Waspada Modus Penipuan Kurir Palsu via iMessage: Kerugian Capai Rp12 Miliar di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 251 kasus penipuan kurir palsu via iMessage dilaporkan di Singapura sejak Juni, dengan total kerugian mencapai S$1,2 juta.
- Penipu memanfaatkan celah keamanan iMessage dengan meminta korban membalas 'Y' atau '1' untuk mengaktifkan tautan berbahaya.
- Masyarakat Indonesia perlu waspada terhadap modus serupa yang mungkin menyasar pengguna layanan kurir domestik.

Kepolisian Singapura baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius terkait maraknya penipuan yang menyamar sebagai perusahaan kurir ternama seperti DHL, Ninja Van, dan J&T Express. Modus ini memanfaatkan layanan pesan instan iMessage milik Apple untuk mengelabui korban, dengan total kerugian yang dilaporkan mencapai S$1,2 juta atau sekitar Rp12 miliar hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.
Sejak 24 Juni lalu, sedikitnya 251 kasus telah tercatat. Para pelaku mengirim pesan yang tampak resmi, memberitahukan bahwa paket gagal dikirim karena alamat tidak valid. Korban kemudian diarahkan untuk memperbarui alamat melalui tautan yang menyerupai situs resmi kurir, lengkap dengan tenggat waktu yang mendesak. Dalam beberapa kasus, pesan tersebut bahkan menyertakan nomor telepon layanan bantuan lokal untuk meyakinkan korban.
Yang menarik, para penipu ini meminta korban untuk membalas pesan dengan kata 'Y' atau '1'. Taktik ini diduga untuk melewati fitur keamanan bawaan iMessage yang mencegah pengguna mengklik tautan sebelum berinteraksi dengan pengirim. Setelah korban merespons, tautan menjadi aktif dan mengarahkan mereka ke situs web palsu yang meniru halaman resmi kurir, lengkap dengan permintaan pembayaran 'biaya pengiriman ulang'.
Di situs palsu tersebut, korban diminta memasukkan detail kartu kredit dan informasi internet banking, serta mengotorisasi transaksi dengan token digital. Dalam beberapa kasus, kartu kredit korban kemudian ditautkan ke Google Pay atau Apple Pay tanpa sepengetahuan mereka. Lebih mengkhawatirkan lagi, token digital perbankan korban dapat diatur pada perangkat asing setelah korban tertipu memberikan kata sandi sekali pakai (OTP). Banyak korban baru menyadari telah ditipu setelah melihat transaksi tak sah di rekening mereka.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa perusahaan kurir resmi tidak pernah menggunakan iMessage untuk menghubungi pelanggan. Mereka biasanya berkomunikasi melalui SenderID terdaftar yang dapat diverifikasi publik di situs SMS Registry Singapura. Ninja Van, misalnya, menggunakan halaman bisnis terverifikasi di Facebook Messenger dan Telegram, serta bekerja sama dengan WhatsApp Business. Sementara J&T Express Singapura mengandalkan SMS, WhatsApp, dan email, dan tidak pernah memungut biaya pengiriman ulang.
Bagi masyarakat Indonesia, modus serupa patut diwaspadai mengingat tingginya penggunaan layanan kurir domestik seperti JNE, J&T, dan SiCepat. Meski laporan kasus di Indonesia belum setinggi Singapura, pola penipuan ini bisa dengan mudah diadaptasi oleh pelaku kejahatan siber lokal. Penting untuk selalu memverifikasi keaslian pesan yang mengatasnamakan kurir, terutama yang meminta pembayaran atau data pribadi.
Polisi Singapura merekomendasikan pengguna iPhone untuk mengaktifkan fitur 'Filter Unknown Senders' dan 'Filter Spam' di pengaturan iMessage, serta melaporkan pesan mencurigakan melalui fungsi pelaporan dalam aplikasi. Masyarakat juga diimbau untuk tidak mudah tergiur dengan tautan yang dikirim melalui pesan singkat, dan selalu menghubungi layanan pelanggan resmi kurir jika ragu.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat platform seperti Apple akan menutup celah yang dimanfaatkan penipu ini, dan apakah pengguna di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan menjadi sasaran berikutnya. Kewaspadaan dan edukasi publik menjadi kunci untuk menekan angka kejahatan siber yang terus berevolusi ini.



