Gitaris New Found Glory Chad Gilbert Tutup Usia di 45 Tahun Setelah Perjuangan Panjang Melawan Kanker
Baca dalam 60 detik
- Chad Gilbert, gitaris sekaligus pendiri New Found Glory, meninggal dunia pada usia 45 tahun setelah bertahun-tahun berjuang melawan kanker langka.
- Kabar duka disampaikan melalui pernyataan keluarga di media sosial, disusul penghormatan dari rekan satu band yang menyebut kontribusinya membentuk identitas band selama hampir tiga dekade.
- Kepergian Gilbert menandai berakhirnya salah satu era penting dalam musik pop-punk dan meninggalkan warisan besar bagi industri musik global, termasuk basis penggemar di Indonesia.

Industri musik pop-punk kembali berduka. Chad Gilbert, gitaris dan salah satu pendiri band New Found Glory, meninggal dunia pada usia 45 tahun setelah menjalani perawatan panjang untuk kanker langka yang menyerang beberapa organ tubuhnya. Kabar tersebut dikonfirmasi melalui pernyataan resmi keluarga yang dibagikan di akun Instagram istrinya, Lisa Morelli, pada Minggu (20/9).
Dalam pernyataan itu, keluarga menyebut Gilbert menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang dalam tidurnya, dikelilingi oleh kerabat terdekat. "Kami sangat terpukul dan terkejut dengan kepergiannya yang begitu cepat, namun kami bersyukur karena ia pergi dengan damai," tulis keluarga. Mereka juga menyoroti betapa banyaknya orang yang datang ke rumah sakit dalam waktu singkat sebagai bukti betapa dicintainya sosok Gilbert.
Gilbert pertama kali didiagnosis mengidap metastatic pheochromocytoma di hati pada 2021, sebuah jenis tumor langka yang kemudian berkembang menjadi adrenocortical carcinoma dan menyebar ke bagian tubuh lain. Ia sempat dinyatakan bebas kanker pada Januari 2022 setelah menjalani pengangkatan setengah hati, kandung empedu, dan satu kelenjar adrenal. Namun, kesehatannya kembali menurun ketika tumor baru ditemukan di otak pada awal tahun ini, memaksanya menjalani operasi, radiasi, dan perawatan intensif di rumah sakit.
Rekan-rekan satu bandnya—Jordan Pundik, Ian Grushka, Cyrus Bolooki, dan Dan O’Connor—juga menyampaikan penghormatan melalui pernyataan bersama. Mereka mengenang Gilbert sebagai sosok yang membentuk New Found Glory selama hampir tiga dekade melalui permainan gitar, penulisan lagu, humor, dan dorongan tanpa henti. "Chad menantang kami semua untuk tumbuh sebagai musisi, penampil, dan manusia," ujar mereka. "Kami sangat berterima kasih atas persaudaraan yang terjalin. Semangatnya akan terasa di setiap panggung yang kami injak."
"Dia adalah musisi legendaris, tetapi pencapaian favoritnya adalah menjadi suami dan ayah. Mimpi terbesarnya menjadi kenyataan." — Pernyataan keluarga Chad Gilbert.
Sebelum bergabung dengan New Found Glory, Gilbert sudah menorehkan namanya sebagai vokalis band hardcore Shai Hulud pada usia remaja, tampil di album debut tahun 1997 yang dianggap berpengaruh. Bersama New Found Glory, ia merilis lebih dari selusin album dan menggelar tur keliling dunia, menjadikan band tersebut salah satu ikon era pop-punk awal 2000-an. Di luar band, Gilbert juga aktif sebagai produser untuk grup seperti A Day To Remember, H2O, dan Terror, serta memiliki proyek solo What's Eating Gilbert dan memimpin proyek sampingan hardcore International Superheroes Of Hardcore.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kepergian Gilbert bukan sekadar kabar duka dari industri musik internasional. New Found Glory memiliki basis penggemar setia di Tanah Air, terutama di kalangan generasi milenial yang tumbuh besar dengan lagu-lagu pop-punk era 2000-an. Konser-konser band asal Florida itu kerap menjadi ajang nostalgia, dan sosok Gilbert sering dianggap sebagai motor penggerak di balik energi panggung mereka. Kehilangan ini juga mengingatkan kembali pada tantangan deteksi dini kanker langka, yang sering kali terlambat terdiagnosis karena gejalanya tidak spesifik.
Dengan kepergian Gilbert, New Found Glory kehilangan salah satu pilar kreatifnya. Namun, warisan musikalnya diprediksi akan terus hidup melalui karya-karya yang telah menginspirasi banyak band pop-punk dan hardcore generasi berikutnya. Pertanyaannya kini, bagaimana New Found Glory akan melanjutkan perjalanan tanpa sosok yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama? Dan lebih luas lagi, akankah industri musik pop-punk kembali menemukan figur dengan semangat dan dedikasi seperti Chad Gilbert?



