Persijap Tumbang di Kandang, Mario Lemos Tolak Alasan: Satu Kesalahan Cukup untuk Dihukum Persib
Baca dalam 60 detik
- Persijap Jepara kalah 1-2 dari Persib Bandung pada pekan ketiga BRI Super League di Stadion Gelora Bumi Kartini.
- Pelatih Mario Lemos menegaskan kekalahan bukan karena keterbatasan waktu persiapan, melainkan kesalahan fatal yang dieksekusi menjadi gol.
- Gelandang Rakhmatsho Rakhmatzoda menilai timnya layak minimal seri dan fokus beralih ke laga berikutnya.

Persijap Jepara gagal memanfaatkan status tuan rumah pada pekan ketiga BRI Super League 2026/2027. Menjamu Persib Bandung di Stadion Gelora Bumi Kartini, Minggu (20/9/2026) malam, Laskar Kalinyamat menyerah 1-2 dan harus rela poin penuh berpindah ke tangan tamu.
Kekalahan ini mempertegas jarak kualitas antara tim promosi dan kekuatan mapan seperti Persib. Pelatih Persijap, Mario Lemos, tidak menampik bahwa satu momen keliru sudah cukup bagi lawan bertabur pemain berpengalaman untuk mengubah arah pertandingan. Menurutnya, anak asuhnya tampil kompetitif, tetapi ketajaman eksekusi di momen krusial menjadi pembeda.
Dalam konferensi pers usai laga, Lemos menyebut pertandingan berjalan menarik dan kedua tim sama-sama berambisi meraih kemenangan. Namun, ia menggarisbawahi bahwa menghadapi tim sekelas Persib—yang disebutnya sebagai juara tiga kali—tidak memberi ruang untuk kelengahan sekecil apa pun. Satu kesalahan, ujarnya, akan langsung dihukum menjadi gol.
"Melawan tim seperti Persib, satu kesalahan saja akan membuat mereka menghukum Anda, dan itulah yang terjadi," kata Lemos, dikutip dari sesi jumpa pers.
Pelatih asal Portugal itu menilai laga ini menjadi pelajaran berharga bagi skuadnya. Ia menekankan bahwa untuk menaklukkan tim papan atas, Persijap harus tampil mendekati sempurna di kedua kotak penalti—baik saat mengantisipasi serangan lawan maupun ketika menyelesaikan peluang sendiri. Pada babak kedua, ketika tertinggal, Persijap disebutnya mulai menghadapi tekanan serangan balik Persib yang efektif.
Yang menarik, Lemos menolak menjadikan durasi persiapan sebagai kambing hitam. Ia menyatakan tidak peduli apakah manajemen memberinya waktu satu hari, dua hari, atau 25 hari—targetnya tetap sama: memenangkan pertandingan. Pernyataan ini menyiratkan bahwa ia ingin membangun mentalitas kompetitif di ruang ganti, bukan budaya mencari pembenaran.
"Tidak ada alasan. Diberi waktu dua hari atau 15 hari, saya tidak suka mencari-cari alasan. Kami akan berjuang untuk menang di setiap pertandingan," tegasnya.
Dari kubu pemain, gelandang Rakhmatsho Rakhmatzoda menilai Persijap telah menunjukkan perkembangan dibandingkan dua laga sebelumnya. Pemain berkebangsaan Tajikistan itu merasa timnya layak mendapatkan hasil minimal seri, meski pada akhirnya harus mengakui keunggulan Persib. Ia menyebut sepak bola memang kadang memberi hasil di luar ekspektasi, dan kini fokus dialihkan ke pertandingan berikutnya.
Bagi Persijap, kekalahan ini menjadi alarm sekaligus cermin. Sebagai tim yang berkompetisi di kasta tertinggi, kemampuan menjaga konsentrasi selama 90 menit adalah harga mati. Duel melawan tim besar sering kali tidak ditentukan oleh dominasi penguasaan bola, melainkan oleh disiplin di momen-momen kecil.
Ke depan, tantangan terbesar Persijap bukan hanya memperbaiki organisasi pertahanan, tetapi juga membangun ketenangan saat menguasai bola di area krusial. Jika kesalahan serupa terulang, poin-poin yang seharusnya didapat di kandang bisa terus menguap. Mampukah Lemos menerjemahkan pelajaran ini menjadi perbaikan nyata sebelum jadwal padat berikutnya?



