Brooklyn Beckham Bangun Imperium Bisnis Produk Sehari-hari, Mertua Miliarder Jadi Mentor
Baca dalam 60 detik
- Brooklyn Beckham dikabarkan menyusun strategi bisnis berbasis produk konsumsi sehari-hari dengan bimbingan Nelson Peltz, ayah istrinya yang seorang miliarder.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya membangun identitas kewirausahaan di luar bayang-bayang nama besar orang tuanya, David dan Victoria Beckham.
- Keberhasilan di sektor barang konsumsi cepat saji akan menguji sejauh mana pengaruh selebritas dapat dikonversi menjadi kekuatan merek yang berkelanjutan.

Brooklyn Beckham, putra sulung pasangan selebritas David dan Victoria Beckham, tengah menyiapkan langkah besar untuk membangun kerajaan bisnis di sektor produk konsumsi sehari-hari. Menurut laporan yang beredar, ia mendapatkan arahan langsung dari mertuanya, Nelson Peltz, seorang investor miliarder yang sebelumnya sukses di industri makanan beku. Langkah ini menandai babak baru bagi Brooklyn yang selama ini lebih dikenal karena polemik keluarganya ketimbang prestasi bisnisnya.
Pria berusia 27 tahun itu memang sudah merilis merek saus pedas sendiri. Namun, sumber terdekat menyebut bahwa ambisinya jauh lebih besar: menciptakan ekosistem bisnis yang bertumpu pada produk-produk mudah dikonsumsi, yang dapat dijual dalam volume besar dan dikembangkan satu per satu. Strategi ini disebut berasal dari saran Peltz, yang melihat potensi besar dari kombinasi popularitas Brooklyn dan model bisnis barang konsumsi yang stabil.
Menurut sumber yang dikutip The Sun, Peltz menyarankan agar Brooklyn memanfaatkan nama besarnya untuk menjual produk sehari-hari yang memiliki perputaran cepat. "Dia diberi tahu bahwa ini akan selalu menghasilkan pendapatan hingga suatu hari nanti, ketika mereknya sudah dikenal luas, langkah logis berikutnya adalah membuka banyak restoran," ujar sumber tersebut. Pendekatan ini dinilai sebagai jalan realistis untuk membangun fondasi bisnis yang tidak hanya bergantung pada ketenaran sesaat.
Langkah Brooklyn ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika keluarganya yang tengah memanas. Ia diketahui sudah lama berselisih dengan orang tuanya dan pernah melontarkan pernyataan tajam di Instagram. Dalam unggahan itu, ia menegaskan tidak ingin berdamai dan menuduh orang tuanya berusaha mengendalikan narasi publik tentang keluarga mereka. Konflik ini semakin membuka jalan bagi Brooklyn untuk membangun citra sebagai individu yang mandiri secara finansial dan emosional.
"Saya tidak ingin berdamai dengan keluarga saya. Saya tidak dikendalikan, saya membela diri saya sendiri untuk pertama kalinya dalam hidup saya," tulis Brooklyn dalam pernyataannya pada Januari lalu.
Meski demikian, bayang-bayang nama Beckham tetap sulit dihindari. Dalam iklan DoorDash bertema Piala Dunia 2026, Brooklyn justru memelesetkan konflik keluarganya dengan gaya humor. Ia terlihat melempar tumpukan tiket dan berkata, "Kalian mungkin bertanya-tanya kenapa saya menonton Piala Dunia 2026 dari rumah... Ceritanya panjang." Iklan itu berakhir dengan kalimat, "Rumit. Selengkapnya segera." Pendekatan ini menunjukkan bahwa ia sadar betul nilai komersial dari drama keluarganya, sekaligus upaya mengalihkan narasi ke arah yang lebih menguntungkan.
Bagi pasar Indonesia, kisah Brooklyn Beckham ini menawarkan cermin tentang bagaimana selebritas dan keluarga berpengaruh membangun bisnis berbasis produk konsumsi. Di tanah air, fenomena serupa terlihat pada merek-merek makanan dan minuman yang digawangi artis atau influencer. Model bisnis yang mengandalkan pengenalan merek dan volume penjualan tinggi memang menjanjikan, tetapi tantangan terbesarnya adalah menjaga kualitas dan konsistensi di tengah persaingan yang ketat. Keberhasilan Brooklyn nantinya bisa menjadi studi kasus tentang sejauh mana modal sosial dapat dikonversi menjadi keunggulan bisnis jangka panjang.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Brooklyn benar-benar mampu melepaskan diri dari label "anak Beckham" dan membuktikan diri sebagai pengusaha mandiri. Jika strategi yang diwarisi dari Peltz berhasil, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pesaing serius di industri makanan dan minuman global. Namun, pertanyaan besarnya tetap: apakah fondasi bisnisnya cukup kuat untuk bertahan tanpa sorotan konflik keluarga yang selama ini menjadi magnet perhatian?



