Jeremy Jacquet, Bek 21 Tahun yang Mencuri Sorotan di Balik Kemenangan Liverpool atas Bournemouth
Baca dalam 60 detik
- Liverpool menang 1-0 atas Bournemouth lewat gol Alexander Isak pada menit ke-57, memperpanjang rekor tak terkalahkan di awal musim.
- Di balik gol Isak, bek muda Jeremy Jacquet tampil impresif dengan akurasi umpan 88%, sembilan umpan menembus lini, dan enam pemulihan bola.
- Performa Jacquet memunculkan wacana bahwa ia bisa menjadi pemain paling berpengaruh Liverpool, melampaui Dominik Szoboszlai yang sedang tidak dalam performa terbaik.

Liverpool memetik kemenangan tipis 1-0 atas AFC Bournemouth di Vitality Stadium, Sabtu (6/9/2025), dalam laga terakhir sebelum jeda internasional. Gol tunggal Alexander Isak pada menit ke-57 sudah cukup membawa The Reds menjaga rekor tak terkalahkan di Premier League 2026/27, sekaligus memberi Andoni Iraola kemenangan di kandang mantan klubnya.
Isak memang menjadi pusat perhatian setelah mencetak gol kemenangan. Penyerang asal Swedia itu kini telah mengoleksi empat gol dalam lima pertandingan liga, melampaui total golnya musim lalu yang hanya tiga gol akibat badai cedera. Statistik pendukungnya pun menjanjikan: selain mencetak gol, ia menciptakan satu peluang dan melepaskan tiga umpan ke sepertiga akhir lapangan. Catatan ini menandakan bahwa pemain berusia 26 tahun itu mulai menemukan ketajamannya setelah dibeli dengan harga ยฃ125 juta.
Namun, di balik gemerlap gol Isak, ada sosok yang tampil tak kalah penting: bek tengah muda Jeremy Jacquet. Pemain berusia 21 tahun asal Prancis itu kembali menjadi starter dan menyelesaikan pertandingan dengan statistik mengesankan. Ia mencatatkan akurasi umpan 88%, sembilan di antaranya merupakan umpan menembus garis pertahanan lawan. Tanpa bola, Jacquet juga dominan dengan tiga tekel, enam pemulihan bola (terbanyak di antara bek Liverpool), dua intersep, dan dua sapuan. Tingkat keberhasilan duel daratnya mencapai 75%, membantu Liverpool mencatatkan clean sheet ketiga di liga musim ini.
Kemampuan Jacquet membangun serangan dari belakang sangat cocok dengan filosofi Iraola yang mengandalkan penguasaan bola dan transisi cepat. Kehadirannya memberi stabilitas di lini pertahanan yang sempat diragukan sebelum musim dimulai. Banyak pihak sebelumnya meragukan apakah pemain muda ini mampu beradaptasi dengan kerasnya Premier League, tetapi ia telah membuktikan diri sebagai salah satu bek paling menjanjikan di kompetisi ini.
Sementara itu, gelandang Dominik Szoboszlai yang biasanya menjadi motor serangan Liverpool tampil di bawah standar. Ia gagal mengulangi performa gemilangnya saat melawan Tottenham di Carabao Cup dan bahkan menerima kartu kuning. Penurunan performa Szoboszlai membuka ruang bagi pemain lain untuk bersinar, dan Jacquet memanfaatkannya dengan baik. Kini, muncul argumen bahwa bek muda itu telah mengambil alih status sebagai pemain paling berpengaruh di skuad Liverpool.
"Jacquet telah melampaui ekspektasi. Ia menunjukkan ketenangan dan kedewasaan yang jarang dimiliki pemain seusianya," ujar seorang analis Premier League.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, performa Jacquet menjadi pengingat bahwa investasi pada pemain muda dapat memberikan dampak instan, bahkan di liga seketat Premier League. Klub-klub Liga 1 yang tengah membangun fondasi tim bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya memberi kepercayaan kepada talenta muda, terutama di posisi krusial seperti bek tengah. Selain itu, keberhasilan Jacquet juga menegaskan bahwa adaptasi cepat bukan hal mustahil asalkan pemain memiliki kecerdasan taktik dan mental yang kuat.
Ke depan, tantangan bagi Jacquet adalah menjaga konsistensi. Liverpool akan menghadapi jadwal padat dengan laga-laga berat di liga dan Eropa. Jika ia mampu mempertahankan performa, bukan tidak mungkin ia menjadi pilar utama The Reds dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, Isak perlu terus membuktikan bahwa ketajamannya bukan sekadar kebetulan. Pertanyaannya, akankah Iraola mampu mengelola ekspektasi tinggi terhadap kedua pemain ini dan mengantarkan Liverpool meraih trofi musim ini?



