Klopp Panggil 44 Pemain, Para Pendatang Baru Jerman Unjuk Gigi di Pekan Keempat
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Jerman, Jürgen Klopp, memanggil 44 pemain untuk memperluas basis seleksi menjelang jeda internasional.
- Sejumlah debutan potensial seperti Younes Ebnoutalib, Derry Scherhant, dan Saïd El Mala tampil menonjol di Matchday 4 dengan kontribusi gol dan statistik impresif.
- Performa para pemain muda ini menjadi sinyal positif bagi regenerasi Timnas Jerman sekaligus menambah opsi Klopp untuk kualifikasi Piala Dunia 2026.

Pelatih baru Timnas Jerman, Jürgen Klopp, mengejutkan publik sepak bola Jerman dengan memanggil 44 pemain untuk pemusatan latihan menjelang jeda internasional. Langkah ini diambil untuk memetakan sebanyak mungkin talenta sebelum laga kompetitif. Dampaknya langsung terasa pada Matchday 4 Bundesliga: para pemain yang baru pertama kali dipanggil tampil dengan motivasi berlipat, seolah ingin membuktikan diri kepada sang pelatih.
Di antara mereka, Younes Ebnoutalib menjadi sorotan. Penyerang Eintracht Frankfurt berusia 23 tahun itu mencetak gol pembuka dalam laga imbang 2-2 melawan Freiburg. Gol tersebut membuatnya sejajar dengan Michael Olise (Bayern Munich) di puncak daftar top skor sementara Bundesliga dengan empat gol. Menariknya, Ebnoutalib memiliki efisiensi xG 1,05, artinya ia telah mencetak satu gol lebih banyak dari ekspektasi statistik. Selain penyelesaian akhir, ia juga menunjukkan etos kerja tinggi dengan menempuh jarak 11,29 km dan melakukan 18 sprint—terbanyak di timnya—sebagian besar berasal dari pressing agresif terhadap bek lawan.
Di kubu Freiburg, Derry Scherhant juga mencuri perhatian. Meski ditarik keluar pada menit ke-71, pemain sayap 23 tahun itu mencatatkan lima tembakan dan tiga umpan silang dari permainan terbuka—terbanyak di pertandingan tersebut—serta menyumbang satu gol dan satu assist dalam hasil imbang 2-2. “Ini mimpi yang menjadi kenyataan,” ujarnya kepada Bundesliga usai laga. “Saya sangat senang. Panggilan ini memberi saya dorongan ekstra. Saya tak sabar bergabung dengan tim nasional.”
Saïd El Mala dari Cologne juga tak mau kalah. Pemain 20 tahun yang sebelumnya dipanggil Julian Nagelsmann namun belum debut itu tampil mencolok saat timnya kalah 1-2 dari Hamburg. Ia melepaskan empat tembakan, menciptakan tiga peluang, memenangkan 30 duel, dan melakukan 20 sprint—semuanya tertinggi di antara pemain Cologne. Akurasi umpan 75% tergolong baik untuk pemain yang sering mengambil risiko di sepertiga akhir. Kombinasi kreativitas dan kerja keras membuatnya cocok dengan gaya Klopp.
Di posisi kiper, Noah Atubolu menunjukkan kualitasnya. Meski Frankfurt memiliki rekor pertahanan terburuk keempat di Bundesliga (10 gol kebobolan), kehadiran Atubolu sangat krusial. Menghadapi klub induknya, Freiburg, ia dihujani 19 tembakan, dengan tujuh mengarah ke gawang. Atubolu menyelamatkan lima di antaranya (save rate 71,43%) dan membantu Frankfurt meraih hasil imbang 2-2.
Sementara itu, Felix Keidel dari Elversberg bermain penuh di lini tengah saat timnya menahan imbang sesama promosi Schalke 0-0. Ia menempuh jarak 11,4 km—terjauh di timnya—dan berharap fleksibilitasnya sebagai gelandang serbaguna (juga bisa bermain di pertahanan) mempercepat debutnya di tim senior Jerman.
Terakhir, Bambasé Conté dari Hoffenheim tak mampu menghindarkan timnya dari kekalahan melawan Paderborn. Hoffenheim melepaskan 19 tembakan tidak tepat sasaran. Meski kalah, kreativitas Conté tetap terlihat: ia melepaskan tujuh tembakan (terbanyak di tim) dan mencatat efisiensi umpan terbaik (3,4).
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana pelatih top dunia seperti Klopp membangun fondasi tim nasional dengan memberi kesempatan kepada pemain muda dan pemain dari klub kecil. Pendekatan ini bisa menjadi pelajaran bagi Timnas Indonesia yang tengah menggenjot regenerasi dan naturalisasi. Dengan kualifikasi Piala Dunia 2026 di depan mata, persaingan di skuad Jerman akan semakin ketat, dan para pemain muda ini memiliki peluang emas untuk mengamankan tempat. Mampukah mereka konsisten hingga jendela internasional berikutnya?



