Pragmata Tembus 2 Juta Kopi, Sutradara Ogah Tutup Peluang Sekuel
Baca dalam 60 detik
- Pragmata, gim anyar Capcom, terjual lebih dari 2 juta kopi dalam sebulan sejak April 2026.
- Sutradara Yonghee Cho secara terbuka menyatakan keinginannya menggarap Pragmata 2, meski keputusan akhir ada di tangan Capcom.
- Prospek sekuel bergantung pada strategi Capcom dalam memperluas waralaba, dengan potensi dampak pada pasar gim global termasuk Indonesia.

Capcom tengah dihadapkan pada dilema manis: Pragmata, gim terbaru mereka yang dirilis April lalu, sukses besar dengan torehan lebih dari 2 juta kopi terjual. Tak heran jika spekulasi mengenai kelanjutan waralaba ini langsung mencuat, terutama setelah sang sutradara secara blak-blakan menyatakan ambisinya untuk membuat sekuel.
Dalam wawancara dengan GamesRadar, sutradara Yonghee Cho dan produser Naoto Oyama ditanya soal kemungkinan Pragmata 2. Oyama, yang mewakili sisi hati-hati Capcom, memilih menjawab diplomatis. Ia mengaku belum bisa memikirkan masa depan karena fokus utamanya saat ini adalah memperkenalkan Pragmata ke sebanyak mungkin pemain. "Yang penting sekarang adalah membuat orang menikmati Pragmata dulu," katanya.
Sebaliknya, Cho tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. "Tentu saya ingin melihat sekuel. Tapi saya bukan satu-satunya yang memutuskan, jadi sayangnya saya tidak bisa berkomentar lebih jauh," ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa secara kreatif, tim pengembang sudah siap melangkah lebih jauh, namun keputusan akhir tetap berada di meja eksekutif Capcom.
Kesuksesan Pragmata menjadi modal berharga bagi Capcom untuk mempertimbangkan Pragmata 2. Namun, keputusan tersebut tak semata-mata didasarkan pada angka penjualan. Analis industri menilai Capcom akan mengkaji faktor lain seperti biaya produksi, potensi kanibalisasi dengan waralaba lain, serta kesiapan pasar. Bagi Capcom, Pragmata bukan sekadar gim, melainkan investasi jangka panjang yang harus dikelola hati-hati.
Bagi pasar gim Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Indonesia merupakan salah satu pasar gim terbesar di Asia Tenggara dengan basis pemain yang terus bertumbuh. Jika Capcom memutuskan untuk melanjutkan Pragmata, bukan tidak mungkin strategi pemasaran dan lokalisasi akan menyasar lebih agresif ke Indonesia. Sebaliknya, jika sekuel batal, para penggemar Tanah Air harus puas dengan konten tambahan atau ekspansi dari gim pertama.
Pertanyaan yang tersisa: akankah Capcom mengambil risiko menggarap sekuel di tengah ketidakpastian industri gim global, atau justru memilih mengamankan posisi dengan fokus pada pengembangan waralaba lain yang sudah mapan? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, ketika data penjualan jangka panjang Pragmata mulai terkumpul.



