Newcastle Temukan 'Isak Baru' di Sean Steur: Modal £23 Juta, Potensi £100 Juta
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United merekrut gelandang Belanda berusia 18 tahun, Sean Steur, dari Ajax dengan harga £23 juta pada bursa transfer musim panas lalu.
- Steur langsung dipercaya tampil dalam lima laga Premier League dan mencatatkan rata-rata 56 umpan sukses serta 10 umpan pemecah pertahanan per 90 menit, melampaui statistik Sandro Tonali sebelum dijual ke Tottenham.
- Jika konsisten, Steur berpotensi menjadi talenta bernilai £100 juta dan mengulang sukses Alexander Isak yang dijual ke Liverpool dengan harga £125 juta.

Newcastle United kembali menerapkan strategi low risk, high reward dengan merekrut gelandang muda Ajax, Sean Steur, seharga £23 juta. Langkah ini mengingatkan pada keberhasilan mereka menggaet Alexander Isak dari Real Sociedad pada 2022, yang kemudian dijual ke Liverpool dengan harga £125 juta—rekor klub.
Steur, yang baru berusia 18 tahun, tiba di St. James' Park dengan pengalaman terbatas: hanya 26 penampilan bersama tim utama Ajax. Namun, manajer Matthias Jaissle tidak ragu memberinya kesempatan. Dalam lima pertandingan Premier League, Steur sudah dua kali menjadi starter, termasuk saat mengalahkan Hull City 2-1 akhir pekan lalu.
Kepercayaan diri Steur di lapangan mencuri perhatian. Ia mampu menjaga penguasaan bola di bawah tekanan dan aktif mencari celah untuk memajukan permainan. Jaissle menyebut kematangan pemain seusianya sebagai hal yang "tidak normal", sementara jurnalis Luke Edwards menilainya sebagai calon pemain elit.
Perbandingan dengan Sandro Tonali, yang dijual ke Tottenham Hotspur seharga £100 juta, memperkuat argumen bahwa Steur memiliki kualitas di atas rata-rata. Tonali mencatatkan 46,68 umpan sukses dan 6,58 umpan pemecah pertahanan per 90 menit pada musim terakhirnya di Newcastle. Steur melampaui kedua angka tersebut, meski baru menjalani awal karier di Inggris.
"Dia akan menjadi pemain elit," ujar Luke Edwards, jurnalis yang mengikuti perkembangan Newcastle.
Keberhasilan Newcastle mengembangkan Isak tidak lepas dari peran Eddie Howe yang memberi waktu bermain dan membentuknya menjadi penyerang tajam. Kini, dengan Jaissle di kursi manajer, pola serupa diterapkan pada Steur. Klub berani mengambil risiko pada pemain muda dengan potensi besar, dan hasilnya mulai terlihat.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Steur menjadi cerminan bagaimana klub Liga Premier mengelola talenta muda. Newcastle tidak sekadar membeli pemain jadi, tetapi menciptakan aset bernilai jual tinggi. Pendekatan ini bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang ingin bersaing di level Asia, meski dengan sumber daya terbatas.
Ke depan, Steur dihadapkan pada tuntutan konsistensi di liga yang kompetitif. Jika mampu menjaga performa, bukan tidak mungkin ia mengikuti jejak Isak—dijual dengan harga fantastis. Akankah Newcastle kembali menuai untung besar dari pemain yang dibeli murah, atau justru Steur menjadi tulang punggung jangka panjang? Waktu yang akan membuktikan, tetapi awal yang gemilang sudah terukir.



