Mengapa Sejumlah Jet Tempur Bisa Terbang Mundur?
Baca dalam 60 detik
- AV-8B Harrier dan F-35B mampu bermanuver mundur berkat sistem pendorong yang dapat diarahkan, bahkan melakukan pendaratan vertikal.
- Kemampuan ini krusial untuk operasi di kapal induk tanpa landasan pacu panjang, serta memberikan opsi pendaratan darurat.
- Teknologi VTOL dan vektor dorong terus berkembang, membuka peluang kerja sama industri pertahanan dengan Indonesia.

Di dunia penerbangan militer, kemampuan terbang mundur terdengar seperti hal yang mustahil. Namun, beberapa jet tempur modern memang bisa melakukannya. Rahasianya terletak pada sistem pendorong yang dapat diarahkan, yang memungkinkan pesawat bermanuver ke belakang, bahkan mendarat secara vertikal.
AV-8B Harrier, yang legendaris, adalah salah satu contoh paling awal. Mesinnya menghasilkan semburan gas yang bisa dibelokkan hingga 90 derajat, sehingga pesawat dapat lepas landas dan mendarat tanpa landasan pacu. Kemampuan ini disebut Vertical Takeoff and Landing (VTOL). Selain bergerak mundur, Harrier juga bisa melayang di tempat dan bermanuver seperti helikopter, tetapi tetap memiliki kecepatan jelajah seperti pesawat bersayap tetap.
Penerus Harrier, Lockheed Martin F-35B Lightning II, juga memiliki kemampuan serupa. Pada 2018, seorang pilot uji Royal Air Force berhasil melakukan pendaratan mundur dengan F-35B di kapal induk HMS Queen Elizabeth. Manuver ini menunjukkan opsi pendaratan alternatif dalam situasi darurat. F-35B dapat melayang berkat daya dorong hingga 40.000 pon yang dihasilkan oleh mesinnya.
Berbeda dengan Harrier dan F-35, F-22 Raptor tidak dirancang untuk terbang mundur sepenuhnya. Namun, dalam manuver tajam, pesawat ini bisa sejenak meluncur mundur sebelum kembali ke arah depan. Nozel mesinnya yang dapat berputar memungkinkan dorongan vektor untuk membantu bermanuver saat kehilangan gaya angkat.
Selain jet tempur, ada pula pesawat bersayap tetap lain yang bisa bergerak mundur, seperti Antonov An-2. Biplan ini mampu terbang sangat lambat, bahkan hampir diam atau mundur saat melawan angin kencang. Kemampuan ini berguna untuk pelatihan terjun payung atau operasi di area sempit.
Untuk pesawat non-sayap tetap, CV-22 Osprey dengan rotor miring juga dapat terbang mundur dengan memiringkan rotornya melebihi posisi vertikal. Helikopter pun sudah lama memiliki kemampuan ini karena rotor utamanya terus berputar, menghasilkan daya angkat tanpa bergantung pada kecepatan maju.
โKemampuan terbang mundur dan melayang memberikan fleksibilitas taktis yang signifikan, terutama dalam operasi di medan terbatas atau di atas kapal,โ ujar seorang analis pertahanan.
Bagi Indonesia, teknologi VTOL dan vektor dorong menawarkan pelajaran berharga. Dengan geografi kepulauan yang luas, kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal dapat mendukung operasi di pulau-pulau terpencil atau kapal perang. Meski saat ini TNI AU belum mengoperasikan jet dengan kemampuan tersebut, kerja sama industri pertahanan dengan negara produsen seperti Amerika Serikat dan Inggris bisa menjadi langkah strategis. Selain itu, pengembangan drone VTOL untuk pengawasan maritim juga semakin relevan.
Ke depan, inovasi pada sistem propulsi akan terus mendorong batas manuver pesawat. Apakah Indonesia akan mengadopsi teknologi ini untuk memperkuat pertahanan udara? Waktu yang akan menjawab, tetapi peluangnya terbuka lebar.



