapi tetap terpaku pada satu speaker. Sementara itu, kacamata Reflectacles karya Scott Urban memblokir inframerah untuk melawan kamera pengenal wajah.
"Teknologi baru terus mengikis privasi dan anonimitas kita. Orang-orang mencari jalan keluar, dan itulah yang saya coba sediakan," kata Urban.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran penting. Dengan penetrasi speaker pintar dan perangkat IoT yang terus tumbuh di kota-kota besar, risiko penyadapan audio semakin nyata. Regulasi perlindungan data pribadi yang baru saja disahkan perlu mempertimbangkan dimensi perangkat keras, bukan hanya kebijakan perangkat lunak. Selain itu, konsumen Indonesia yang sensitif harga mungkin akan tertarik pada solusi murah seperti ini jika diproduksi massal.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa gelang ini bukanlah pengganti kebijakan perlindungan data yang dapat ditegakkan. Alat ini hanya membeli beberapa kaki kebisuan sementara pengguna menunggu regulasi yang lebih kuat. Pertanyaannya, apakah inovasi semacam ini akan mendorong kesadaran kolektif atau justru menjadi alasan bagi industri untuk mengabaikan tanggung jawab privasi?



