Hery Gunardi Ungkap Cita-Cita Masa Kecil: Ingin Jadi Bankir dan Insinyur
Baca dalam 60 detik
- Dirut BRI Hery Gunardi mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi bankir dan insinyur, dua profesi yang dinilainya sama-sama mulia.
- Pengalaman awal kariernya di Bapindo dan keterlibatannya dalam tim merger pembentukan Bank Mandiri menjadi fondasi penting perjalanan profesionalnya.
- Kisah ini disampaikan dalam Jogja Financial Festival, menyoroti nilai pelayanan dan dampak sosial dari profesi perbankan.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Hery Gunardi, menceritakan perjalanan hidupnya yang sejak kecil telah terinspirasi untuk menjadi seorang bankir. Pengakuan ini disampaikan dalam acara education class di Jogja Financial Festival yang digelar di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).
Hery mengungkapkan bahwa sejak usia dini ia memiliki dua cita-cita utama: menjadi bankir dan menjadi insinyur. Menurutnya, kedua profesi tersebut memiliki nilai luhur karena memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia menganalogikan insinyur sebagai sosok yang membangun infrastruktur seperti jembatan dan jalan, yang secara langsung mempermudah kehidupan orang banyak. Sementara itu, bankir dipandangnya sebagai pengelola dana nasabah yang kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit, terutama kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan sektor ultramikro.
"Bankir itu tugasnya mulia. Menjaga dan mengelola uang nasabah, lalu meminjamkannya kepada yang membutuhkan. Apalagi jika kredit itu membantu pelaku UMKM, dampaknya sangat besar," ujar Hery di hadapan para wirausahawan yang hadir.
Dalam sesi tersebut, Hery juga membeberkan awal kariernya di dunia perbankan. Ia memulai langkah profesionalnya di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Namun, krisis moneter 1998 memaksa bank tersebut merger dengan Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank BDN menjadi Bank Mandiri. Saat itu, Hery mendapat tugas istimewa: menjadi bagian dari tim inti yang membantu proses merger. Ia bekerja langsung di bawah tokoh-tokoh perbankan kenamaan seperti Robby Djohan dan Agus Martowardojo.
"Saya tidak menyangka mengapa atasan menunjuk saya masuk ke tim merger. Mungkin ini sudah garis tangan. Saya menjadi anggota termuda di tim inti, dan pengalaman itu sangat berharga," kenang Hery.
Keterlibatan dalam merger Bank Mandiri menjadi batu loncatan penting yang membentuk pemahamannya tentang industri perbankan nasional. Pengalaman tersebut mengajarinya tentang kompleksitas restrukturisasi dan pentingnya kolaborasi di tengah krisis.
Kisah Hery Gunardi menjadi inspirasi bahwa cita-cita yang dipegang sejak kecil, jika dijalani dengan dedikasi, dapat membawa seseorang ke puncak karier. Perjalanannya dari bankir muda di Bapindo hingga memimpin BRI menunjukkan bahwa profesi perbankan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk melayani dan membangun negeri.



