Cetak Ramah Lingkungan Terbukti Tak Kalah Kualitas: Riset Jepang Buka Jalan Adopsi Lebih Luas
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan percetakan di Sendai, Jepang, bersama Toray Industries, berhasil membuktikan secara ilmiah bahwa metode cetak tanpa air (waterless) menghasilkan kualitas setara atau lebih baik dari metode basah konvensional.
- Pengujian menggunakan fasilitas sinkrotron NanoTerasu menunjukkan cetakan waterless bebas dari variasi ketidakrataan dan blur yang kerap terjadi pada metode basah, menjawab keraguan industri selama ini.
- Meski investasi awal dan biaya material lebih tinggi, efisiensi kontrol kualitas dan kemudahan pelatihan tenaga kerja di tengah krisis SDM menjadi nilai tambah yang bisa mendorong adopsi massal.

Sebuah terobosan di dunia percetakan datang dari Jepang: metode cetak ramah lingkungan yang dikenal sebagai waterless printing akhirnya mendapatkan bukti ilmiah bahwa kualitasnya tak kalah, bahkan lebih unggul, dari teknik konvensional. Temuan ini dipublikasikan oleh perusahaan percetakan Konno Printing Co. yang berbasis di Sendai, bekerja sama dengan raksasa kimia Toray Industries dan fasilitas riset sinkrotron NanoTerasu.
Selama ini, industri percetakan global didominasi oleh metode offset basah (wet printing) yang menggunakan air pembasah mengandung pelarut organik untuk menolak tinta di area non-gambar. Metode ini dianggap menghasilkan lebih banyak limbah cair dan rawan menyebabkan keburaman atau bleeding karena ketidakstabilan volume air. Sebaliknya, waterless printing mengandalkan lapisan silikon untuk fungsi serupa, sehingga lebih ramah lingkungan dan secara teoritis menghasilkan cetakan lebih tajam. Namun, tanpa data kuantitatif, klaim tersebut hanya berdasarkan pengalaman empiris.
Eksperimen yang memanfaatkan fasilitas NanoTerasu—sebuah akselerator partikel generasi terbaru—memungkinkan pengamatan pada skala nanometer. Konno Printing menggunakan skema dari Federasi Ekonomi Tohoku yang memudahkan usaha kecil-menengah mengakses teknologi canggih tersebut. Hasilnya, perbandingan langsung antara dua metode cetak mengonfirmasi bahwa waterless printing unggul dalam konsistensi kualitas, tanpa variasi yang mengganggu.
Presiden Konno Printing, Ryuichi Hashiura, dalam konferensi pers menegaskan bahwa stabilitas kualitas ini menjadi kekuatan utama. “Kami berhasil mendukung pengetahuan empiris dengan data,” ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa meskipun investasi awal dan biaya material lebih tinggi, metode ini justru dapat menekan biaya kontrol kualitas dan mengurangi beban kerja teknisi. Di tengah kelangkaan tenaga kerja terampil di Jepang, pelatihan operator waterless dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Bagi Indonesia, temuan ini membuka peluang adopsi teknologi percetakan yang lebih hijau. Industri percetakan dalam negeri, yang sebagian besar masih menggunakan metode basah, menghadapi tantangan serupa: limbah cair dan ketergantungan pada tenaga kerja berpengalaman. Jika biaya investasi dapat ditekan melalui kemitraan atau insentif pemerintah, waterless printing bisa menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing sekaligus memenuhi standar lingkungan yang semakin ketat. Pertanyaannya, mampukah pelaku industri lokal mengambil langkah serupa dengan yang dilakukan Konno Printing?



