Dominasi Sinner di Prancis Terbuka: Mampukah Lawan Menghentikan Petenis Italia Itu?
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner memasuki Prancis Terbuka 2025 dengan rekor 29 kemenangan beruntun dan status unggulan teratas setelah rival utamanya, Carlos Alcaraz, absen karena cedera.
- Dominasi Sinner di turnamen Masters 1000 musim ini—menjuarai Monte Carlo, Madrid, dan Roma—menegaskan penguasaannya di lapangan tanah liat, membuatnya difavoritkan meraih gelar Grand Slam perdana di Roland Garros.
- Meski Novak Djokovic masih dianggap sebagai ancaman terbesar, faktor kelelahan dan cuaca panas di Paris berpotensi menjadi hambatan serius bagi laju Sinner menuju gelar juara.

Jannik Sinner akan menjadi pusat perhatian saat Prancis Terbuka 2025 dimulai akhir pekan ini. Petenis nomor satu dunia asal Italia itu datang dengan status favorit terkuat setelah hanya menelan dua kekalahan dari 38 pertandingan sepanjang musim ini. Absennya Carlos Alcaraz, rival generasinya, karena cedera pergelangan tangan membuat peta persaingan di sektor tunggal putra semakin timpang.
Sinner telah memenangi 29 pertandingan beruntun, sebuah rentetan yang hanya pernah dilampaui oleh dua petenis lain menjelang Prancis Terbuka. Ia juga menyapu bersih tiga turnamen Masters 1000 di atas tanah liat—Monte Carlo, Madrid, dan Roma—menjadikannya petenis pertama yang meraih 'Career Golden Masters' dengan mengoleksi seluruh sembilan gelar Masters 1000. Performa ini membuatnya dijagokan menjadi petenis ke-10 dalam sejarah yang menyelesaikan Grand Slam karier, setelah sebelumnya menjuarai Australia Terbuka (dua kali), Wimbledon, dan AS Terbuka.
Nilai Strategis: Sinner hanya kalah dari Novak Djokovic di semifinal Australia Terbuka 2025 dan Jakub Mensik di Doha. Ia juga memegang rekor 72 pekan sebagai petenis nomor satu dunia. Kemenangan di Roma pekan lalu melengkapi koleksi gelar Masters 1000-nya, sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya diraih oleh Novak Djokovic dan Rafael Nadal.
Novak Djokovic, yang kini berusia 39 tahun, dianggap sebagai satu-satunya petenis yang secara historis mampu mengalahkan Sinner di turnamen besar. Namun, fisik Djokovic di atas tanah liat masih dipertanyakan. Sementara itu, unggulan kedua Alexander Zverev tampak inferior saat dikalahkan Sinner 6-1, 6-2 di final Madrid. Unggulan keempat Felix Auger-Aliassime dan unggulan ketujuh Taylor Fritz juga belum menunjukkan performa terbaik mereka musim ini.
"Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah bermain terbaik selama tiga set, mungkin empat atau lima set," ujar Daniil Medvedev, yang menjadi satu-satunya petenis yang merebut satu set dari Sinner di Roma. "Anda harus berlari, kuat, servis bagus, dan pengembalian bagus. Semuanya harus berada di level tertinggi."
Casper Ruud, dua kali finalis Roland Garros, mengakui bahwa Sinner tidak memberi celah sedikit pun. "Setiap pukulan harus mendekati sempurna," katanya setelah dikalahkan Sinner di final Roma. Namun, ada faktor lain yang bisa menjadi batu sandungan: kelelahan. Sinner tampak sakit saat melawan Medvedev di Roma, dan ia pernah kram hebat saat suhu mencapai 40 derajat Celsius di Australia Terbuka. Dengan prakiraan cuaca Paris yang mencapai 30 derajat setiap hari, kondisi panas bisa menjadi lawan terberat Sinner.
Petenis di luar 10 besar seperti Arthur Fils (cedera pinggul) dan Rafael Jodar (kalah dari Sinner di Madrid) belum cukup matang untuk memberikan perlawanan berarti. Dengan demikian, dominasi Sinner di Prancis Terbuka tampaknya hanya bisa digoyahkan oleh faktor eksternal, bukan oleh lawan di lapangan.



