Disney+ Ubah Definisi "Bebas Iklan": Semua Paket Kini Boleh Tayangkan Promo dan Sponsor
Baca dalam 60 detik
- Disney+ memperbarui perjanjian pelanggan per 18 Juni 2026, memperbolehkan iklan pre-roll, post-roll, promosi, dan sponsor di seluruh tingkatan langganan, termasuk paket Premium.
- Langkah ini memperluas model bisnis berbasis iklan ke segmen berbayar, sementara iklan di tengah konten on-demand tetap eksklusif untuk paket termurah.
- Pelanggan yang menolak ketentuan baru harus berhenti berlangganan, dan penggunaan pemblokir iklan dapat berujung pada penangguhan akun.

Disney+ secara resmi memperluas cakupan iklan ke semua paket langganan, termasuk Standard dan Premium yang dipasarkan sebagai layanan "film dan serial bebas iklan". Perubahan ini tertuang dalam pembaruan Perjanjian Pelanggan pada 18 Juni 2026, dengan notifikasi dikirim ke pelanggan di Inggris dan Eropa, sementara jadwal penerapan untuk Amerika Serikat belum dipastikan.
Langkah tersebut menandai pergeseran signifikan dalam strategi monetisasi Disney. Perusahaan kini membedakan antara iklan yang menyela tayangan dan iklan yang mengapitnya. Iklan pre-roll dan post-roll, konten promosi, serta sponsor diizinkan di seluruh paket. Namun, jeda iklan di tengah film atau serial on-demand tetap hanya ada di paket termurah, "Standard with Ads"โpembeda yang digunakan Disney untuk mempertahankan label "bebas iklan".
Yang juga berubah: siaran langsung, saluran linear, program as-live, acara spesial, dan konten pihak ketiga dapat memuat jeda komersial di paket mana pun, termasuk Premium. Disney tidak memberikan pengecualian untuk pelanggan dengan harga tertinggi.
Dalam surel ringkasan perjanjian yang dikirim ke pengguna di Inggris, Disney+ menyatakan pihaknya telah mengklarifikasi bahwa semua paket layanan dapat mencakup konten promosi, sponsor, dan iklan sebelum maupun sesudah pemutaran konten, serta di saluran, siaran langsung, acara spesial, dan layanan pihak ketiga. Rumusan ini secara efektif memperluas ruang iklan tanpa harus mengubah nama paket.
Namun, ada kontradiksi yang mencolok antara pemasaran dan ketentuan resmi. Situs web Disney+ di Inggris masih menonjolkan frasa "Ad-free movies and series" sebagai nilai jual utama untuk paket Standard dan Premium. Catatan kaki di halaman yang sama justru menyatakan bahwa semua paket menyertakan promosi dan sponsor Disney, dan mungkin juga memuat iklan sebelum/sesudah pemutaran serta di saluran, siaran langsung, acara spesial, dan konten on-demand pihak ketiga. Pelanggan yang ingin tetap menggunakan layanan harus menerima perjanjian yang direvisi.
"Kami telah mengklarifikasi bahwa semua Paket Layanan dapat mencakup: (i) konten promosi, (ii) sponsor, dan (iii) iklan sebelum/sesudah pemutaran Konten dan di saluran, siaran langsung/as-live, acara spesial, dan konten layanan pihak ketiga mana pun." โ Ringkasan surel perjanjian pelanggan Disney+ kepada pengguna di Inggris.
Disney juga menutup celah yang selama ini menjadi solusi umum: pemblokir iklan. Perjanjian baru melarang penggunaan ad blocker secara tegas, dengan Disney berhak menangguhkan akun, memindahkan pelanggan ke paket lain, atau memblokir akses sepenuhnya jika ada upaya penghindaran. Bagi orang tua, ada satu pengecualian penting: profil Junior Mode sepenuhnya bebas dari iklan dan konten promosi, apa pun paketnya. Saat ini, itu adalah satu-satunya cara menikmati Disney+ tanpa iklan sama sekali.
Perluasan iklan ini terjadi di tengah kenaikan harga dan meningkatnya frustrasi pelanggan. Harga langganan tahunan dilaporkan berlipat ganda di beberapa pasar, dari sekitar US$79,99 menjadi US$159,99 untuk pelanggan tertentu, memicu pembatalan sebelum perubahan ketentuan iklan diberlakukan. Kekhawatiran soal pelacakan data dan praktik privasi yang berubah menambah ketidaknyamanan konsumen secara luas. Bagi pelanggan yang hanya menginginkan pemutaran on-demand tanpa gangguan, Standard dan Premium masih memenuhi itu; tetapi bagi yang menganut definisi ketat "bebas iklan", Disney+ tidak lagi memenuhi standar tersebut.
Konteks Indonesia
Perubahan ini berpotensi menjadi preseden bagi pasar streaming Indonesia yang sedang tumbuh. Disney+ Hotstar di Indonesia telah lama menerapkan paket berbasis iklan, dan pembaruan perjanjian global dapat mempercepat normalisasi iklan di tier berbayar. Bagi konsumen Indonesia, daya beli yang sensitif terhadap harga membuat pergeseran ini berisiko memicu churn, terutama jika iklan muncul di paket yang selama ini dianggap bebas gangguan. Regulator seperti Kominfo dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) perlu mencermati apakah label "bebas iklan" masih sesuai dengan praktik yang berlaku, agar tidak menyesatkan. Di sisi lain, pelaku industri lokal seperti Vidio, Viu, dan Netflix Indonesia akan mengamati apakah model hybrid ini efektif menaikkan pendapatan tanpa mengorbankan basis pelanggan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah platform streaming akan menayangkan iklan, melainkan seberapa jujur mereka mendefinisikan paket "bebas iklan" kepada konsumen. Jika Disney+ berhasil menekan pembatalan meski memperluas iklan, pesaing kemungkinan mengikuti. Namun, jika gelombang protes dan churn meningkat, tekanan akan beralih ke regulator untuk memperjelas standar transparansi label layanan digital.



