Pelari Amatir Asal Inggris Selesaikan 100 Marathon dalam 100 Hari di India, Berawal dari Obsesi Pagar Raksasa
Baca dalam 60 detik
- Hannah Cox, yang baru mulai berlari 18 bulan lalu, menuntaskan 100 marathon berturut-turut sepanjang 4.200 km di India untuk menggalang dana lingkungan.
- Proyek Salt Run ini terinspirasi dari sejarah jalur pajak garam era kolonial Inggris, sekaligus menjadi bentuk rekonsiliasi dengan mendiang ayahnya.
- Cox kehilangan lebih dari 10 kg berat badan dan harus berutang pribadi untuk mendanai ekspedisi, namun berhasil menyelesaikan tantangan tanpa cedera kaki berarti.

Hannah Cox, seorang wanita berusia 41 tahun dari Manchester, Inggris, baru menorehkan prestasi luar biasa di dunia lari jarak jauh. Hanya 18 bulan setelah pertama kali memakai sepatu lari, ia berhasil menyelesaikan 100 marathon dalam 100 hari berturut-turut di India. Perjalanan epik ini bukan sekadar soal ketahanan fisik, melainkan juga misi personal untuk mengenang sang ayah dan mengumpulkan dana sebesar Β£1 juta bagi lembaga amal lingkungan.
Ide gila ini bermula dari obsesi Cox terhadap sebuah pagar raksasa bersejarah. Setelah ayahnya meninggal pada 2011, ia semakin tertarik pada warisan India dan rute sepanjang 4.200 km yang digunakan Inggris pada abad ke-19 untuk memberlakukan pajak garam. Rute itu mencakup Great Hedge of India, sebuah pagar tanaman raksasa yang menjadi simbol penindasan. Saat bertemu temannya pada musim panas 2024, temannya bertanya, "Apa kau masih terobsesi dengan pagar itu?" dan menyarankan agar ia menempuhnya dengan berlari. Cox pun bergabung dengan klub lari setempat, berlatih dari 30 menit tiga kali seminggu hingga mampu menjalani tantangan "20 20 20" β berlari 20 km setiap hari kerja selama 20 hari.
Pada 26 Oktober 2024, Cox memulai perjalanannya dari perbatasan Attari-Wagah menuju Kolkata, dekat tempat kelahiran ayahnya. Ia ditemani tim kecil berisi empat orang: seorang pendukung lari, sopir, asisten, dan seorang podiatris β yang disebutnya sebagai senjata rahasia. Sepanjang rute, ia menghadapi kondisi ekstrem: jalan raya yang membosankan, jalur alam, kanal, ladang petani, serta lalu lintas kendaraan yang kerap melaju di jalur salah. Ia bahkan harus dikawal polisi saat melewati daerah rawan serangan harimau. Cuaca panas, debu, dan polusi menjadi tantangan harian, ditambah penyakit yang menyebabkan berat badannya turun lebih dari 10 kg.
Salah satu momen paling tak terlupakan terjadi pada hari ke-24, saat Cox bertemu Richard Branson di Taj Mahal. Branson mengundangnya makan malam, namun Cox malah muntah-muntah karena sakit. Keesokan harinya, lima peserta acara amal Branson ikut berlari bersamanya meskipun ia tetap sakit sepanjang hari. "Saya harus menyelesaikannya," ujarnya. Meski bersinggungan dengan miliarder, Cox menegaskan bahwa proyek ini bukan tentang kemewahan. "Ini soal komunitas dan dukungan akar rumput," katanya. Psikolog olahraga Amy Whitehead menambahkan bahwa otonomi tinggi, dukungan sosial, dan kompetensi adalah kunci motivasi dalam tantangan semacam ini.
Cox mendanai ekspedisi ini dengan pinjaman pribadi yang masih harus dilunasi. Ia juga terus menggalang dana untuk mencapai target Β£1 juta bagi empat lembaga amal lingkungan. Setelah menyelesaikan 100 marathon, ia tetap berlari dan mengikuti Brighton Marathon serta London Marathon pada April lalu. Ironisnya, ia justru lebih gugup menghadapi marathon kota dibanding petualangan di India. "Di India, saya bersama teman-teman dengan misi inti. Brighton dan London terasa seperti saya sendirian," ungkapnya. Bagi Cox, Project Salt Run adalah "surat cinta yang sangat terlambat" untuk ayahnya, sebuah cara untuk mengakhiri hubungan rumit yang pernah ia miliki.
Ke depannya, Cox berharap kisahnya bisa menginspirasi banyak orang untuk berani mengambil langkah besar, sekaligus meningkatkan kesadaran akan isu lingkungan. Meskipun secara finansial masih terpuruk, semangatnya tidak surut. "Saya merasa alam semesta seperti berkata, 'Kau harus melakukan ini'," pungkasnya.



