Andik Vermansah Akui Sulit Tidur Jelang Lawan Persebaya: Beban Kapten di Tanah Kelahiran
Baca dalam 60 detik
- Andik Vermansah mengaku insomnia sebelum memimpin Garudayaksa FC melawan Persebaya di Gelora Bung Tomo.
- Tekanan emosional muncul karena statusnya sebagai pemain yang dibesarkan Persebaya dan kini mengenakan ban kapten tim tamu.
- Laga berakhir imbang 1-1, namun bagi Andik ini menjadi ujian mental dan profesionalisme di usia 34 tahun.

Kapten Garudayaksa FC, Andik Vermansah, mengungkapkan bahwa ia mengalami kesulitan tidur pada malam sebelum pertandingan melawan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (19/9/2026). Bagi pemain kelahiran Jember yang besar di akademi Bajul Ijo, kembali ke markas mantan klubnya bukan sekadar laga biasa, melainkan pergulatan batin yang menguras energi.
Pertandingan pekan ketiga BRI Super League 2026/2027 itu berakhir imbang 1-1. Persebaya sempat unggul melalui gol Alex Martins pada menit ke-85, tetapi Hamra Hehanussa menyamakan kedudukan empat menit berselang. Hasil ini membawa Garudayaksa pulang dengan satu poin, meski bagi Andik, nilai pertandingan jauh melampaui angka di papan skor.
"Jujur, semalam saya susah tidur. Ini salah satu tantangan sangat berat buat saya," ujar Andik usai laga, seperti dikutip dari Bola.com. Ia menambahkan bahwa pengalaman bermain di Liga 2 selama tiga tahun sebelumnya turut membentuk mentalitasnya, namun tekanan menghadapi Persebaya di hadapan suporter Bonek tetap terasa berbeda.
Bagi Andik, GBT adalah kawah candradimuka. Di stadion itu ia menempa diri hingga menembus kompetisi Malaysia bersama Selangor dan Kedah selama lima tahun. Kembali sebagai kapten tim tamu, ia mengaku menghadapi tekanan yang tidak biasa. "Saya terakhir mungkin membela Madura United dan main melawan Persebaya di sini. Itu sangat besar sekali tantangan buat saya," tambahnya.
Tekanan tidak hanya datang dari dalam diri. Ketika menguasai bola, sebagian suporter tuan rumah di tribun GBT memberikan respons yang tidak bersahabat. Namun, pemain yang beberapa kali dikaitkan dengan kepindahan kembali ke Persebaya itu memilih tetap tenang. "Itu hal yang sangat lumrah, biasa terjadi di mana-mana. Bagaimana caranya saya menghadapi, saya alihkan suporter saya," ujarnya.
"Alhamdulillah saya bisa mengontrol semuanya dan dapat poin di sini." โ Andik Vermansah
Kisah Andik mencerminkan dinamika sepak bola Indonesia yang kian kompleks. Pemain yang identik dengan satu klub kerap menghadapi dilema ketika kembali sebagai lawan. Fenomena ini bukan hal baru, tetapi di era BRI Super League yang semakin kompetitif, beban psikologis seperti ini menjadi bagian tak terpisahkan dari profesionalisme atlet. Klub-klub kini dituntut tidak hanya menyiapkan taktik, tetapi juga pendampingan mental bagi pemain yang menghadapi tekanan serupa.
Dari sisi Persebaya, hasil imbang ini memperpanjang catatan kurang memuaskan di awal musim. Meski mendominasi sebagian besar pertandingan, Bajul Ijo gagal mempertahankan keunggulan di menit-menit akhir. Sementara itu, Garudayaksa menunjukkan ketangguhan sebagai tim promosi yang mampu mencuri poin di kandang lawan berat.
Bagi Andik, laga ini menjadi penegasan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap bersaing di level tertinggi. Di usia 34 tahun, ia masih dipercaya mengenakan ban kapten dan menjadi motor serangan. Pengalaman panjangnya di berbagai klub, termasuk di Liga Malaysia, menjadi modal berharga untuk membimbing pemain muda Garudayaksa.
Ke depan, pertanyaan yang muncul: akankah Andik suatu hari benar-benar kembali ke Persebaya, atau justru semakin mengukuhkan dirinya sebagai ikon Garudayaksa? Yang jelas, pertandingan di GBT menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia tidak hanya soal taktik dan fisik, tetapi juga soal mengelola hati dan identitas.



