Dony Oskaria Targetkan Laba BUMN Tembus Rp 450 Triliun pada 2029, Bantah Anggapan Perusahaan Negara Merugi
Baca dalam 60 detik
- Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria memproyeksikan laba bersih BUMN mencapai Rp 450 triliun pada 2029, naik signifikan dari perkiraan Rp 360 triliun tahun ini.
- Kontribusi BUMN ke APBN mencapai sepertiga, terdiri dari dividen dan pajak; pada 2025 laba tercatat Rp 335 triliun dengan pajak Rp 215 triliun.
- Dony mengkritik pengelolaan BUMN yang terfragmentasi sebelum era Danantara, sehingga laba perusahaan sehat tidak bisa digunakan untuk menyelamatkan BUMN bermasalah seperti PT INTI dan Krakatau Steel.

Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, membeberkan target ambisius peningkatan laba badan usaha milik negara dalam pidatonya di Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5/2026). Ia menargetkan keuntungan BUMN mencapai Rp 450 triliun pada 2029, atau meningkat hampir 34% dari perkiraan laba tahun ini sebesar Rp 360 triliun. Target tersebut sekaligus membantah anggapan publik bahwa BUMN kerap merugi.
Dalam paparannya, Dony menegaskan bahwa kontribusi BUMN terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai sepertiga dari total penerimaan negara, baik melalui dividen maupun pajak. Data tahun 2025 menunjukkan laba BUMN mencapai Rp 335 triliun dengan setoran pajak Rp 215 triliun. "Jadi BUMN kita sangat powerful. Tidak benar kalau banyak yang membaca BUMN tidak pernah untung. Itu keliru," ujarnya.
Namun, Dony juga menyoroti kelemahan struktural dalam pengelolaan BUMN di masa lalu. Sebelum dibentuknya BPI Danantara, masing-masing BUMN dikelola secara independen tanpa mekanisme solidaritas keuangan antarperusahaan. Akibatnya, BUMN yang mengalami kesulitan tidak bisa mendapat suntikan dana dari laba BUMN lain yang sehat. "Labanya Pak Hery di BRI, labanya Pak Anggoro di BSI, Pak Nixon di BTN tidak bisa digunakan untuk membantu perusahaan lain," jelas Dony.
Mantan Wakil Menteri BUMN itu mencontohkan beberapa BUMN ikonik yang kini terpuruk karena ketiadaan mekanisme penyelamatan terpadu. PT INTI (Bandung), Jakarta Lloyd, dan Krakatau Steel disebut sebagai perusahaan yang dulu besar namun kini menghadapi ancaman penutupan. "Karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dengan BUMN lain, sulit melakukan perbaikan," tegasnya.
Kehadiran BPI Danantara sebagai induk holding diharapkan mampu mengubah paradigma tersebut. Dengan pengelolaan terintegrasi, laba BUMN yang sehat dapat dialokasikan untuk restrukturisasi BUMN bermasalah, sehingga target laba agregat Rp 450 triliun pada 2029 bukan sekadar angka, melainkan cerminan efisiensi dan sinergi portofolio BUMN.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan transparansi dan tata kelola yang baik dalam pengelolaan dana antar-BUMN. Jika berhasil, target tersebut tidak hanya akan memperkuat fiskal negara, tetapi juga membuktikan bahwa BUMN mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.



