Sting Tantang AI: Musik Mesin Tak Akan Pernah Mengalahkan Luka Hati Manusia
Baca dalam 60 detik
- Sting menegaskan AI tidak akan pernah menjadi pesaing musisi manusia karena tidak memiliki pengalaman emosional yang otentik.
- Ia memperingatkan potensi AI menggerus ekonomi tenaga kerja, sementara musisi lain seperti Myles Kennedy menolak AI sebagai alat penciptaan lagu.
- Perdebatan ini mencuat di industri musik global dan berimplikasi pada perlindungan hak cipta serta masa depan kreativitas di Indonesia.

Sting, penyanyi legendaris berusia 74 tahun, menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan pernah mampu menyaingi musisi manusia. Dalam wawancara dengan BBC Sunday With Laura Kuenssberg, pelantun "Every Breath You Take" itu menilai AI hanya bisa memproduksi musik pop yang "cukup enak didengar" tetapi kehilangan nyawa karena tidak memiliki luka batin, cerita, dan kerentanan yang menjadi ciri karya manusia.
Menurut Sting, AI memang dapat menciptakan lagu yang mengalun di stasiun kereta atau lobi hotel, namun pendengar tidak akan benar-benar menyimaknya. "AI tidak pernah patah hati, ia hanya meminjam cerita orang lain. Jadi Anda tidak sedang mendengarkan sebuah lagu," ujarnya. Ia menambahkan bahwa penonton konser tetap mencari manusia yang bisa salah dan rapuh, bukan mesin yang sempurna.
Meski begitu, Sting tidak menutup mata pada ancaman yang lebih besar. Ia memperingatkan bahwa AI berpotensi menghancurkan ekonomi tenaga kerja. Pernyataan ini menyoroti kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pekerja kreatif tentang bagaimana otomatisasi dapat menggeser sumber penghidupan mereka.
Pandangan Sting sejalan dengan sikap vokalis Alter Bridge, Myles Kennedy, yang secara tegas menolak menggunakan AI dalam proses kreatif. Dalam wawancara dengan SiriusXM, Kennedy mengatakan bahwa menulis lagu adalah "perburuan harta karun" yang memuaskan, dan ia tidak mau "menipu" diri sendiri dengan jalan pintas teknologi. "Saya tidak akan pernah menggunakan AI sebagai alat menulis. Itu sama saja mengambil karya orang lain," tegasnya. Kennedy menambahkan bahwa proses menulis yang ia jalani selama sepuluh minggu terakhir memberinya kepuasan luar biasa, dan ia tidak akan menukarnya dengan lagu instan buatan mesin.
"AI tidak pernah patah hati, ia hanya meminjam cerita orang lain. Jadi Anda tidak sedang mendengarkan sebuah lagu." โ Sting
Di sisi lain, beberapa musisi seperti Boy George justru telah memanfaatkan AI untuk menghasilkan lagu. Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa industri musik tengah terbelah dalam menyikapi teknologi yang terus berkembang. Bagi Sting dan Kennedy, nilai sebuah karya terletak pada proses manusiawi yang penuh liku, bukan pada efisiensi mesin.
Bagi Indonesia, perdebatan ini bukan sekadar wacana di belahan dunia lain. Industri musik Tanah Air yang tengah tumbuh, dengan semakin banyak musisi indie dan pencipta lagu digital, perlu segera mengantisipasi gelombang AI. Perlindungan hak cipta dan regulasi yang jelas menjadi krusial agar kreativitas musisi lokal tidak tergerus oleh karya mesin yang dihasilkan tanpa izin. Selain itu, pelaku industri dapat memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti, untuk memperkaya proses kreatif tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan semakin canggih, melainkan sejauh mana manusia akan mempertahankan ruang bagi emosi dan kerentanan dalam seni. Jika penonton tetap mendambakan koneksi manusiawi, seperti keyakinan Sting, maka panggung konser akan tetap menjadi milik mereka yang berani menunjukkan luka dan cerita. Namun, tanpa payung hukum yang memadai, ekonomi kreatif bisa tergelincir ke tangan algoritma. Sudah siapkah ekosistem musik Indonesia menghadapi dilema ini?



